Hari kepindahan tiba. Apartemen di Piccadilly yang penuh kenangan kacau, tawa keras, dan bau masakan gosong kini kosong. Hanya menyisakan debu dan kenangan. Cindy, Bella, Hermione, Andriy, Lev, dan Harry berdiri di tengah ruangan yang hampa, masing-masing dengan kotak berisi barang-barang pribadi. Mereka semua akan pindah ke sebuah studio yang lebih besar dan modern, di pusat kota Manchester, tempat syuting serial TV mereka akan dimulai.
"Aku akan merindukan tempat ini," gumam Cindy, menatap sudut tempat dia sering berlatih monolog dramatis.
"Aku akan merindukan suara Andriy meledakkan dapur," timpal Bella, tersenyum kecil.
"Dan aku akan merindukan bau gosong yang menginspirasi lagu-lagu sedihku," tambahnya sambil memetik senar gitar yang ada di tangannya.
"Aku tidak akan merindukan bau gosong itu," kata Hermione, tetapi wajahnya menunjukkan jejak kesedihan. "Tapi aku akan merindukan kalian semua."
Harry memandang Cindy, hatinya terasa hangat. "Kita tidak akan berpisah, kan? Kita masih akan bersama, di lokasi syuting."
"Tentu saja," jawab Cindy, menyandarkan kepalanya di bahu Harry. "Tapi di sini... semuanya berbeda."
Di tengah-tengah percakapan sentimental itu, tiba-tiba terdengar suara Lev yang berteriak. "Aku lupa mengambil kamera cadangan kita! Aku yakin itu ada di bawah bantal di kamarku!"
"Lev, jangan!" teriak Harry, tapi sudah terlambat.
Lev lari ke kamarnya, tetapi saat dia sampai di sana, dia terpeleset dan jatuh di atas tumpukan kardus berisi barang-barang Andriy. Kardus itu pecah, dan semua isinya tumpah ke lantai. Di antara piring-piring pecah dan peralatan masak yang bengkok, terdapat sebuah benda yang tidak diharapkan—sebuah kantong berisi bubuk yang mencurigakan.
Andriy, yang panik, langsung mengambilnya. "Jangan disentuh! Itu bukan bubuk obat, itu adalah... tepung. Ya, tepung khusus untuk membuat kue. Tapi aku tidak ingin orang-orang tahu."
"Tentu saja," kata Hermione dengan nada sarkas. "Bubuk tepung yang sangat mencurigakan."
Di tengah kekacauan itu, suara seorang pria terdengar dari pintu depan. "Permisi, apakah ini apartemen yang disewa oleh..."
"Pak Tuan Tanah!" teriak Bella.
Semua orang panik. Mereka berusaha untuk menutupi kekacauan di lantai dengan kain-kain, tetapi Pak Tuan Tanah sudah melihat semuanya.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Pak Tuan Tanah, matanya membesar.
"Kami sedang... pindahan," kata Cindy dengan gugup. "Dan kami akan membereskannya."
Pak Tuan Tanah menghela napas. "Baiklah. Pastikan apartemen ini bersih sebelum kalian pergi. Saya akan kembali dalam satu jam."
Setelah Pak Tuan Tanah pergi, mereka semua menghela napas lega. "Kita harus bergegas," kata Harry. "Kita hanya punya satu jam."
Mereka mulai membersihkan apartemen, bekerja sama untuk terakhir kalinya di tempat itu. Bella memasang musik yang ceria, Lev dengan hati-hati memunguti barang-barang yang berserakan, dan Andriy membersihkan sisa-sisa tepung dengan lap basah. Cindy dan Harry bekerja bahu-membahu, menyapu dan mengepel lantai.
Di tengah-tengah pekerjaan, Harry berhenti dan menatap Cindy. "Meskipun kita akan pindah ke tempat yang lebih baik... aku akan selalu ingat kekacauan ini. Ini adalah tempat di mana kita bertemu dan jatuh cinta."
Cindy tersenyum, hatinya dipenuhi kebahagiaan. "Aku juga, Harry. Aku juga," bisiknya.
Setelah selesai membersihkan, mereka berdiri di depan apartemen mereka untuk terakhir kalinya. Mereka melihat sekeliling, mengenang semua momen yang telah mereka lalui bersama. Mereka tidak lagi takut, mereka tidak lagi merasa putus asa. Mereka tahu bahwa meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mereka akan tetap bersama.
"Sampai jumpa, Piccadilly," kata Cindy.
"Sampai jumpa, kekacauan," kata Andriy.
"Sampai jumpa, inspirasi," kata Bella.
"Sampai jumpa, rumah," kata Harry.
Mereka akhirnya pergi, menuju awal yang baru, di tengah kota Manchester yang ramai. Mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Kisah mereka baru saja dimulai, dan mereka tahu bahwa, di tengah kekacauan dan komedi, cinta mereka akan terus tumbuh dan berkembang. Novel romkom Manchester ini adalah kisah yang tidak akan pernah mereka lupakan.
