Langit Dresden malam ini dingin dan sunyi. Gemerlap lampu kota yang memantul di permukaan Sungai Elbe menciptakan pemandangan yang menenangkan, kontras dengan pikiran Cindy yang bergejolak. Malam itu, bukan secangkir teh panas atau buku favorit yang menemaninya, melainkan telepon yang baru saja ia terima dari seberang benua.
Cindy, seorang dokter psikologi dengan paras cantik dan pikiran secerdas pisau bedah, menutup sambungan telepon dengan desahan panjang. Ayahnya, dengan suara yang dipenuhi kekhawatiran, menceritakan kondisi sepupunya, Lev Ryley. "Dia sudah tidak mau keluar kamar, Nak. Matanya kosong. Sejak Vania tiada, dia seperti kehilangan arah," ujar ayahnya di ujung telepon tadi.
Vania Larasati. Nama itu seperti sayatan luka yang segar di hati keluarga besar mereka. Gadis manis, tunangan Lev, yang mendadak dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. Cindy tahu betul, Lev sangat mencintai Vania. Dan kini, cinta itu berubah menjadi duka yang menggerogoti. Sebagai seorang profesional, Cindy tahu bahwa kehilangan adalah proses yang membutuhkan waktu, tapi sebagai sepupu, hatinya tidak bisa diam.
Cindy berdiri dari sofa, berjalan menuju jendela apartemennya yang menghadap ke Gereja Frauenkirche. Bangunan megah yang menjadi saksi bisu sejarah Dresden. Dulu, ia selalu merasa damai melihatnya, tapi malam ini, bayangan Lev yang terpuruk membuat hatinya resah. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. "Oke, Cindy," gumamnya pada diri sendiri, "ini bukan kasus klinis biasa. Ini adalah misi keluarga."
Ponselnya berdering lagi, kali ini dari ibunya yang berada di dapur. "Cin, kamu nggak apa-apa? Suara kamu kayak habis dengar berita buruk," tanya ibunya dengan nada khawatir.
"Nggak apa-apa, Ma. Cuma, kasihan sama Lev. Aku ingin ke Banjarmasin, deh."
Hening sejenak di seberang sana. "Kamu serius? Cuti kamu 'kan susah."
"Aku serius, Ma. Aku butuh liburan, dan kelihatannya Lev lebih butuh aku."
Ibunya tertawa kecil. "Kamu ini, kalau sudah niat, susah dilarang. Tapi apa yang mau kamu lakukan? Bawakan dia alat kejut listrik?"
"Ih, Mama. Bukan!" Cindy berbalik, membalas tawa ibunya. "Aku bawakan dia... Schadenfreude. Eh, bukan! Aku akan bawakan dia 'terapi humor ala Cindy'. Tenang saja, Ma. Ini akan jadi Operasi Senyum yang sukses."
Obrolan mereka berlanjut, penuh tawa dan canda. Meski Cindy seorang psikolog, ia sering kali bersikap konyol di depan keluarganya. Tingkahnya yang ceplas-ceplos sering kali mengundang gelak tawa, tapi di balik itu, ada niat tulus untuk membuat orang-orang terdekatnya bahagia.
Malam semakin larut, Cindy mulai membuat daftar barang yang akan ia bawa. Pakaian musim panas, obat-obatan, dan tentu saja, beberapa properti konyol untuk misi "Operasi Senyum"nya. Ia membayangkan bagaimana reaksi Lev ketika ia datang. Apakah Lev akan terkejut? Marah? Atau justru tertawa geli melihat tingkahnya?
"Banjarmasin, Lev, aku datang!" bisik Cindy, memandang ke luar jendela, seolah-olah bisa melihat sejauh ribuan kilometer ke tanah Borneo, tempat sepupunya berada dalam kesedihan. Ia tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Ia akan berhadapan dengan duka, kenangan, dan mungkin air mata. Tapi ia juga yakin, dengan sedikit humor, banyak kasih sayang, dan doa, ia bisa membantu Lev menemukan senyumnya kembali.
Dengan tekad yang membara, Cindy mulai merencanakan keberangkatannya. Tidak hanya sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai seorang sepupu yang peduli. Ia akan menyeberangi benua, melintasi waktu, dan membawa harapan baru. Semua demi Lev, sepupu yang dulu selalu ia goda, dan kini membutuhkan uluran tangannya. Misi "Operasi Senyum" dimulai.
