Emily menghabiskan beberapa minggu berikutnya dengan melukis. Ruang apartemen yang dulunya pengap dan kosong kini dipenuhi dengan kanvas-kanvas yang penuh warna dan emosi. Setiap goresan kuas adalah sebuah cerita, sebuah kenangan, sebuah babak dalam novel tentang duka yang ia tulis. Ia melukis tentang sunset di tepi sungai Seine, tentang bunga-bunga di Jardin du Luxembourg, tentang kafe kecil milik Antoine, dan tentang cincin Adam yang kini selalu melingkar di jarinya. Healing di Paris ternyata bukan hanya tentang jalan-jalan, melainkan juga tentang menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri.
Suatu sore, Antoine datang berkunjung. Ia membawa beberapa crêpes manis dan kopi untuk Emily. Ia melihat-lihat lukisan Emily, dan matanya berbinar. "Ini luar biasa, Emily," katanya, "Kau harus menunjukkan ini pada dunia." Emily terkejut. Ia tidak pernah berpikir untuk memamerkan lukisannya. Itu terlalu pribadi. Itu adalah caranya untuk mengatasi trauma kehilangan, bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain.
Namun, Antoine tidak menyerah. Ia meyakinkan Emily bahwa lukisan-lukisannya akan menginspirasi banyak orang. Ia menyarankan Emily untuk memajang beberapa lukisannya di jendela apartemen. "Banyak orang yang lewat di sini," katanya, "siapa tahu, mungkin ada yang tertarik." Emily ragu, tetapi ia setuju. Ia memilih beberapa lukisan yang paling ia sukai, dan memajangnya di jendela.
Malam itu, Emily duduk di sofa, memandangi jendela. Lampu-lampu kota menyinari lukisan-lukisannya, menciptakan pemandangan yang indah. Ia merasa bangga. Bukan karena lukisannya bagus, tetapi karena ia berani melangkah keluar dari zona nyamannya. Ia berani menunjukkan sisi rapuhnya kepada dunia. Cara bangkit dari keterpurukan adalah dengan mengambil langkah kecil, dan memajang lukisan di jendela adalah salah satunya.
Beberapa hari kemudian, Emily melihat seorang wanita tua berhenti di depan jendelanya. Wanita itu menatap lukisan Emily dengan tatapan haru. Emily merasa penasaran, dan ia memutuskan untuk keluar. Ia menyapa wanita itu, dan wanita itu menceritakan kisahnya. Ia juga pernah kehilangan suaminya, dan lukisan Emily mengingatkannya pada kenangan indah bersama suaminya. Wanita itu tersenyum, dan Emily merasa sangat tersentuh. Ia menyadari, menemukan tujuan hidup setelah kehilangan adalah dengan berbagi cerita dengan orang lain.
Emily kembali ke apartemennya dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi merasa duka adalah beban yang ia pikul sendirian. Duka adalah bagian dari kehidupan, dan Emily menemukan cara untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang indah. Novel tentang duka yang ia tulis kini tidak lagi hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang orang lain, tentang bagaimana cinta dan harapan bisa menginspirasi banyak orang. Emily tahu, perjalanannya masih panjang, tetapi ia tidak lagi takut. Ia memiliki seni, ia memiliki teman, dan ia memiliki kekuatan untuk terus melangkah.
