Viralnya episode kedua webseries mereka, terutama adegan di jembatan yang sedikit canggung tapi manis, menarik perhatian seorang produser dari sebuah stasiun televisi lokal di Manchester. Produser itu melihat potensi dalam kekacauan dan keaslian yang ditawarkan oleh webseries mereka. Beberapa hari kemudian, sebuah email tiba di kotak masuk Cindy. Sebuah email yang mengubah segalanya.
"Sebuah tawaran untuk membuat webseries ini menjadi serial TV dengan anggaran penuh, dan kami ingin kalian semua kembali ke sana," teriak Cindy dengan panik saat membaca email itu.
Semua orang berkumpul di ruang tamu, membacanya berulang kali. Ini adalah jawaban atas doa mereka, solusi untuk masalah keuangan mereka. Tetapi juga, ini berarti mereka harus meninggalkan apartemen mereka yang kacau, satu-satunya tempat yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Harry menatap Cindy, senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Kita berhasil, Cindy. Kita berhasil," bisiknya.
Namun, di tengah euforia, Andriy mendapat ide lain. "Ini adalah kesempatan emas untuk mempromosikan restoran pop-up saya! Saya akan menjadi koki di lokasi syuting dan akan memberikan makanan gourmet kepada semua orang! Saya yakin mereka akan menyukainya!"
Bella, yang menulis lagu-lagu untuk serial TV itu, merasa senang. "Aku bisa membuat lagu-lagu yang tidak terlalu menyedihkan! Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bakatku yang sebenarnya!"
Hermione, yang sekarang menjadi bagian tak terpisahkan dari webseries itu, akhirnya mendapatkan kesempatannya untuk membuat laporan investigasi sungguhan. Dia mulai membuat podcast baru tentang "kehidupan para seniman yang berjuang di Manchester, dari yang tidak dikenal menjadi terkenal".
Kencan Nyata Harry dan Cindy:
Beberapa hari sebelum mereka harus pindah ke lokasi syuting, Harry membawa Cindy ke kafe yang sama di Northern Quarter tempat mereka melakukan kencan pura-pura. Kali ini, tidak ada kamera. Tidak ada Andriy yang bersembunyi di balik jendela. Hanya ada mereka berdua, yang sedang jatuh cinta.
Harry, yang sekarang terlihat lebih percaya diri, berkata, "Aku tahu ini mungkin terdengar konyol, tapi... aku ingin kita melakukan ini lagi. Kencan yang sebenarnya."
Cindy tersenyum. "Aku juga," jawabnya, matanya berbinar. "Aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak berakting."
Harry menceritakan semua hal konyol yang dia rasakan saat mereka pertama kali bertemu, tentang bagaimana dia melihatnya di atas panggung dan berpikir, "Wanita ini... dia berbeda." Cindy tertawa, merasa lebih dicintai daripada yang pernah dia rasakan.
Mereka berbicara berjam-jam, tentang impian mereka, ketakutan mereka, dan bagaimana mereka berdua berhasil menemukan jalan keluar dari kekacauan mereka. Harry, dengan lembut, meraih tangan Cindy. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku ingin... kamu ada di sana bersamaku."
Cindy menatap matanya, dan merasakan kehangatan yang tak terlukiskan. "Aku juga, Harry," bisiknya.
Ketika mereka keluar dari kafe, Manchester terasa lebih cerah dari sebelumnya. Mereka berjalan berpegangan tangan di sepanjang jalan-jalan yang ramai di kota itu. Mereka menemukan cinta di tengah kekacauan, di tengah kegagalan, dan di tengah mimpi-mimpi yang nyaris hancur.
Dan ini adalah cerita mereka, kisah tentang enam orang yang berani bermimpi, berani jatuh, dan berani untuk mencintai, di kota Manchester yang tidak pernah tidur. Sebuah novel komedi romantis yang sempurna untuk mereka yang percaya pada keajaiban di tengah kekonyolan.
