Udara pagi Paris selalu membawa aroma khas: campuran buttery dari croissant yang baru keluar dari oven di boulangerie sudut jalan, kopi espresso yang kuat dari kafe seberang, dan sedikit kelembapan Sungai Seine yang mengalir tenang. Di Rue Jean-Pierre Timbaud, di arondisemen ke-11 yang multikultural, aroma-aroma itu berpadu dengan aroma minyak gaharu dan wewangian musk yang lembut dari apartemen keluarga Al-Fikri.
Pukul 06.30 pagi adalah waktu dimulainya "sirkus" pagi di kediaman Imran dan Aisha.
Imran Al-Fikri, kepala keluarga yang berusia awal empat puluhan dengan janggut rapi dan senyum tulus, sudah siap dengan sajadahnya. Ia baru saja menyelesaikan salat Subuh berjamaah bersama dua putranya di ruang tamu yang dihias minimalis, memadukan seni kaligrafi Arab dengan furnitur Prancis modern. Imran adalah seorang arsitek sukses yang karyanya menghiasi beberapa sudut kota Paris, tetapi di rumah, ia adalah seorang ayah sekaligus fanboy rahasia.
Pagi itu, Imran sedang berdiri di depan cermin, bukan untuk merapikan peci, melainkan untuk melatih ekspresi wajahnya.
"Apakah ini terlihat cukup mengintimidasi tapi tetap ramah lingkungan?" gumamnya pada bayangannya sendiri, sambil melenturkan otot bisepnya sedikit. Ia sedang meniru pose khas Dwayne "The Rock" Johnson.
Aisha Rahman, istrinya yang elegan dan pragmatis, muncul dari dapur sambil melilitkan hijab sutra berwarna emerald green dengan cekatan. Dia melihat ulah suaminya melalui pantulan cermin.
"Imran, chéri," sapanya lembut, "Apakah kamu akan merancang gedung atau audisi film laga pagi ini? Sarapan sudah siap."
Imran tersipu, segera menurunkan tangannya. "Astaghfirullah, Aisha. Aku hanya... pemanasan. Kamu tahu, ' disiplin The Rock' itu bagus untuk produktivitas. Can you smell what the Rock is cooking? Maksudku, bisakah kamu mencium apa yang Aisha masak?"
Aisha hanya tertawa kecil, tawa renyah yang sering didengar pelanggan di butiknya, "La Modestie Parisienne". "Yang kumau adalah kamu mencium bau pancake madu, bukan bau testosteron Hollywood di ruang tamu kita," ujarnya sambil berlalu ke dapur.
Di lantai atas, kekacauan remaja sedang berlangsung. Zahra, si sulung yang berusia 19 tahun, calon dokter yang brilian, sedang panik di depan lemari pakaiannya.
"Tariq! Kamu ambil pashmina nude-ku yang limited edition lagi?!" teriaknya dari kamarnya.
Tariq, 16 tahun, sedang asyik dengan ponselnya di kamar sebelah, melirik statistik terbaru Lionel Messi. "Bukan aku! Aku cuma pinjam charger laptop yang warnanya rose gold! Siapa tahu Messi pakai warna itu untuk keberuntungan!"
Zahra mendengus. Obsesinya bukan aktor laga atau pemain bola, melainkan fashion icon papan atas. Dia harus terlihat sempurna—modest tapi chic—untuk presentasi klinis pag ini. Dia mengidolakan bagaimana selebriti bisa terlihat flawless setiap saat, dan dia berusaha keras menirunya dalam koridor etika busana Muslimah.
Di kamar lain, Layla (8 tahun) dan Omar (6 tahun) sedang berdebat tentang siapa yang lebih baik: aktris cilik yang mengisi suara karakter Disney atau astronot Muslim pertama.
"Anna lebih keren! Dia nyanyi!" seru Layla.
"Astronot itu terbang ke bulan! Lebih keren dari nyanyi!" balas Omar.
Akhirnya, seluruh keluarga berkumpul di meja makan. Aisha dengan tenang menuangkan sirup madu ke atas pancake. Imran memimpin doa makan dengan khusyuk. Selama beberapa menit, suasana hening dan damai, hanya suara garpu beradu dengan piring.
Kehidupan mereka di Paris adalah keseimbangan yang konstan. Di luar jendela, Menara Eiffel menjulang, simbol sekularisme dan budaya Barat yang megah. Di dalam rumah mereka, ada miniatur Ka'bah kecil di rak buku, pengingat akan kiblat mereka. Mereka adalah bagian dari Paris, tapi juga bagian dari umat global.
Setelah sarapan, Aisha mengecup kening Imran dan anak-anaknya. "Aku harus buka butik lebih awal. Ada klien penting yang mau konsultasi busana couture untuk acara gala."
Imran mengangguk, menyambar kunci mobilnya. "Aku ada rapat penting dengan dewan kota. Doakan lancar, habibti."
Saat Imran melangkah keluar, dia berhenti sebentar di depan pintu, membenarkan posisi bahunya, dan berjalan keluar dengan langkah tegap ala The Rock, berharap tidak ada tetangga yang melihat.
Aisha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya di ambang pintu. Hidup di Paris sebagai keluarga Muslim dengan selera hiburan yang sedikit 'kebarat-baratan' memang unik, lucu, dan penuh warna. Dan itu baru permulaan hari ini.
