Rencana sudah disusun matang, setidaknya menurut standar Vania yang selalu mengandalkan otot lebih dulu ketimbang otak.
"Oke, Tasya jadi pemandu sorak—eh, maksud gue, pengalih perhatian ilmiah. Gue akan melakukan tarian bela diri untuk menarik perhatian si Bekantan. Lev, begitu dia lengah, lo jepret!" Vania memberikan instruksi dengan gestur tangan yang bersemangat.
"Pemandu sorak ilmiah?" Anatasya mendesah. "Vania, aku ahli biologi, bukan maskot tim cheerleader! Aku akan menggunakan pengetahuanku tentang pola makan Bekantan untuk memancingnya turun.
"Ya, sama aja!" Vania sudah bersiap kuda-kuda, siap melakukan gerakan silat yang aneh di bawah pohon besar itu.
Lev menelan ludah. Kamera polaroid di tangannya terasa semakin dingin. "K-kalian yakin? Ini area umum, Van. Ada Pak Dosen Killer di dekat sini."
"Santai, Lev. Kita cuma mau 'foto' objek kearifan lokal," Vania mengedipkan mata. "Aksi!"
Anatasya mengeluarkan buku catatan kecilnya dan mulai berjalan mendekati pohon, melirik ke atas ke arah Bekantan jantan berhidung mancung yang sedang mengunyah buah dengan santai.
"Halo, Nasalis larvatus," sapa Anatasya dengan suara lembut. "Aku tahu kamu suka buah-buahan yang manis, tapi di sini adanya daun putat." Ia mulai melambai-lambaikan beberapa helai daun yang dipetiknya dari dekat situ.
Sang Bekantan, yang tampaknya bosan dengan daun kering di dahannya, melirik Anatasya dengan tatapan meremehkan.
"Sekarang giliran gue!" seru Vania. Ia mulai melakukan gerakan silat "Jurus Monyet Mabuk" yang terlihat lebih mirip orang sedang kesurupan. Ia melompat, berguling, dan bersalto kecil, membuat beberapa pengunjung Siring menatapnya aneh.
Aksi Vania sukses besar. Sang Bekantan tersinggung. Ia menghentikan makannya, melotot ke arah Vania, dan mulai berteriak keras, khra-khra-khra! Ia mulai melompat dari dahan ke dahan, bergerak ke arah pagar pembatas sungai.
"Sekarang, Lev! Sekarang!" teriak Vania sambil menghindari lemparan buah sisa dari si Bekantan.
Lev mengangkat kameranya, fokus pada Bekantan yang sedang marah itu. Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba membidik.
Klik!
Cahaya biru terang kembali muncul. Kali ini lebih besar dan lebih mencolok. Sang Bekantan menghilang dalam semburan partikel cahaya biru, tepat di depan mata beberapa pengunjung dan, celakanya, tepat di depan Prof. Rahmat.
Kartu transparan berwarna biru emerald meluncur keluar dari kamera Lev. "Spesies: Bekantan (Nasalis larvatus). Rank: D (Langka). Skill: Lompatan Akrobatik, Teriakan Keras."
"Berhasil!" bisik Lev penuh kemenangan.
Namun, kemenangan itu hanya sesaat. Tiba-tiba, kartu di tangan Lev terasa panas membara dan bergetar hebat. Burung pipit yang ada di dompetnya juga terasa panas.
"Ada apa ini?" tanya Anatasya bingung.
"Kartunya panas!" Vania berlari mendekati Lev.
"Lev! Kartunya mau burst!" seru Anatasya, matanya yang tajam melihat notifikasi kecil di kartu Bekantan yang berkedip: "Status: Stres Berat. Gagal Sinkronisasi."
"Gagal sinkronisasi? Maksudnya?" tanya Lev panik.
"Maksudnya lo nggak bisa ngendaliin dia! Dia lepas!" Vania menunjuk ke arah tumpukan patung bekantan raksasa di seberang jalan.
Dalam ledakan cahaya biru kecil, sang Bekantan muncul kembali, terlihat lebih kesal dari sebelumnya. Ia menatap trio itu, lalu mulai berlarian di area Siring yang ramai pengunjung pagi itu.
"Tolong! Ada monyet ngamuk!" teriak seorang ibu yang sedang senam pagi, panik melihat Bekantan raksasa itu berlari ke arahnya.
Kekacauan pecah. Pengunjung Siring berlarian ke segala arah. Kucing oren milik Vania ikut tersummon keluar dari kartunya secara tidak sengaja karena panik, lalu mengejar Bekantan itu, menambah kekacauan. Prof. Rahmat menjatuhkan kamera digitalnya dan menatap Lev dengan mata terbelalak.
"Lev, Vania, Anatasya! Apa-apaan ini?!" raung Prof. Rahmat.
"Kita harus tangkap dia lagi!" Anatasya berteriak.
Vania menyeringai, naluri petarungnya muncul. "Waktunya main smackdown sama bekantan!"
"Tunggu, Van! Kartunya bilang dia stres! Kita harus tenangkan dia dulu, bukan ngajak berantem!" teriak Lev sambil berlari mengejar Vania yang sudah siap melakukan gerakan salto ke arah Bekantan.
Kisah slice of life pagi itu di Banjarmasin berubah menjadi adegan kejar-kejaran komedi yang absurd. Lev, Vania, dan Anatasya belajar pelajaran pertama mereka sebagai summoner pemula: menangkap satwa liar itu mudah, tapi mengendalikannya adalah seni yang sangat sulit. Dan sepertinya, seni itu tidak ada di kurikulum kampus mereka.
