Setting: Sebuah kafe terapung di tepian Sungai Martapura, Banjarmasin. Sore hari yang tenang menjelang waktu Ashar.
Udara sore di Banjarmasin selalu punya cara untuk menenangkan hati. Di sebuah kafe terapung yang menghadap langsung ke Sungai Martapura, Lev Ryley menyesap es teh manisnya perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah perahu-perahu klotok yang berlalu lalang. Aroma khas air sungai bercampur wangi kue-kue tradisional Banjar yang dijual di sekitar sana menciptakan suasana yang akrab, yang sudah ia kenal sejak kecil.
Lev, seorang pemuda 24 tahun dengan senyum yang sedikit miring dan rambut ikal yang selalu sulit diatur, merasa ada yang hilang dalam rutinitasnya. Lulus kuliah dua tahun lalu dan langsung bekerja di perusahaan lokal milik pamannya, hidup Lev terasa datar. Bangun, bekerja, nongkrong di tempat yang sama, pulang, tidur. Begitu seterusnya.
Di hadapannya, tiga sahabat karibnya sedang asyik dengan dunia masing-masing.
Ada Aisyah, si perencana ulung, sedang sibuk dengan tabletnya, mencatat sesuatu yang Lev yakini adalah daftar belanjaan bulan depan atau jadwal sholat lima waktu yang sudah terorganisir rapi. Aisyah adalah tipe perempuan yang jadwal sarapannya pun sudah diatur sejak seminggu sebelumnya.
Di sebelah Aisyah, ada Zahra. Kontras sekali dengan Aisyah, Zahra adalah perwujudan spontanitas dan kekacauan yang menyenangkan. Saat ini ia sedang mencoba mengambil swafoto dengan latar belakang sungai, tapi angle-nya selalu salah, membuat Lev diam-diam terkekeh. Kerudung pashmina-nya sudah miring entah ke mana.
Dan terakhir, Faris. Pria paling kalem di antara mereka berempat, yang selalu menjadi penengah. Faris sedang santai bersandar di kursi, menikmati pisang goreng kipas sambil mendengarkan musik dari earphone-nya. Matanya terpejam, seolah tidak ada masalah duniawi yang bisa mengganggunya.
Lev berdehem, mencoba menarik perhatian mereka. "Ekhem."
Zahra menurunkan ponselnya dengan wajah cemberut. "Apaan sih, Lev? Ganggu konsentrasi angle cahaya emas sore hari aja."
Aisyah langsung menutup tabletnya, tatapannya beralih ke Lev dengan penuh perhatian. "Ada apa, Lev? Wajahmu serius sekali. Pamanmu memarahimu lagi?"
Faris membuka matanya dan mencabut earphone sebelah kanannya. "Cerita aja, Lev. Santai."
Lev meletakkan gelas es tehnya dengan sedikit dentuman di meja kayu. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku jenuh."
Tiga pasang mata menatapnya. Wajar. Ini bukan pertama kalinya Lev mengeluh jenuh.
"Jenuh karena kerjaan atau karena jomblo menahun?" celetuk Zahra, yang langsung disambut tatapan tajam dari Aisyah.
"Astaghfirullah, Zahra! Jaga ucapanmu," tegur Aisyah lembut tapi tegas.
Faris terkekeh. "Mungkin dua-duanya, Ra."
Lev menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Maksudku, aku jenuh dengan Banjarmasin."
Keheningan melanda sejenak. Banjarmasin adalah rumah mereka. Tempat mereka tumbuh, tempat mereka belajar agama, tempat mereka mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari yang damai.
"Kamu mau pindah ke Jakarta?" tanya Aisyah, terdengar sedikit khawatir. "Bukannya kamu paling anti macet?"
"Bukan pindah kota, Sya," kata Lev, suaranya kini terdengar penuh tekad. "Aku mau pergi."
"Pergi ke mana? Liburan ke Banjarbaru?" tanya Zahra polos.
Lev tersenyum. Senyum tulus yang jarang ia tunjukkan belakangan ini. "Indonesia."
