Kael tidak punya waktu untuk merasa takut. Saat Brokk menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar, Kael segera mengaktifkan gema kartunya. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkan tiga kartu yang berbeda ke tanah: sebuah kartu monster dengan perisai Human, sebuah kartu makhluk Fae kecil yang ia dapat dari Lyra, dan sebuah kartu penyembuhan yang ia buat sendiri. Kekuatan gema dari kartu-kartu itu menyatu, membentuk sebuah perisai energi di depan Kael.
Lyra yang menyaksikan dari kejauhan terkejut melihat Kael menggunakan gema kartunya dengan cara yang begitu spontan. "Dia belajar dengan cepat," gumamnya. "Tapi apakah itu cukup?"
Brokk menyerang perisai Kael dengan tinjunya yang sekeras batu. Perisai itu bergetar, tetapi tidak pecah. Kael merasakan dampak benturan itu, namun ia berhasil bertahan. Ia tahu ia tidak bisa mengalahkan Brokk secara fisik, jadi ia harus mengandalkan strategi.
"Ini bukan tentang kekuatan!" teriak Kael pada Brokk. "Ini tentang menyelamatkan Terravia!"
Brokk mengabaikan teriakan Kael. Ia terus menyerang, dan perisai Kael mulai retak. Kael tahu ia harus melakukan sesuatu yang lain. Ia memfokuskan gema dari kartu penyembuhannya. Alih-alih menyembuhkan dirinya sendiri, ia mengarahkan energi itu ke kaki Brokk. Brokk terkejut, ia merasa sedikit lemas, dan serangannya melambat.
"Aku tidak ingin bertarung denganmu!" teriak Kael lagi, mencoba untuk mendapatkan perhatian Brokk. "Mortii adalah musuh kita!"
"Semua fraksi adalah musuh kami!" raung Brokk. "Kalian semua ingin mencuri dari kami!"
Kael tahu bahwa kemarahan Brokk berasal dari trauma masa lalu. Ia harus menemukan cara untuk menghubunginya. Kael memejamkan mata, memfokuskan semua energinya pada gema dari kartu Elara. Ia membiarkan Brokk merasakan kesedihan, ketakutan, dan cinta yang ia rasakan.
Brokk, yang sedang menyerang, tiba-tiba berhenti. Ia merasakan gema dari kartu Elara. Itu bukan gema sihir, bukan gema kekuatan, tetapi gema emosi. Ia merasakan rasa sakit seorang kakak yang kehilangan adiknya, dan ia merasakan ketakutan seorang anak kecil yang diculik. Brokk, yang selama ini hanya mengandalkan kekuatan fisik, merasa bingung.
"Apa... apa ini?" gumam Brokk. "Sihir macam apa ini?"
Kael membuka matanya. "Ini bukan sihir, Brokk. Ini adalah gema. Ini adalah perasaan. Aku tahu kau juga merasakan rasa sakit. Aku tahu kau juga pernah kehilangan. Kita tidak berbeda, Brokk. Kita hanya ingin melindungi orang-orang yang kita cintai."
Brokk menatap Kael, lalu melihat ke arah Lyra, yang juga merasakan gema itu. Lyra mengangguk, meyakinkan Kael. Brokk, yang selama ini hanya hidup dalam kebencian, mulai merasakan sedikit kebingungan. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi emosi ini.
"Aku... aku tidak tahu," kata Brokk, suaranya sedikit gemetar. Ia menurunkan tinjunya.
Kael melihat kesempatan itu. "Heart of the Sanctuary adalah satu-satunya harapan kita untuk mengakhiri perang ini. Mortii menculik Elara untuk menggunakannya. Kau harus membantu kami, Brokk. Kau harus membantu kami menyelamatkan Terravia."
Brokk menatap Kael, lalu Lyra, lalu ke arah pegunungan. Ia melihat ke belakang, melihat sejarah kehancuran. Ia juga merasakan gema yang sama, yang berbicara tentang harapan.
Akhirnya, Brokk mengangguk. "Aku akan membantumu," katanya, suaranya penuh tekad. "Tapi jika kau mengkhianatiku, aku akan menghancurkanmu."
Kael tersenyum lega. "Terima kasih, Brokk. Kami tidak akan mengkhianatimu."
Dengan kesepakatan itu, persekutuan yang tak terduga antara Human, Fae, dan Neander telah terbentuk. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah awal dari petualangan yang jauh lebih besar, sebuah petualangan yang akan menguji batas-batas kepercayaan mereka, dan membawa mereka ke jantung kegelapan.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
