Sejak kedatangan Luna, atmosfer di Arcanum berubah. Ketegangan terselip di antara para siswa, terutama di sekitar Lev, Vania, dan Anatasya. Luna, dengan kekuatan esnya yang memukau, dengan cepat menjadi pusat perhatian, dan banyak siswa yang mengaguminya. Namun, Lev, Vania, dan Anatasya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Suatu malam, Lev, Vania, dan Anatasya memutuskan untuk menyelidiki Luna. Mereka tidak ingin menuduhnya tanpa bukti, tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikan firasat mereka. Mereka tahu bahwa Sombra mencoba memanipulasi Lev melalui keinginan akan kekuatan es, dan Luna, pewaris elemen es, bisa jadi adalah bagian dari rencana Sombra.
Mereka menyelinap ke asrama Luna. Dengan bantuan Anatasya, mereka berhasil menonaktifkan pengaman elemen yang melindungi kamar Luna. Di dalam kamar Luna, mereka tidak menemukan apa pun yang mencurigakan, sampai Vania melihat ada sesuatu di bawah tempat tidur.
Vania mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu. Di dalamnya, ada sebuah kalung dengan liontin es yang memancarkan energi dingin yang familiar. Energi itu sama dengan yang mereka rasakan saat Sombra menyerang mereka.
"Ini... ini berhubungan dengan Sombra," kata Anatasya, wajahnya pucat.
"Tapi bagaimana?" tanya Vania. "Dia pewaris elemen es, bukan Sombra."
Lev, yang teringat akan mimpinya, mendekati kalung itu. Ia menyentuhnya, dan ia merasakan gambaran-gambaran yang muncul di benaknya. Gambaran-gambaran itu menunjukkan Luna, seorang gadis yang kesepian dan terasing, merasa tidak puas dengan kekuatannya. Ia bertemu dengan Sombra, yang menawarkan kekuatan es yang lebih besar, tetapi dengan syarat ia harus menjadi pengkhianat.
Lev mundur dari kalung itu, napasnya tersengal-sengal. "Dia... dia adalah pengkhianat," katanya. "Dia bekerja sama dengan Sombra."
Mereka meninggalkan kamar Luna, membawa kalung itu sebagai bukti. Mereka kembali ke asrama mereka, dan mereka memutuskan untuk memberi tahu Argus. Mereka tahu bahwa ini adalah risiko besar, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa membiarkan pengkhianat di dalam Arcanum.
Keesokan harinya, mereka menemui Argus dan menceritakan semuanya. Argus mendengarkan dengan seksama, wajahnya muram.
"Kita harus berhati-hati," kata Argus. "Sombra cerdas. Dia tidak akan membiarkan dirinya ditangkap dengan mudah."
Argus memanggil Luna ke kantornya. Luna datang dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi. Argus menunjukkan kalung itu kepadanya.
"Apakah ini milikmu, Luna?" tanya Argus.
Luna melihat kalung itu, dan ia tidak menunjukkan emosi apa pun. "Ya," katanya.
"Apakah kamu tahu apa ini?" tanya Argus lagi.
Luna hanya mengangguk. "Ini adalah kekuatanku."
"Ini adalah kekuatanku," katanya. "Ini adalah kekuatanku."
Argus menghela napas. "Luna, kamu tahu apa yang kamu lakukan."
Luna kemudian membuka jubahnya, dan di baliknya, hanya ada kegelapan. Ia adalah Sombra. Ia tidak pernah menjadi pewaris elemen es. Ia hanya menyamar.
Lev, Vania, dan Anatasya terkejut. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Sombra bisa menyamar menjadi manusia. Sombra, dalam wujud Luna, mengeluarkan kekuatan es yang kuat. Ia menciptakan pilar-pilar es yang tajam dan meluncurkannya ke arah Lev, Vania, dan Anatasya.
Bab ini diakhiri dengan pertempuran di kantor Argus. Lev, Vania, dan Anatasya harus bertarung melawan Sombra yang kuat, dan mereka tahu bahwa mereka harus mengalahkannya sebelum ia menghancurkan Arcanum. Namun, Lev tahu bahwa ia harus berhati-hati. Karena di balik kekuatan es Sombra, ada kegelapan yang lebih dalam.
Ikuti saluran The World Behind the Veil: The Tale of the Three Elemen di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbAwxYhKWEKtzGEwQd1R
