Kabut tipis khas London belum sepenuhnya tersingkap dari kawasan perumahan Brent yang damai pagi itu. Di sebuah rumah bertingkat dua dengan fasad bata merah klasik Inggris, kehidupan keluarga Al-Fatih sudah dimulai sejak azan Subuh berkumandang dari aplikasi ponsel Haris.
Haris, sang kepala keluarga yang usianya menginjak 40-an, baru saja selesai melipat sajadahnya. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi lantai atas. Rambutnya yang mulai diselingi uban tampak sedikit berantakan. Haris adalah seorang insinyur IT senior di sebuah bank multinasional di Canary Wharf, tetapi di rumah, ia adalah "Menteri Olahraga" tidak resmi yang memimpin kabinet penggemar Manchester United.
Di dapur, aroma harum masakan Indonesia sudah mulai menguar. Aisyah, istrinya yang cantik dan energik, sedang sibuk menumis bumbu untuk pesanan katering hari ini: Ayam Balado dan Rendang Daging. Usaha katering rumahan Aisyah, "Dapur Bunda Aisyah," telah menjadi rahasia umum di kalangan ekspat Asia Tenggara dan beberapa warga lokal Inggris yang penasaran dengan rasa pedas otentik.
"Yah, tolong cek Zayn di kamarnya. Susah sekali dibangunkan kalau bukan hari pertandingan MU," pinta Aisyah lembut, tanpa mengalihkan pandangan dari wajan panasnya.
Haris terkekeh. "Siap, Bu Menteri. Tapi hari ini Sabtu, dan MU main malam nanti. Harusnya dia bangun santai."
Ia melangkah menuju kamar putranya di lantai dua. Di sana, Zayn (16), berbadan tegap dengan bakat sepak bola yang menjanjikan, masih terbungkus selimut tebal bergambar logo Manchester United. Poster Marcus Rashford dan Bruno Fernandes menghiasi dinding kamarnya, bersaing dengan kaligrafi Arab yang dibingkai apik.
"Zayn, bangun nak. Matahari sudah tinggi. Mau sarapan apa? Bubur ayam spesial buatan Umi," bujuk Haris sambil menarik sedikit selimut.
Zayn menggeliat, "Lima menit lagi, Abi. Semalam aku latihan tanding FIFA lawan teman online dari Manchester sampai jam dua pagi. MU menang 3-0."
"Di game saja menang, aslinya kadang bikin jantungan," balas Haris sambil menggelengkan kepala.
Di kamar sebelah, Zoya (18), anak sulung yang sedang menempuh pendidikan seni di Central Saint Martins, sudah rapi dengan oversize blazer dan hijab pashmina warna earth-tone yang dililit modis. Ia sedang sibuk dengan sketsa buku catatannya. Zoya adalah satu-satunya di keluarga itu yang cintanya pada MU lebih moderat, tapi ia tetap mendukung dengan caranya sendiri, seringkali membuatkan desain poster digital untuk menyemangati tim.
Sementara di lantai bawah, dua anak terkecil sudah ribut di meja makan. Hana (10), si cerdas berkacamata, sedang membaca berita olahraga di tablet ayahnya, mengomentari performa tim-tim lain dengan analisis yang mengejutkan untuk anak seusianya.
"Abi, ini Mirror Football bilang Arsenal punya peluang besar juara Liga Inggris musim ini. Analisisnya valid gak?" tanya Hana kritis saat Haris bergabung.
Haris menaruh tangan di dada, pura-pura kaget. "Astaghfirullah, Hana! Jangan baca berita sesat pagi-pagi begini. Jelas-jelas MU yang akan comeback," ujarnya dramatis.
Adam (8), si bungsu yang polos dan menggemaskan, hanya sibuk dengan sereal sarapannya, sesekali menimpali, "Goal! Goal! Rashford hebat!" menirukan komentator TV.
Pagi itu, Brent, London, terasa seperti rumah bagi keluarga Al-Fatih. Mereka adalah bagian dari jutaan imigran yang menemukan harmoni di kota metropolis ini. Meskipun hidup di jantung wilayah yang sering kali dikelilingi oleh fans Chelsea atau Arsenal, kesetiaan mereka terhadap The Red Devils dari utara Inggris tak tergoyahkan.
"Umi, sambalnya sudah siap? Zayn butuh asupan energi ekstra buat trial besok," kata Haris, mencium pipi Aisyah yang sibuk mengemasi kotak katering.
"Sudah, Yah. Semua sudah diatur. Hari ini kita harus delivery ke daerah Notting Hill. Untung ada Zoya yang mau bantu nyetir," jawab Aisyah.
Di rumah Al-Fatih, setiap hari ada ritme unik antara kewajiban agama, kesibukan sekolah dan kerja, bisnis katering, dan tentu saja, persiapan mental untuk match day. Mereka hidup bahagia dalam kesederhanaan, membuktikan bahwa identitas Muslim bisa bersinar terang di tengah London yang gemerlap, dengan sepak bola sebagai bahasa universal yang menyatukan mereka. Pagi itu di Brent, semuanya terasa sempurna, siap menyambut petualangan baru di bawah langit Inggris, sambil diam-diam berharap tiga poin penuh untuk Manchester United malam nanti.
