Malam merayap di atas atap seng rumah Lev Ryley. Suasana di Banjarmasin kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena udara yang sedikit lebih sejuk dari biasanya, tetapi juga karena malam ini memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Hawa magis, atau setidaknya religius, menyelimuti udara, memunculkan harapan akan turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan.
Lev, setelah sesi maraton gaming yang gagal membuahkan Minotaur Card, merasa sedikit letih. Namun, dia teringat akan keutamaan malam ini. Dengan sedikit paksaan pada dirinya sendiri, dia mematikan konsol PS1 dan mengambil air wudhu.
Selesai salat Isya dan tarawih berjamaah di masjid, Lev memutuskan untuk tidak langsung tidur. Dia ingin menghidupkan malam dengan ibadah, sebagaimana anjuran ustaz di masjid tadi. "Siapa tahu malam ini Lailatul Qadar turun di kamar gamer," pikirnya polos.
Saat sedang mencari sajadah di lemari kamarnya, matanya menangkap sebuah kotak kecil di sudut paling belakang lemari. Kotak itu berdebu dan terlihat kuno. Di dalamnya, ada beberapa kaset PS1 lama yang sudah ia lupakan keberadaannya. Di antara tumpukan Winning Eleven dan Pepsiman, terselip sebuah kaset CD hitam legam tanpa label yang jelas.
CD itu memancarkan kilau aneh saat terkena cahaya lampu kamar Lev yang redup. Anehnya, CD itu terasa dingin saat disentuh, padahal suhu kamar cukup hangat. Rasa penasaran Lev muncul. Ini bukan kaset yang ia kenal.
"Kaset apaan ini? Kayaknya bukan koleksi gue deh," gumamnya.
Melawan rasa kantuk dan godaan untuk kembali bermain FF8 yang sudah ada di konsolnya, Lev memutuskan untuk mencoba kaset misterius ini. Dia mengeluarkan CD FF8 yang sudah terpasang, meletakkannya dengan rapi, dan memasukkan CD hitam tanpa label itu ke dalam PS1.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi bersahutan. Angin malam masuk melalui ventilasi, membawa aroma khas Sungai Martapura. Lev duduk bersila di depan TV tabungnya, menekan tombol Power.
Layar TV menyala dengan glitch putih sesaat, lalu menampilkan logo Square yang familiar, tapi dengan font yang sedikit berbeda. Musik pembuka Liberi Fatali tidak mengalun. Sebaliknya, yang terdengar adalah semacam dengungan rendah yang aneh, seperti suara angin yang terperangkap dalam botol kaca.
Menu utama muncul: New Game dan Load Game. Lev memilih New Game.
"Malam Lailatul Qadar kok malah main game aneh," Lev mengomel pada dirinya sendiri, merasa sedikit bersalah. Dia mencoba fokus pada ibadahnya, tapi rasa penasaran gamer lebih kuat.
Tiba-tiba, televisi Lev mulai berkedip-kedip. Gambarnya menjadi sangat terdistorsi. Warna-warna RGB melompat-lompat liar di layar, diiringi suara static yang keras. Suhu di kamar Lev mendadak turun drastis. Napas Lev mulai terlihat menjadi uap.
"Woy! TV gue rusak nih!" Lev mencoba memukul bagian atas TV tabungnya, metode klasik memperbaiki barang elektronik di Banjarmasin.
Bukannya membaik, kondisi semakin parah. Layar TV yang tadinya hanya ber-glitch, kini menampilkan pusaran cahaya putih yang menyilaukan mata. Dengungan rendah berubah menjadi lolongan angin yang menakutkan. Benda-benda ringan di kamar Lev, seperti poster Squall dan peci di meja, mulai terbang dan berputar di sekitar pusaran cahaya.
Lev mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Dia merasa ada gaya tarik yang sangat kuat berasal dari TV.
"Astaghfirullah! Jin game apa ini?!" teriak Lev panik, mencoba meraih kaligrafi di dinding.
Pusaran cahaya itu semakin membesar, meluas keluar dari layar TV, membentuk portal yang terbuat dari miliaran piksel cahaya putih kebiruan. Gaya tariknya menjadi luar biasa kuat, menarik tubuh Lev yang kurus kering ke arahnya.
Lev mencoba membaca ayat kursi, tapi lisannya kelu. Dia hanya bisa menjerit histeris saat tubuhnya tertarik masuk ke dalam portal cahaya. Dalam sepersekian detik, dia melihat kilasan-kilasan kehidupan nyata dan dunia game: wajah Hajjah Halimah, pemandangan Sungai Martapura, limit break Squall, dan wajah kucing yang mengejeknya sore tadi.
Dalam sekejap mata, Muhammad Lev Ryley, pemuda jomblo akut dari Banjarmasin, menghilang ditelan pusaran cahaya piksel.
Di dunia nyata, di kamar Lev yang kini kosong, CD hitam tanpa label berhenti berputar. TV tabung kembali normal, menampilkan layar menu New Game yang sunyi. Satu-satunya bukti kejadian aneh itu adalah peci haji Lev yang tergeletak di lantai, tepat di depan televisi, seolah-olah sang pemilik meninggalkannya tergesa-gesa untuk sebuah perjalanan yang sangat jauh dan tidak masuk akal.
Di luar, malam Lailatul Qadar tetap menyimpan misterinya. Namun, bagi keluarga Ryley, malam itu menjadi awal dari misteri yang jauh lebih besar: hilangnya Lev yang dikira kesurupan jin game online oleh warga komplek.
