“Oke, ini dia! Dungeon resmi pertama kita!” Vania menepuk busurnya. Dia mengenakan pakaian petualang yang sama seperti kemarin, tapi kali ini dia membawa ransel penuh perbekalan.
Lev mengenakan ransel yang lebih besar, dengan Sippy yang sudah standby di bahunya. Anastasya membawa tas kecil yang secara misterius bisa memuat semua bahan sihirnya.
Gua Lumut Hijau terlihat tidak mengesankan dari luar. Hanya lubang besar di sisi bukit, ditutupi tanaman merambat. Namun, energi magis yang keluar dari sana terasa nyata.
“Dungeon 'Green Moss Cave' detected. Rating E. Good luck, Adventurers.” Suara sistem kembali terdengar di benak Lev.
“Ayo masuk!” Vania memimpin jalan.
Di dalam gua, suasananya lembap dan gelap. Obor mereka menyala, menerangi dinding batu yang ditutupi lumut hijau neon yang berpendar lembut. Aroma lumut dan tanah basah memenuhi udara.
“Formasi tempur! Vania di depan sebagai penyerang jarak jauh, Anastasya di tengah sebagai damage dealer dan support sihir, aku di belakang dengan Sippy untuk penerangan dan backup,” perintah Lev, mencoba meniru strategi militer dari buku yang pernah dibacanya.
“Perintah diterima, Kapten!” Vania memberi hormat lucu. Anastasya hanya mengangguk.
Mereka berjalan masuk lebih dalam. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan musuh pertama mereka. Di sebuah ruangan kecil, tiga Green Slime (Slime Hijau) sedang bergoyang-goyang santai di atas batu besar. Mereka tampak seperti gumpalan jeli raksasa dengan mata sipit.
“Green Slime. Musuh dasar dungeon RPG. Mudah,” kata Vania dengan sombong. “Aku yang urus.”
Vania menarik busurnya, membidik, dan melepaskan panah. Panah itu menembus slime pertama. Tapi bukannya mati, slime itu malah terbelah menjadi dua slime yang lebih kecil!
“Wah! Mereka membelah diri!” Vania terkejut.
Dua slime kecil itu mulai bergerak agresif ke arah mereka. Vania menembak lagi, membelah slime kedua menjadi dua lagi. Sekarang ada lima slime di ruangan itu.
Lev panik. "Vania! Jangan ditembak kalau begitu!"
“Aku lupa kalau slime tipe ini punya split ability!” Vania mulai menembak slime ketiga, menciptakan dua slime lagi. Total tujuh slime sekarang. Situasi mulai tidak terkendali.
Anastasya yang pendiam maju satu langkah. “Mereka lemah terhadap elemen es.”
Dia mengangkat tongkatnya. “Frost Shard.” Dia menembakkan tujuh paku es sekaligus, mengenai ketujuh slime kecil itu. Slime-slime itu membeku seketika dan hancur berkeping-keping.
You have defeated 7 Green Slimes. Gained 35 EXP.
Keheningan kembali melanda. Vania menatap Anastasya dengan kekaguman yang berlebihan. “Kau penyelamat kita! Jenius!”
“Cuma pengetahuan dasar monster,” jawab Anastasya datar.
Lev menghela napas lega. “Oke, strategi baru. Kita hindari membelah slime, dan biarkan Anastasya yang mengurusnya.”
Mereka melanjutkan perjalanan mereka lebih dalam ke gua. Semakin dalam, semakin banyak rintangan. Mereka menemukan jebakan kawat tipis yang berhasil dihindari Vania berkat kelincahannya, dan beberapa teka-teki rune kuno di pintu batu yang berhasil dipecahkan Anastasya dengan mudah.
Mereka menemukan ruangan besar yang sepertinya adalah sarang utama. Ratusan Green Slime berkumpul, menutupi lantai dan dinding. Di tengahnya, sebuah kristal energi hijau besar bersinar terang.
“Target misi kita ada di sana,” kata Lev, menunjuk kristal itu.
“Tapi slimenya banyak banget! Kalau kita serang, bisa jadi ribuan slime kecil!” Vania panik lagi.
“Kita butuh pengalihan,” kata Anastasya, matanya menatap Sippy yang masih nyaman di bahu Lev.
Lev punya ide. “Sippy, kau bisa mengeluarkan lendir pembersih yang baunya harum, kan?”
Sippy 'kyuu~' mengiyakan.
“Anastasya, bisakah kau membuat lendir itu super licin dengan sihir es?”
Anastasya mengangguk. “Ice Enchant.”
“Vania, kita butuh Slime Besar di tengah sebagai target,” kata Lev. “Sippy, saatnya beraksi! Ke sana!”
Lev melempar Sippy ke tengah ruangan. Sippy mendarat dengan elegan (untuk seekor siput) di atas kristal energi. Slime-slime di sekitar langsung terganggu oleh penyusup baru itu.
Sippy mulai mengeluarkan lendir pembersihnya yang super licin, dibantu sihir es Anastasya. Lantai ruangan menjadi arena es licin yang berbau mawar. Para Green Slime mulai panik, mencoba bergerak tapi malah tergelincir satu sama lain, menciptakan momen komedi yang kacau.
“Sekarang, Vania! Bidik kristalnya!” teriak Lev.
Vania, sambil tertawa geli melihat kekacauan para slime yang tergelincir, membidik kristal energi. Satu panah emas melesat dan menghantam kristal. Kristal itu retak. Slime-slime raksasa itu langsung berhenti bergerak, lemas, dan mencair.
Dungeon Boss defeated (kristal dianggap inti). Mission accomplished.
“Berhasil!” Vania dan Lev bersorak.
Anastasya berjalan dengan tenang ke tengah ruangan yang masih licin, mengambil kristal energi yang retak, dan memasukkannya ke dalam tasnya. Sippy meluncur kembali ke arah Lev dengan senang.
Mereka keluar dari Gua Lumut Hijau dengan kemenangan, pengalaman, dan banyak cerita konyol. Tim "Tiga Sekawan" mungkin aneh, tapi mereka bekerja sama dengan baik. Ini baru permulaan dari novel RPG fantasi mereka di dunia Aethelgard.
