Beberapa minggu berlalu sejak kedatangan Adam, membuat hari-hari Maimunah semakin ramai. Pagi yang biasanya hanya diisi celotehan heboh Maimunah dan tanggapan datar Zainab, kini ditambah dengan celotehan menenangkan dari Adam. Maimunah merasa hidupnya di Moskow menjadi lebih berwarna. Adam bukan hanya teman ayah, tapi juga seorang sosok kakak yang selalu siap mendengarkan cerita Maimunah, memberikan nasihat yang bijak, dan yang paling penting, bisa diajak hangout ke berbagai tempat wisata di Moskow.
"Dam, besok kita ke mana?" tanya Maimunah saat mereka sedang duduk di sebuah bangku di Taman Gorky. Di sampingnya, Zainab sedang fokus mengamati arsitektur rumah-rumah kayu khas Rusia yang ada di sekitar taman.
"Gimana kalau kita ke pasar tradisional Rusia?" usul Adam. "Aku mau cari oleh-oleh buat keluargaku."
Maimunah berteriak kegirangan. "Asik! Aku juga mau beli oleh-oleh! Aku mau beli boneka matryoshka yang gede banget!"
Adam tersenyum. "Kamu mau beli oleh-oleh atau mau buat koleksi?"
"Dua-duanya!" jawab Maimunah mantap.
Mereka bertiga menikmati suasana taman yang damai. Namun, tiba-tiba, Maimunah melihat seseorang yang membuatnya terdiam. Seorang pria dengan jaket tebal dan syal berwarna abu-abu. Pria itu menatap Maimunah dengan senyum lebar.
"Zai, itu..." Maimunah terdiam.
Zainab mengikuti arah pandangan Maimunah. Matanya melebar. "Tidak mungkin..."
Pria itu berjalan mendekat. Maimunah merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata-kata.
"Assalamualaikum, Maimunah," sapa pria itu.
Maimunah mengenali suara itu. Suara yang sudah lama tidak ia dengar, tetapi selalu ia rindukan.
"Naufal?" Maimunah bertanya, suaranya bergetar.
Pria itu adalah Naufal, teman masa kecil Maimunah. Naufal adalah cinta pertama Maimunah. Namun, hubungan mereka terputus karena Naufal harus pindah ke luar negeri.
Naufal tersenyum. "Iya, ini aku."
Maimunah memeluk Naufal erat-erat. "Aku kangen banget sama kamu, Naufal."
Naufal membalas pelukan Maimunah. "Aku juga, Maimunah."
Zainab melihat adegan itu dengan tatapan datar. Ia tahu, Naufal adalah pria yang selama ini selalu ada di hati Maimunah. Namun, ia tidak menyangka, Naufal akan muncul di Moskow.
Adam, yang tidak tahu apa-apa, hanya mengamati mereka berdua. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Siapa dia, Mun?" tanya Adam, saat Maimunah dan Naufal melepaskan pelukan mereka.
"Dia Naufal," jawab Maimunah, matanya masih berkaca-kaca, "teman masa kecil aku."
Adam mengangguk. "Oh."
Naufal memperkenalkan dirinya pada Zainab dan Adam. "Aku teman masa kecil Maimunah," katanya, "aku datang ke Moskow karena ada urusan bisnis."
Maimunah terkejut. "Kok sama kayak Adam?"
Naufal tersenyum. "Mungkin kita memang jodoh, Mun."
Maimunah tersipu. Ia merasa, hidupnya seperti sedang berada di dalam novel romantis. Pangeran masa lalu datang kembali, dan pria tampan yang baru dikenalnya juga ada di dekatnya.
Zainab mendesah. "Mun, jangan terlalu berharap."
Maimunah mengabaikan ucapan Zainab. Ia terlalu bahagia.
Namun, kebahagiaan Maimunah tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, saat mereka sedang makan siang, Naufal datang dengan seorang wanita. Wanita itu berparas cantik, dengan rambut pirang dan mata biru. Ia terlihat sangat anggun.
"Maimunah, kenalkan, ini Natasha," kata Naufal, "calon istriku."
Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Naufal, lalu Natasha. Ia merasa, dunia seakan runtuh.
"Calon istri?" tanya Maimunah, suaranya bergetar.
"Iya," jawab Naufal, "kami akan menikah di Moskow."
Maimunah merasa matanya memanas. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia melihat ke arah Zainab, yang kini menatapnya dengan tatapan penuh simpati. Ia tahu, Zainab pasti sudah tahu dari awal.
Maimunah tidak bisa menahan perasaannya. Ia bangkit dari kursi, dan berlari keluar. Zainab mencoba mengejar, tetapi Maimunah terlalu cepat.
"Kenapa dia?" tanya Naufal, bingung.
Adam hanya diam. Ia menatap Naufal dengan tatapan tidak suka.
Zainab kembali ke meja. "Harusnya kamu nggak datang ke sini," katanya, "dan harusnya kamu nggak bilang kalau kamu akan menikah."
Naufal terkejut. "Memangnya kenapa? Dia kan cuma teman masa kecilku."
Zainab tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya, lalu menyusul Maimunah.
Adam melihat Naufal dengan tatapan tajam. "Kamu sudah menyakiti hati Maimunah," katanya, "dan kamu tidak tahu betapa berartinya dia bagimu."
Naufal terdiam. Ia merasa, ia telah melakukan kesalahan besar.
Di luar, Zainab menemukan Maimunah duduk di bangku taman. Ia menangis tersedu-sedu. Zainab memeluk Maimunah.
"Kenapa, Zai? Kenapa dia begitu tega?" Maimunah bertanya, di sela tangisnya.
"Sabar, Mun," kata Zainab, "Allah pasti punya rencana yang lebih baik."
Maimunah tidak bisa berhenti menangis. Ia merasa, hatinya remuk. Ia merasa, ia tidak akan pernah bisa melupakan Naufal. Namun, ia juga tahu, ia harus melanjutkan hidup.
To be continued...