"Maksudmu?" Faris akhirnya tertarik penuh.
"Aku mau keliling Indonesia. Dari ujung Sumatera sampai ujung Papua. Melihat langsung keindahan negeri ini, budaya yang berbeda-beda, dan cara orang-orang di sana menjalankan kehidupan bermasyarakat mereka. Belajar sesuatu yang nggak bisa kudapatkan di sini." Lev berhenti sejenak, menatap mata satu per satu temannya. "Dan aku mau kalian ikut."
Lamaran Lev disambut dengan keheningan total. Aisyah terlihat kaget, Zahra melongo, dan Faris mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Kamu... kamu serius, Lev?" Aisyah memecah keheningan. "Perjalanan jauh? Berapa lama? Pakai apa? Dananya dari mana? Siapa yang akan mengurus perizinan? Kita harus buat itinerary yang matang sekali!"
Zahra menepuk jidatnya. "Ya Allah, Lev! Raja Ampat itu mahal! Papua itu jauh! Kamu udah gila ya?"
Faris, seperti biasa, lebih tenang. "Kenapa ide ini muncul tiba-tiba?"
Lev menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Sudah lama aku pikirkan. Kita ini orang Islam, tapi kita jarang bersyukur dengan betapa kayanya negeri kita. Kita sibuk dengan rutinitas kita sendiri. Aku ingin melihat bagaimana Islam bersanding harmonis dengan adat di Tana Toraja, bagaimana toleransi di Bali, bagaimana keramahan di Aceh."
"Tapi kita kan dari Kalimantan, Lev. Kamu nggak mau keliling Kalimantan dulu?" tanya Faris.
Lev menggeleng tegas. "Justru itu. Kalimantan kita lewati dulu. Kita fokus ke pulau lain. Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua. Challengenya di situ. Keluar dari zona nyaman kita di Borneo."
Zahra menyikut lengan Aisyah. "Dia mulai pakai bahasa Inggris, Sya. Berarti dia serius nih."
Aisyah masih terlihat ragu, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama cemas. "Tapi Lev, ini perjalanan panjang. Kita harus izin kantor, izin orang tua. Ini bukan perjalanan biasa. Ini bisa berbulan-bulan."
"Justru itu seninya, Sya. Slice of life kita yang baru," balas Lev bersemangat. "Aku sudah bicara sama pamanku. Dia ngasih cuti panjang tanpa batas waktu, asalkan aku kasih laporan perjalanan yang inspiratif yang bisa dia jadikan konten buat perusahaannya. Aku juga sudah nabung."
Faris tersenyum tipis. Ide Lev memang gila, tapi ada daya tariknya. "Gue sih ikut aja, Lev. Kapan lagi bisa off dari kerjaan."
Sekarang giliran dua perempuan itu yang harus diyakinkan.
"Aisyah, Zahra, gimana?" bujuk Lev. "Ini kesempatan seumur hidup. Kita bisa belajar banyak hal, memperdalam iman kita dengan melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam yang luas ini. Plus, Zahra bisa bikin konten vlog viral di setiap tempat terkenal di Indonesia."
Mendengar kata 'viral', mata Zahra langsung berbinar. "Hmm, influencer mendadak di Danau Toba... boleh juga."
Aisyah menghela napas panjang, akhirnya menyerah melihat antusiasme teman-temannya. "Baiklah, aku ikut. Tapi! Aku yang buat itinerarynya. Harus terstruktur, ada jadwal sholat yang jelas di setiap lokasi, dan kita harus bawa P3K lengkap!"
"Setuju!" seru Lev, Faris, dan Zahra bersamaan.
Sore itu, di tepi Sungai Martapura yang tenang, empat sahabat dengan latar belakang dan karakter yang berbeda itu membuat sebuah resolusi gila: menjelajahi Zamrud Khatulistiwa, mencari hikmah di setiap jejak, dan memulai petualangan slice of life terbesar dalam hidup mereka.
Perjalanan dari Banjarmasin, menuju pulau-pulau yang belum mereka jamah, baru saja dimulai.
