Setelah meninggalkan gua Kili Suci, Kael berjalan dengan perasaan yang berbeda. Beban di hatinya belum sepenuhnya hilang, namun kini diselimuti oleh pemahaman baru. Kata-kata bijak tentang memaafkan terus terngiang di benaknya. Ia menyadari bahwa kebencian yang ia rasakan terhadap Malakor dan Mortii adalah belenggu yang membuatnya lemah, sama seperti Lyra dan Brokk yang terikat oleh sihir kegelapan. Untuk bisa mengalahkan Malakor dan menyelamatkan Elara, ia harus membebaskan dirinya dari belenggu itu terlebih dahulu.
Kael menemukan sebuah tempat yang damai di tepi sungai, di bawah naungan pohon tua dengan dedaunan yang rimbun. Ia duduk bersila, mengeluarkan semua kartu yang ia miliki, dan meletakkannya di depannya. Ia mengambil kartu Elara, menggenggamnya erat-erat, dan mencoba bermeditasi seperti yang diajarkan Lyra. Namun, kali ini, ia tidak berusaha mendengar gema dari kartu-kartunya. Sebaliknya, ia mencoba mendengarkan gema dari jiwanya sendiri.
Ia memejamkan mata, membiarkan kenangan pahit melintas di pikirannya: desanya yang terbakar, wajah Elara yang ketakutan saat diculik, senyuman sinis Malakor, dan pengkhianatan yang terasa begitu nyata. Ia membiarkan kemarahan dan kebencian mengalir, bukan untuk dipendam, melainkan untuk dilepaskan.
"Aku memaafkanmu, Malakor," bisik Kael dalam hatinya. "Aku memaafkan kebencian yang telah menyelimuti hatimu. Aku memaafkan tindakanmu. Bukan karena kau pantas mendapatkannya, tetapi karena aku harus melepaskanmu."
Saat ia mengucapkan kata-kata itu, gema dari kartu Elara bergetar hebat. Tapi bukan karena kesedihan atau keputusasaan, melainkan karena kebebasan. Kael merasakan koneksi yang ia miliki dengan Elara tidak lagi terikat oleh sihir kegelapan, melainkan oleh kekuatan yang lebih besar—kekuatan cinta.
Tiba-tiba, kartu-kartu yang ia letakkan di depannya mulai bersinar. Bukan hanya kartu Elara, tetapi juga kartu-kartu lainnya. Gema dari setiap kartu kini terasa berbeda. Tidak lagi hanya sekadar perwujudan kekuatan fisik atau sihir, tetapi juga perwujudan dari emosi. Kartu penjaga Human-nya tidak lagi hanya berbicara tentang kekuatan, tetapi juga tentang keberanian. Kartu penyembuhannya tidak lagi hanya berbicara tentang penyembuhan, tetapi juga tentang harapan.
Kael merasa seperti telah membuka dimensi baru dari gema. Ia tidak lagi hanya mendengarkan suara kartu, tetapi juga merasakan gema dari jiwa mereka. Gema dari jiwa Lyra, yang penuh cinta terhadap alam, dan gema dari jiwa Brokk, yang penuh dengan keinginan untuk melindungi sukunya. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah sendirian. Mereka semua terhubung oleh gema, gema dari jiwa-jiwa yang sama-sama ingin kedamaian.
Kael bangkit berdiri, merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia telah menemukan kekuatan baru, kekuatan yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia telah menemukan kekuatan pemaafan, dan ia telah membuka jalan baru untuk gema kartunya. Ia tahu bahwa ia sekarang siap untuk kembali ke wilayah Mortii, menghadapi Malakor, dan menyelamatkan Elara. Dan kali ini, ia akan melakukannya dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan fisik atau sihir—kekuatan cinta dan pemaafan.
