Alarm subuh di kediaman Al-Fassi bukanlah suara beep standar yang mengganggu, melainkan lantunan azan yang merdu dari Makkah, diputar melalui sistem audio Bang & Olufsen yang terintegrasi di seluruh penjuru rumah. Cahaya fajar yang lembut mulai menyusup melalui tirai sutra otomatis di kamar tidur utama.
Zayn Al-Fassi terbangun dengan tenang. Dia menepuk lembut bahu Laila. "Sayang, sudah subuh."
Laila menggeliat, tangannya secara refleks meraih kerudung instan berbahan chiffon yang selalu tersedia di nakas samping tempat tidur, di sebelah lampu meja Tiffany Studios antik. Pasangan itu berwudu di kamar mandi marmer mereka yang luas lengkap dengan jacuzzi dan steam room menggunakan sabun dan perawatan kulit La Mer premium.
Mereka menggelar sajadah beludru tebal di ruang salat khusus di lantai dua. Di sana, mereka salat subuh berjamaah, dipimpin oleh Zayn. Khusyuk, penuh ketenangan, dan murni. Lima belas menit itu adalah waktu di mana duniawi terhenti, dan yang ada hanyalah koneksi spiritual kepada Sang Pencipta.
Setelah salat, Zayn menyempatkan diri membaca beberapa halaman Al-Qur'an terjemahan edisi mewah dengan sampul kulit. Sementara itu, Laila turun ke dapur utama.
Di dapur, asisten rumah tangga sudah sibuk menyiapkan sarapan. Namun, Laila punya standar yang tinggi. Dia ingin memastikan semuanya sempurna, terutama mise en place (penataan) di meja makan.
"Tolong letakkan cangkir Versace Medusa di sebelah kanan, dan piring Hermès Mosaique di tengah," instruksinya lembut kepada staf yang sudah terlatih.
Meja makan panjang dari kayu jati ukir bergaya Maroko kini dipenuhi hidangan lokal dan internasional: baghrir (panekuk serabi Maroko) dengan madu thyme murni dari Pegunungan Atlas, khobz (roti pipih khas), msemen, dan juga croissant segar yang diterbangkan langsung dari sebuah toko roti terkenal di Paris setiap dua hari sekali.
Zayn bergabung dengan anak-anaknya yang sudah rapi. Tariq, meskipun masih mengantuk, sudah mengenakan hoodie Balenciaga dan celana cargo Off-White. Amira tampil segar dengan blus sutra Chloé dan celana panjang linen putih. Sofia yang paling ceria, dengan gaun Fendi Kids berwarna cerah.
"Pagi, Abi," sapa Tariq, mengambil tempat duduknya.
"Pagi, Nak. Sudah cek harga saham pagi ini?" tanya Zayn, membuka tablet iPad Pro terbarunya. Bisnis adalah bisnis, bahkan saat sarapan.
Laila menuangkan kopi illy premium yang baru diseduh ke cangkir Versace milik Zayn. Aroma kopi mahal berpadu dengan aroma mint tea segar yang disajikan di teko perak tradisional Maroko.
"Jadi, Zayn, hari ini jadwalmu padat?" tanya Laila sambil mengoleskan selai apricot ke baghrir-nya.
"Lumayan. Ada pertemuan dengan investor Four Seasons untuk proyek resor baru di Marrakech. Aku akan memakai setelan Brioni abu-abu dan jam tangan Audemars Piguet Royal Oak," jawab Zayn santai, seolah menyebut merek-merek kelas atas itu adalah hal yang lumrah.
Tariq menyela, "Abi, Om Khalid bilang Supreme drop minggu ini ada kolaborasi sama Tiffany & Co. Gelang perak itu keren banget. Boleh aku beli?"
Zayn mengangkat alisnya. "Boleh, asalkan nilai rapormu tetap A semua. Kamu bisa suruh asistenmu sniping di situs web resminya."
Keluarga Al-Fassi menikmati sarapan mereka dengan obrolan ringan, tawa, dan sedikit diskusi bisnis serta belanja. Di rumah ini, spiritualitas dan materialisme hidup berdampingan secara harmonis. Mereka bersyukur atas setiap rezeki yang mereka miliki, dan mereka tidak pernah merasa bersalah menikmati hasil kerja keras mereka—selama kewajiban agama dan sosial mereka terpenuhi.
Setelah sarapan usai, piring-piring Versace dan Hermès dikumpulkan dengan hati-hati oleh staf rumah tangga. Keluarga Al-Fassi bersiap untuk memulai hari mereka di Casablanca, kota metropolitan Maroko yang berdenyut, di mana tradisi bertemu modernitas, dan iman bertemu fashion kelas atas. Zayn mencium kening Laila, dan mereka berpisah menuju garasi, siap untuk babak selanjutnya dalam kehidupan mewah mereka.
