Kael, Lyra, dan Brokk berdiri terpaku di ruangan terang itu, menatap pemandangan di depan mereka dengan tidak percaya. Altar dengan Heart of the Sanctuary yang bersinar terang, Lord Malakor yang berdiri di dekatnya dengan seringai kemenangan, dan Elara yang terlihat kaku, seperti sebuah boneka, dengan matanya yang kosong. Gema dari kartu Elara di tangan Kael terasa sakit, bukan lagi gema harapan, melainkan gema dari sebuah ikatan yang dipaksakan.
"Aku tahu kalian akan datang," kata Lord Malakor, suaranya terdengar mengerikan. "Aku tidak menyangka kalian akan secepat ini, tapi aku senang. Kael, pembuat kartu yang begitu naif. Lyra, peri hutan yang penuh amarah. Dan Brokk, Neander bodoh yang hanya tahu kekuatan."
Brokk menggeram, mencoba menyerang, tetapi ia tiba-tiba berhenti. Ia merasa ada sesuatu yang menahan dirinya, sebuah kekuatan tak terlihat yang mengikatnya. "Sihir macam apa ini?"
"Sihir paling kuno," jawab Malakor, tertawa. "Sihir kegelapan yang mengikat ikatan. Kau tidak bisa bergerak, Brokk. Dan kau, Lyra, sihirmu juga tidak akan berfungsi di sini."
Lyra mencoba menggunakan sihirnya, tetapi ia tidak bisa. Ia merasa seolah-olah energinya disedot oleh ruangan itu.
"Kael," kata Malakor, menatap Kael dengan tajam. "Kau bisa merasakan gema, bukan? Kau bisa merasakan bahwa aku tidak menculik Elara, melainkan meminjamnya. Jiwanya telah terikat dengan Heart of the Sanctuary, dan dengan kekuatan kegelapan, ia akan membantuku mengendalikan dunia ini."
Kael melihat ke arah Elara, dan ia bisa merasakan gema itu, gema yang telah ia rasakan selama ini, kini terikat dengan sihir Mortii. Elara tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Ia menjadi sebuah boneka, sebuah alat untuk Malakor.
"Kau akan membayar ini!" teriak Kael, mengeluarkan kartu penjaga Human-nya.
"Aku akan membiarkannya," kata Malakor, tersenyum sinis. "Karena, kau tidak bisa menyentuhku. Dan bahkan jika kau bisa, kau tidak akan bisa mengalahkanku."
Kael melemparkan kartu penjaga Human-nya ke arah Malakor, tetapi kartu itu berhenti di udara, tertahan oleh kekuatan sihir Mortii. Kartu itu kembali ke tangan Kael, tidak berdaya. Kael merasakan keputusasaan. Ia telah jatuh ke dalam jebakan.
"Kau telah dimanipulasi, Kael," kata Malakor. "Bukan hanya olehku, tetapi oleh kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang telah mengawasi kita semua. Kekuatan yang ingin melihat Terravia hancur."
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Kael, bingung.
"Kau akan mengetahuinya," kata Malakor, tertawa. Ia mengangkat tangannya, dan Heart of the Sanctuary mulai bersinar lebih terang. Elara, yang masih seperti boneka, juga mulai bersinar. Kekuatan Mortii menyebar ke seluruh ruangan.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kepala Kael. Itu adalah suara gema dari kartu Elara. "Aku... tidak bisa... dikendalikan... Kael... cari... bijak... misterius..."
Kael tersentak. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa melawan Malakor sekarang. Ia harus mencari bijak misterius yang disebutkan oleh Malakor dan suara Elara.
Kael menoleh ke arah Lyra dan Brokk, dan ia melihat mereka berdua juga terjebak. Ia harus menyelamatkan mereka, tetapi ia tidak bisa melawan Malakor. Ia harus lari.
"Maafkan aku," bisik Kael. Ia memfokuskan gema dari semua kartunya, dan menciptakan sebuah ledakan energi yang melontarkan dirinya keluar dari gua. Ia berlari sekuat tenaga, meninggalkan gua Mortii di belakangnya, dengan perasaan gagal dan pengkhianatan yang mendalam.
Kael tidak tahu apakah ia akan bisa kembali. Ia tidak tahu apakah ia bisa menyelamatkan Elara. Tetapi ia tahu satu hal: ia harus menemukan bijak misterius itu. Hanya bijak itu yang bisa memberinya jawaban, dan mungkin, harapan untuk menyelamatkan Terravia.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
