Luna, pewaris elemen es, adalah sosok yang misterius. Dia memiliki rambut hitam panjang yang kontras dengan aura dinginnya, dan matanya yang tajam seolah bisa membaca pikiran orang. Ketika Argus memperkenalkan Luna kepada Lev, Vania, dan Anatasya, Luna hanya mengangguk sopan dan tidak banyak bicara. Dia tampak menyendiri, seolah membangun dinding es di sekelilingnya.
Lev merasa ada sesuatu yang menariknya kepada Luna. Mungkin karena elemennya, mungkin karena ia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap dinginnya. Di satu sisi, ia merasa cemburu, tetapi di sisi lain, ia merasa ingin tahu.
Vania, seperti biasa, adalah orang pertama yang mencoba mendekati Luna. "Hai, aku Vania," katanya, mengulurkan tangan. "Pewaris api."
Luna melihat tangan Vania, tetapi tidak membalas. Ia hanya mengangguk. "Aku Luna," katanya, suaranya sedingin es.
Anatasya, yang sangat peka, merasakan energi dingin yang mengelilingi Luna. Ia mencoba untuk mendekat dengan cara yang berbeda. "Aku Anatasya. Aku pewaris air. Aku senang bisa bertemu denganmu."
Luna hanya mengangguk lagi, dan kemudian pergi.
Lev, Vania, dan Anatasya merasa canggung. Mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap di dekat Luna. Mereka tahu bahwa ia adalah pewaris es, dan ia bisa menjadi aset penting dalam pertarungan mereka melawan Sombra, tetapi sikapnya yang dingin membuat mereka ragu.
Beberapa hari kemudian, para siswa kembali ke lapangan latihan. Kali ini, mereka akan berlatih dengan Luna. Luna menunjukkan kekuatan esnya, menciptakan patung-patung es yang indah, tetapi juga bisa menghancurkan. Ia juga menunjukkan bahwa ia bisa membuat es menjadi senjata yang mematikan.
Lev, yang masih terbebani oleh mimpinya, mencoba untuk fokus pada elemen buminya, tetapi ia terus memikirkan kekuatan es Luna. Ia merasa cemburu, dan ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa sekuat Luna.
Saat latihan usai, Lev melihat Luna duduk sendirian di tepi danau Arcanum. Ia memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Luna," panggil Lev.
Luna menoleh, matanya yang dingin menatap Lev. "Apa?"
"Aku... aku hanya ingin tahu," kata Lev, ragu-ragu. "Bagaimana kamu mengendalikan kekuatanmu?"
Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku tidak mengendalikannya. Aku adalah bagian dari itu."
"Maksudmu?"
"Kekuatan es... ia adalah bagian dari diriku. Aku tidak bisa memisahkannya. Ia adalah aku."
Lev merasa kagum, tetapi juga merasa takut. Ia tahu bahwa Luna tidak hanya menguasai elemen es, tetapi juga menjadi budak dari elemen itu. Ia teringat akan kisah Elara dan Sombra.
Luna menatap Lev, dan ia melihat keraguan di matanya. "Aku tahu kamu menginginkan kekuatanku," katanya, suaranya dingin. "Tapi kamu tidak akan mendapatkannya. Kamu harus puas dengan apa yang kamu miliki."
Lev terkejut. "Aku... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," ia berbohong.
Luna tertawa kecil. "Jangan berbohong. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku tahu kamu ingin menjadi lebih kuat. Aku tahu kamu ingin menjadi istimewa."
Lev merasa bahwa Luna bisa membaca pikirannya. Ia merasa takut, dan ia merasa bahwa ia harus menjauh dari Luna. Ia tidak tahu apakah Luna adalah sekutu atau ancaman.
Bab ini diakhiri dengan Lev kembali ke asramanya, merasa kacau. Ia tahu bahwa ia harus membuat pilihan. Ia harus memilih antara mempercayai Luna, yang memiliki kekuatan yang ia dambakan, atau menjauhinya, dan tetap setia pada persahabatannya dengan Vania dan Anatasya. Namun, ia juga tahu, ia harus waspada. Karena di balik sikap dingin Luna, mungkin ada sesuatu yang lebih berbahaya.
