Listen Before I Go menceritakan puisi-puisi puncak keikhlasan Lev Ryley melepas Vania Larasati di Banjarbaru.
Gerimis tipis membasuh aspal di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Banjarbaru. Bagi orang lain, suara rintik yang menghantam atap seng adalah melodi pengantar tidur yang menenangkan. Namun bagi Lev Ryley, setiap tetesan air yang jatuh sore itu terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa-sisa kewarasannya.
Tepat setahun yang lalu, di bawah langit yang sama, dunia Lev runtuh berkeping-keping.
Lev berdiri di depan jendela kamarnya yang mengarah langsung ke arah pemakaman di pinggiran kota. Di usianya yang kini menginjak 21 tahun, wajahnya tak lagi memancarkan binar pemuda awal dua puluhan. Ada garis keletihan yang permanen di bawah matanya. Di tangannya, sebuah buku catatan bersampul kulit kusam digenggam erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, eksistensi dirinya akan ikut menguap.
"Sudah setahun, Van," bisiknya pada udara kosong. Suaranya serak, jarang digunakan untuk berbicara dengan manusia lain belakangan ini.
Ia teringat Vania Larasati. Gadis itu meninggal di usia 20 tahun, tepat saat bunga-bunga impian mereka baru saja mulai kuncup. Kanker itu datang tanpa permisi, menggerogoti tubuh mungil Vania hingga yang tersisa hanyalah sepasang mata jernih yang selalu berusaha tersenyum, meski maut sudah berdiri di ambang pintu rumah sakit di Banjarbaru kala itu.
Lev meletakkan buku catatannya di atas meja. Ia menyalakan lampu meja yang temaram, lalu mulai menggoreskan pena. Hari ini, ia tidak ingin meratap. Ia ingin memberikan sebuah peringatan kepada dunia yang seringkali lupa bahwa nafas adalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja.
Ia menuliskan tajuk besar di halaman baru: LISTEN BEFORE I GO.
Dengarkan aku, sebelum aku benar-benar melangkah pergi dari ingatanmu.
Pena Lev menari, menumpahkan tinta yang terasa seperti darah dari luka yang belum kering.
Puisi: Listen Before I Go (Bagian I)
Dengarkanlah, wahai penduduk bumi yang sibuk,
Sebelum deru nafasku menjadi sunyi yang abadi.
Di Banjarbaru, aku mengubur separuh jiwaku dalam tanah merah,
Di usia dua puluh, saat dunia baru saja menjanjikan tawa,
Vania-ku pulang, meninggalkan jejak kanker yang merobek dada.
Dengarkanlah, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan pesan ini,
Bahwa cinta yang kau puja-puji itu hanyalah titipan,
Jangan tunggu maut mengetuk pintu kamarmu untuk mulai bersujud,
Karena ketika Tuhan berkehendak, tak ada doa yang bisa menawar waktu.
Air mata Lev jatuh tepat di atas kata "waktu", membuat tintanya sedikit melebar. Ia teringat momen terakhir di rumah sakit setahun lalu. Vania, dengan suara yang hampir hilang, membisikkan kalimat yang menjadi alasan Lev masih bernafas hingga detik ini: "Lev, tuliskan tentang kita. Bukan untuk membuat orang menangis, tapi agar mereka tahu bahwa Allah adalah satu-satunya tempat pulang."
Lev menarik nafas panjang, mencoba mengusir sesak yang menghimpit paru-parunya. Ia tahu, bab pertama dari hidupnya tanpa Vania baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang patah hati; ia adalah seorang pembawa pesan.
Malam itu di Banjarbaru, di tengah kesunyian yang mencekam, lahirlah sebuah karya yang kelak akan dibaca oleh jutaan orang yang kehilangan arah. Sebuah karya tentang bagaimana mencintai kehilangan, dan bagaimana mendengar suara Tuhan di balik sunyinya perpisahan.
Lev kembali menulis. Ia tahu, perjalanannya mengabadikan nama Vania Larasati dalam literasi Islami yang paling menyentuh baru saja dimulai.
