Perubahan gaya pakaian Karina tidak hanya menarik perhatian Jessica, tetapi juga teman-teman lainnya. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, dan Karina harus pintar-pintar mengelak. Setiap pertanyaan adalah sebuah ujian, dan setiap jawaban adalah kebohongan kecil yang terpaksa ia ciptakan.
"Karina, kamu sekarang kok beda, sih?" tanya David, teman dari Amerika Serikat, saat mereka sedang makan siang di kantin kampus. "Kayaknya kamu lagi galau, ya?"
Karina tersenyum getir. "Enggak, kok. Aku cuma lagi pengin ganti suasana aja."
"Ganti suasana kok sampai ganti gaya pakaian? Kan aneh," timpal Maya, mahasiswi dari Singapura, yang selama ini selalu memuji gaya Karina.
Karina merasa terpojok. Ia tahu, teman-temannya tidak akan mengerti jika ia menceritakan perjalanannya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda pula. Dunia mereka adalah tentang kebebasan, kesenangan, dan pencapaian pribadi, bukan tentang ketenangan hati dan Sang Pencipta.
Untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut, Karina mulai menjauh dari teman-teman lamanya. Ia menolak ajakan mereka untuk pergi ke pesta, beralasan sibuk dengan tugas kuliah. Ia juga membatasi interaksinya di media sosial, menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di sana.
Meskipun merasa bersalah karena telah berbohong, Karina merasa kebohongan itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi dirinya dan perjalanannya. Ia tahu, perjalanannya ini adalah sesuatu yang sangat pribadi, sesuatu yang tidak bisa ia bagikan dengan sembarang orang. Ia tidak ingin melihat kekecewaan atau bahkan ejekan di mata teman-temannya.
Konflik batin ini semakin membuat Karina merasa sendirian. Di satu sisi, ia merasa ada kedamaian baru yang ia temukan. Di sisi lain, ia harus menanggung beban karena telah menjauh dari orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Ia merasa seperti berjalan di atas jembatan yang rapuh, dengan satu kaki di masa lalu dan satu kaki di masa depan.
Suatu malam, ia mengirim pesan kepada Adam. "Adam, aku merasa bingung. Aku harus bohong sama teman-teman tentang perubahanku."
Adam membalas pesannya tak lama kemudian. "Jangan merasa bersalah. Niatmu baik. Kamu hanya ingin melindungi diri dan keyakinanmu. Ini adalah ujian kecil yang harus kamu lewati. Percayalah, semua ini akan ada hikmahnya."
Pesan dari Adam sedikit menenangkan hati Karina. Ia menyadari, bahwa perjalanannya ini tidak hanya tentang menemukan hidayah, tetapi juga tentang belajar menghadapi tantangan dan rintangan yang muncul. Ia telah memilih jalan yang berbeda, dan konsekuensinya, ia harus berani mengambil risiko.
Malam itu, Karina kembali memejamkan mata, membiarkan suara azan yang samar-samar terdengar dari kejauhan menenangkan hatinya. Ia tahu, ia tidak benar-benar sendirian. Ada Adam yang selalu mendukungnya, dan yang lebih penting, ada Sang Pencipta yang selalu bersamanya. Dan dengan kekuatan itu, ia yakin, ia bisa melewati semua ujian ini.
