Tahun-tahun berlalu, dan Kesultanan Banjar di bawah kepemimpinan Sultan Suriansyah mencapai masa keemasan. Hubungan diplomatik terjalin dengan banyak kerajaan lain, termasuk Demak, Banten, dan Makassar. Sultan Suriansyah memimpin dengan adil dan bijaksana, memastikan setiap rakyatnya, baik yang tinggal di kota maupun di pedalaman, mendapatkan hak mereka.
Masjid agung di Daha telah selesai dibangun, menjadi pusat kegiatan agama, pendidikan, dan budaya. Di sana, Khatib Dayyan, yang kini menjadi ulama besar di Banjar, mengajarkan Islam dengan penuh kedamaian. Banyak rakyat Banjar, termasuk para bangsawan lama, akhirnya menerima Islam dengan hati terbuka, melihat bahwa Islam tidak menghancurkan tradisi mereka, tetapi justru melengkapinya.
Sangkuriang, yang kini menjadi Panglima Angkatan Laut Banjar, memastikan keamanan jalur-jalur sungai dan laut. Pasukannya berhasil menumpas semua perompak dan melindungi perdagangan Banjar. Di bawah kepemimpinannya, Banjar menjadi kekuatan maritim yang disegani.
Bagus, yang kini menjadi Panglima Angkatan Darat Banjar, melatih pasukannya dengan taktik gerilya yang cemerlang. Pasukannya berhasil mempertahankan perbatasan Banjar dari serangan-serangan kerajaan tetangga. Di bawah kepemimpinannya, Banjar menjadi kekuatan darat yang tangguh.
Gendut, yang kini menjadi penasihat pribadi Sultan Suriansyah, selalu berada di sisinya, memberikan nasihat-nasihat yang bijaksana. Ia adalah bukti bahwa kesetiaan akan selalu dihargai.
Suatu hari, ketika Sultan Suriansyah sudah tua dan beruban, ia berjalan sendirian di tepi sungai, tempat ia dulu memulai perjalanannya. Ia melihat matahari terbenam, memancarkan cahaya keemasan di atas air. Ia melihat anak-anak kecil bermain di tepi sungai, para nelayan yang sedang pulang, dan para saudagar yang sedang berdagang. Ia melihat kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Ia teringat kembali semua yang telah ia lalui: pelarian dari istana, pertempuran di hutan dan sungai, perjalanan ke Jawa, dan perjuangan untuk membangun Banjar yang baru. Ia merasa bangga. Ia telah memenuhi janjinya, ia telah membawa perubahan bagi rakyatnya, dan ia telah membangun warisan yang akan bertahan selamanya.
Ketika ia meninggal, ia dikenang sebagai Sultan Suriansyah, pendiri Kesultanan Banjar. Ia adalah pahlawan yang tidak hanya merebut kembali takhtanya, tetapi juga membawa cahaya baru bagi rakyatnya. Ia adalah Maharaja Samudra, yang dengan tekad membara, mengarungi gelombang darah di Tanah Banjar, dan mengukir namanya di dalam sejarah.
Bab ini berakhir dengan wafatnya Sultan Suriansyah, tetapi warisannya tetap hidup. Kesultanan Banjar akan terus berkembang, dan kisahnya akan diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa keadilan, kesetiaan, dan keberanian akan selalu menang.
