Pukul enam pagi di sebuah kompleks perumahan Islami yang tenang di pinggiran Banjarmasin. Udara masih sejuk, dan kabut tipis khas Kalimantan Selatan masih enggan beranjak dari atas Sungai Martapura yang tak jauh dari sana. Di rumah bercat krem dengan aksen hijau toska, yang dikenal warga sebagai rumah paling sering didatangi kurir, kehidupan sudah dimulai dengan ritme yang sedikit berbeda dari tetangga lainnya.
Bukan suara ayam berkokok yang membangunkan keluarga Levℛyley pagi itu, melainkan bunyi notifikasi "Pesanan Anda Telah Tiba di Drop Point Setempat" dari aplikasi belanja online di ponsel Anindya Putri.
"Astaghfirullah, Mas Lev!" seru Anindya sambil melompat dari tempat tidur, jilbab instan berwarna dusty pink langsung tersampir rapi di kepalanya. "Paket kita sudah sampai di Banjarmasin! Mungkin hari ini sudah diantar!"
Levℛyley, sang kepala keluarga yang sedang khusyuk membaca Al-Qur'an setelah salat Subuh, hanya bisa menggeleng maklum. Istrinya ini memang luar biasa semangat kalau sudah menyangkut urusan ekspedisi.
"Sabar, Bu Anindya sayang," ujar Levℛyley lembut, menutup mushafnya. "Banjarmasin ini luas, dari drop point ke rumah kita masih butuh proses sorting. Salat Duha dulu, biar rezeki lancar, paket pun selamat sampai tujuan."
Anindya cemberut sedikit, tapi langsung tersenyum lagi. "Ide bagus, Mas. Doakan semoga skincare halal yang aku pesan kemarin tidak pecah di jalan. Rating tokonya bintang lima, review-nya bagus, SEO-nya mantap, tapi kan namanya juga ekspedisi."
Di lantai atas, suasana juga sudah ramai. Aisyah Humaira, si sulung yang sedang menempuh semester lima di PGSD Universitas Lambung Mangkurat (ULM), sudah rapi dengan kemeja dan rok panjangnya. Ia sedang memasukkan buku-buku mata kuliah ke dalam tasnya sambil sesekali melirik ponselnya. Bukan notifikasi belanja, melainkan grup diskusi tugas kuliah yang tak ada habisnya.
Aisyah dikenal sebagai mahasiswa teladan yang aktif berorganisasi. Karakternya yang tenang sering kali menjadi penyeimbang bagi kegilaan belanja di rumahnya. Baginya, belanja online adalah kebutuhan efisiensi waktu, bukan hobi.
"Kak Aisyah, lihat deh! Seragam sekolah baru aku, aku checkout semalam. Diskonnya 50 persen di live shopping!" Tiba-tiba Ghina Qalbi, anak ketiga yang baru masuk SMP Islam terpadu, sudah berdiri di ambang pintu kamar Aisyah dengan semangat, mengenakan piyama bergambar karakter lucu.
Aisyah tersenyum. "Ghina, kan seragam sekolah kita sudah cukup. Kenapa beli lagi?"
"Ini beda, Kak! Yang ini bahannya katun Jepang, lebih adem buat cuaca Banjarmasin yang kadang panas menyengat. Review-nya bilang ini bahan ternyaman untuk aktivitas outdoor," jawab Ghina fasih, seolah-olah dia adalah seorang sales profesional. Darah influencer belanja Anindya memang mengalir deras padanya.
Sementara itu, Maryam Safiya, anak kedua yang kalem dan bersekolah di SMA Islam, sedang asyik melukis di buku sketsanya di sudut ruang keluarga. Gadis pendiam ini jarang terlibat dalam hiruk pikuk belanja, kecuali jika itu terkait alat lukis atau buku sastra langka yang hanya bisa ditemukan di toko buku online.
Dan si bungsu, Rayyan Zuhayr, bocah SD Islam yang polos, sedang serius menyusun miniatur masjid dari balok kayu edukasi yang baru dibelikan ibunya via online. Di pikirannya hanya ada bagaimana cara membangun masjid terbesar di dunia Minecraft-nya.
"Semua, sarapan! Hari ini Ibu masak Nasi Kuning khas Banjar pakai ikan haruan!" panggil Anindya dari dapur. Suasana rumah langsung dipenuhi aroma harum kunyit dan santan yang menggugah selera.
Saat keluarga berkumpul di meja makan, Levℛyley memimpin doa makan. Kehidupan mereka memang Islami dalam setiap aspeknya, dari cara berpakaian yang syar'i, pemilihan sekolah anak-anak, hingga adab makan bersama.
"Nanti sepulang kuliah, Kak Aisyah tolong bantu Ibu unboxing paket besar ya. Kayaknya isinya karpet sajadah untuk musala komplek yang kita pesan kemarin," pinta Anindya di sela-sela makan.
"Siap, Bu," jawab Aisyah patuh. "Sekalian Aisyah mau cek toko buku dekat kampus, cari referensi buku metode pengajaran PGSD terbaru. Kalau nggak ada, ya terpaksa checkout online lagi."
Di luar rumah, di jalan komplek yang rapi, sebuah sepeda motor berwarna oranye dengan kotak besar di belakangnya mulai memasuki area perumahan mereka.
"Sepertinya pagi ini akan ada drama pengiriman lagi," gumam Levℛyley sambil melirik jam tangannya, bersiap menghadapi kenyataan bahwa "Gang Paket" – julukan baru untuk gang mereka di kalangan kurir – akan kembali ramai.
Bagi keluarga Levℛyley, Banjarmasin bukan hanya kota seribu sungai, tapi juga kota seribu paket yang mengantarkan kebahagiaan digital setiap harinya. Babak pertama komedi keluarga Islami ini baru saja dimulai.
