Ketakutan Karina akan pertanyaan dan tatapan aneh teman-temannya semakin menguatkan tekadnya untuk mendalami Islam. Ia menyadari, pengetahuan yang minim tentang agama ini adalah salah satu sumber ketidaknyamanannya. Jika ia benar-benar ingin menjalani jalan ini, ia harus mengisinya dengan ilmu.
Di hari-hari berikutnya, perpustakaan universitas menjadi tempat favorit Karina. Ia tidak lagi mencari buku-buku tentang ekonomi atau bisnis, melainkan buku-buku tentang Islam. Ia memulai dengan buku-buku dasar yang menjelaskan tentang rukun iman dan rukun Islam. Ia membaca dengan hati-hati, berusaha memahami setiap kata dan makna yang terkandung di dalamnya.
Suatu sore, saat ia sedang membolak-balik buku berjudul "Memahami Tauhid", Adam menghampirinya. Adam tidak terkejut melihat Karina membaca buku tersebut, seolah ia sudah tahu bahwa Karina akan melakukan ini.
"Bagaimana?" tanya Adam, duduk di kursi di seberangnya.
"Aku... merasa banyak yang harus dipelajari," jawab Karina jujur. "Aku tidak tahu kalau Islam itu sedalam ini."
"Memang," kata Adam, tersenyum. "Islam itu bukan hanya sekadar ritual, tapi cara hidup. Dan tauhid, itu adalah kuncinya."
Adam menjelaskan konsep tauhid kepada Karina dengan bahasa yang sederhana. Tentang bagaimana tauhid mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan, Allah, yang berhak disembah. Konsep ini membuat Karina merasa tenang. Ia menyadari, selama ini, ia telah menyembah banyak tuhan: uang, kesuksesan, pujian dari orang lain. Namun, semua itu tidak pernah bisa memberinya ketenangan yang sejati.
"Jadi, tauhid itu seperti... menempatkan semua harapan dan cinta kita pada satu titik?" tanya Karina, berusaha memahami.
Adam mengangguk. "Ya. Dan ketika kamu melakukan itu, kamu akan merasa lapang. Kamu tidak perlu lagi khawatir tentang pendapat orang lain, karena yang terpenting adalah pendapat Allah."
Karina merasakan hatinya bergetar. Kata-kata Adam seolah menyentuh langsung ke inti masalah yang selama ini ia hadapi. Konflik batin yang ia rasakan karena kebohongan-kebohongan kecil, kekhawatiran akan penolakan teman-temannya—semua itu terasa begitu kecil di hadapan konsep tauhid yang Adam jelaskan.
Ia menyadari, perjalanannya ini bukan hanya tentang mengubah gaya pakaian, tetapi juga tentang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Dari yang tadinya berpusat pada dirinya sendiri dan ambisinya, kini mulai berpusat pada Sang Pencipta.
Setelah Adam pergi, Karina melanjutkan membaca bukunya. Setiap kalimat yang ia baca, terasa seperti oase di tengah gurun. Ia merasa haus akan ilmu, dan ia ingin terus belajar, terus menyelam lebih dalam ke dalam samudra Islam.
Malam itu, di apartemennya, Karina memandang ke luar jendela. Hujan sudah berhenti, menyisakan bintang-bintang yang berkilauan di langit Manchester. Ia merasa, bintang-bintang itu seperti harapan-harapan baru yang kini bersinar di hatinya. Ia telah menemukan jalan. Dan dengan ilmu yang ia peroleh, ia yakin, ia bisa melangkah di jalan itu dengan keyakinan yang lebih kuat.
