Di jantung Pulau Primaterra, jauh dari peta digital dan jangkauan sinyal satelit, terbentanglah Hutan Evergreen. Ini bukan hutan biasa. Jika dunia manusia memiliki biome fantasi, Evergreen adalah ibukota provinsinya. Cahaya matahari nyaris tidak menyentuh tanahnya yang empuk, tersaring menjadi bias kehijauan dan keemasan melalui kanopi pepohonan raksasa yang batangnya selebar rumah dua lantai. Lumut berpendar lembut di malam hari, dan jamur kristal tumbuh di sepanjang aliran sungai yang airnya terasa seperti air pegunungan dingin yang baru saja disuling.
Di sinilah, di bawah naungan pakis purba, kehidupan berjalan dalam siklus sempurna yang telah berlangsung ribuan tahun. Para penghuni hutan adalah makhluk-makhluk yang dilupakan oleh evolusi di tempat lain: kumbang seukuran kepalan tangan dengan cangkang safir, burung kolibri yang sayapnya mengepak secepat cahaya, dan—tentu saja—trio penjaga hutan yang paling tidak biasa.
Pada suatu pagi yang tenang, ketenangan alam sedikit terganggu oleh dengungan keras yang terdengar seperti helikopter mainan yang tersangkut di pohon beringin. Sumber suara itu adalah Bumble, seekor lebah raksasa dengan ukuran sedikit lebih besar dari bola basket, dengan garis-garis kuning-hitam yang mencolok dan sepasang mata majemuk yang selalu terlihat cemas.
Bumble sedang sibuk. Sangat sibuk. Dia terbang melayang di atas ladang bunga Nectarina Crystallis, bunga langka yang kelopaknya berkilau seperti kaca.
"Astaga, astaga! Stok madu musim dingin hanya tersisa dua guci!" dengungnya panik, suaranya melengking dan cepat, memantul di antara pohon-pohon. Dia sibuk mengumpulkan nektar dengan kecepatan hiperaktif, seolah-olah seluruh pasokan gula di dunia akan lenyap dalam hitungan detik. Bagi Bumble, manajemen sumber daya adalah persoalan hidup dan mati, dan dia adalah manajer yang sangat stres.
Tak jauh dari situ, di dahan pohon ara raksasa, Spinner mengamati Bumble dengan tatapan tenang dan sabar. Spinner adalah laba-laba seukuran piring makan, dengan delapan kaki ramping yang bergerak dengan keanggunan seorang penari balet. Bulunya sehitam malam, kecuali tanda bulan sabit perak di punggungnya. Dia sedang sibuk merajut. Bukan jaring laba-laba biasa untuk menangkap mangsa, melainkan sebuah syal wol berwarna maroon untuk Leo, yang selalu mengeluh kedinginan saat malam hari.
"Tenanglah, Bumble," kata Spinner dengan suara lembut dan merdu, benang sutranya yang sekuat kawat baja terentang rapi di antara jari-jari kakinya. "Musim dingin masih tiga bulan lagi. Kamu punya cukup madu untuk memberi makan satu desa pikmin."
"Kamu tidak mengerti, Spinner! Manajemen inventaris itu krusial! Kalau kehabisan, siapa yang mau disalahkan? Aku kan kepala logistik di sini!" balas Bumble, berputar 180 derajat di udara dan hampir menabrak kepompong.
Di dasar pohon ara, di tempat yang paling nyaman dan disinari matahari pagi, ada Leo. Sang kucing hutan raksasa, seukuran harimau benggala, sedang tidur telentang. Cakar putihnya yang besar sesekali bergerak seolah sedang mengejar tikus dalam mimpinya. Leo adalah yang tertua, paling bijak, dan paling malas di antara trio tersebut. Dia mewakili stereotipe kucing dengan sempurna: akan bergerak hanya jika ada makanan, bahaya yang mengancam nyawa, atau jika ada laser pointer yang menyala.
Dengungan panik Bumble dan suara tenang Spinner tidak cukup untuk membangunkannya.
"Leo! Bangun! Ada krisis nektar!" teriak Bumble, kini terbang tepat di atas wajah Leo.
Leo hanya mendengkur, lalu menjilat cakarnya dengan acuh tak acuh sebelum kembali tidur.
Spinner menghela napas. "Biarkan saja dia. Dia menyimpan energinya untuk 'pertarungan eksistensial' yang dia yakini akan datang suatu hari nanti."
Kehidupan di Hutan Evergreen adalah sebuah komedi kehidupan sehari-hari, sebuah drama teater yang dimainkan oleh tiga makhluk yang seharusnya menjadi musuh alami tetapi dipersatukan oleh takdir yang aneh. Mereka adalah anomali alam, sebuah party RPG yang sempurna: satu tank yang malas (Leo), satu support/strategis (Spinner), dan satu DPS/panik (Bumble).
Mereka tidak tahu bahwa siklus sempurna dan rutinitas lucu mereka akan segera berakhir. Di luar batas Hutan Evergreen, dunia manusia telah mencapai titik jenuh. Kota-kota metropolitan meluas, dan kebutuhan akan kayu, lahan, dan sumber daya alam telah mengarahkan mata serakah peradaban tepat ke arah hutan fantasi mereka.
Pagi itu, saat Bumble menghitung ulang guci madunya dan Spinner menyelesaikan syal maroon pertamanya, tanda pertama invasi muncul.
Bukan suara guntur, atau auman predator. Itu adalah bau. Bau tajam asap diesel dan sesuatu yang terbakar, aroma yang asing dan mengganggu di udara hutan yang murni.
Leo, yang sedetik sebelumnya mendengkur, tiba-tiba membuka mata hijaunya yang tajam. Telinganya berputar ke arah perbatasan selatan hutan. Dengus malasnya menghilang, digantikan oleh kerutan serius di dahinya.
Bumble berhenti terbang, mencium udara, dan bergidik. "Bau apa itu? Bukan bau bunga. Baunya seperti... stres yang dibakar."
Spinner menghentikan rajutannya, benang sutra menggantung tegang. "Itu bau logam, asap, dan... keserakahan," bisiknya.
Trio penjaga hutan saling berpandangan. Dunia Hijau Tersembunyi mereka, Evergreen yang sempurna, baru saja mendapatkan quest utama pertamanya. Dan kali ini, bosnya bukan babi hutan raksasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: Manusia.
Petualangan fantasi RPG mereka baru saja dimulai.
