Emily kembali ke apartemennya, hatinya berdebar tidak karuan. Ia membuka buku puisi tua yang ditemukannya, membelai setiap halaman dengan hati-hati. Di antara halaman-halaman itu, sebuah cincin terjatuh. Cincin itu bukan cincin pernikahan mereka, melainkan sebuah cincin perak dengan ukiran "E" dan "A" yang saling bertautan. Emily ingat, Adam pernah berjanji akan memberinya cincin seperti ini saat mereka mengunjungi Paris. Ia tidak pernah berpikir janji itu akan terwujud dengan cara seperti ini. Mengatasi trauma kehilangan adalah proses yang misterius. Terkadang, jawabannya datang dalam bentuk kenangan yang tak terduga.
Air mata Emily mengalir, kali ini bukan karena duka yang menguasai, melainkan karena rasa cinta yang begitu besar. Ia menyadari, Adam telah merencanakan segalanya. Ia telah mempersiapkan Emily untuk melanjutkan hidup, bahkan tanpa dirinya. Emily merasa sangat bersalah. Selama ini, ia hanya meratapi kehilangan, tanpa menyadari bahwa Adam telah memberikan petunjuk jalan keluar. Cara move on setelah ditinggal suami adalah dengan menemukan kembali kekuatan dalam diri sendiri, dan Emily menyadari, Adam sudah tahu itu.
Emily memakai cincin itu di jari manisnya, di samping cincin pernikahannya. Ia merasa Adam ada di sana, di sampingnya, mendukungnya. Ia merasa tidak lagi sendiri. Ia merasa Paris, yang dulunya terasa dingin dan asing, kini terasa hangat dan akrab. Ini bukan karena Paris telah berubah, tetapi karena Emily yang telah berubah. Ia telah membuka hatinya untuk menerima bahwa cinta tidak pernah mati, meskipun orangnya sudah tiada.
Malam itu, Emily menelepon Antoine. Ia menceritakan tentang cincin yang ditemukannya. Antoine mendengarkan dengan penuh empati, dan Emily merasa sangat lega. Ia menyadari, persahabatan di Paris ini adalah bagian penting dari perjalanannya. Antoine adalah seorang teman yang mengerti, seorang teman yang juga pernah merasakan duka, dan seorang teman yang memberinya kekuatan.
Emily melihat ke luar jendela. Menara Eiffel terlihat dari kejauhan, memancarkan cahaya yang indah. Ia tersenyum. Paris yang ia impikan telah menjadi kenyataan, bukan karena ia menemukan romansa, tetapi karena ia menemukan kembali dirinya sendiri. Novel tentang duka yang ia tulis kini bukan lagi tentang akhir, tetapi tentang awal yang baru. Ia menyadari, cara bangkit dari keterpurukan adalah dengan menerima masa lalu, merayakan kenangan, dan membuka hati untuk masa depan. Emily siap untuk babak selanjutnya. Ia siap untuk melanjutkan hidup, dengan cinta Adam yang abadi di dalam hatinya, dan cincin di jarinya sebagai pengingat.
