Setting: Tiga hari kemudian di rumah kontrakan Lev di daerah Kayutangi, Banjarmasin, dan Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Tiga hari setelah resolusi di kafe terapung, rumah kontrakan Lev di Kayutangi berubah menjadi markas komando logistik darurat. Barang-barang berserakan di ruang tamu: ransel gunung, koper, kantong tidur, peta Indonesia yang sudah penuh coretan stabilo, dan tumpukan kotak P3K dari Aisyah.
Aisyah, dengan kemeja rapi dan hijab yang tertata sempurna, sedang memegang clipboard dan mendaftar ulang semua barang bawaan. Wajahnya tegang.
"Oke, Faris. Kamu sudah masukkan tenda dome kapasitas empat orang?" tanyanya tanpa menoleh.
Faris, yang sedang duduk santai di sofa sambil mengecek power banknya, mengangguk. "Udah, Bu Ketua."
"Lev, survival kit-nya sudah masuk ransel utama?"
Lev, yang sedang bergulat dengan tali-temali di ranselnya, mengacungkan jempolnya yang kotor. "Aman, Sya!"
"Zahra? Kamu lagi ngapain?" Aisyah menoleh ke arah sudut ruangan, di mana Zahra sedang berjongkok di depan sebuah koper besar berwarna pink mencolok.
Zahra menoleh dengan wajah penuh keringat dan panik. "Ini, Sya... koperku nggak mau nutup."
Aisyah mendekat, dan matanya langsung membelalak kaget. Di dalam koper Zahra, ada setumpuk baju gamis cantik, beberapa pasang sepatu hak tinggi, satu set alat make-up lengkap, dan sebuah boneka beruang kecil. Tidak ada baju outdoor yang layak.
"Ya Allah, Zahra! Kita mau hiking ke Bromo dan Raja Ampat, bukan kondangan!" seru Aisyah, menunjuk sepatu hak tinggi Zahra dengan pensilnya.
Zahra cemberut. "Tapi kan, Sya, look itu penting! Gimana kalau aku ketemu bule ganteng di Bali? Masa aku pakai celana kargo kumal ini?" Dia menunjukkan celana cargo pinjaman milik Faris yang kebesaran.
Lev dan Faris yang mendengar perdebatan itu tidak bisa menahan tawa mereka.
"Ra, kita ini mau backpacker-an, bukan fashion show," ujar Faris, masih tertawa. "Lagian, bule ganteng mana yang mau sama cewek yang bawa koper pink segede gajah?"
Zahra melotot. "Ini namanya persiapan matang fashion! Kalian nggak ngerti seni!"
Hampir dua jam waktu mereka habis hanya untuk menyeleksi barang bawaan Zahra. Aisyah dengan tegas menyita sebagian besar gamis dan sepatu hak tinggi Zahra, menggantinya dengan beberapa pasang celana gunung, kaus, dan sandal gunung. Zahra merajuk sepanjang proses pengepakan ulang itu.
"Oke, semua beres," kata Aisyah akhirnya, setelah berhasil menutup ransel Zahra yang sudah lebih masuk akal ukurannya. "Kita berangkat besok pagi. Penerbangan pertama ke Banda Aceh. Semua harus istirahat cukup."
Keesokan paginya, suasana di Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru (bandara utama Banjarmasin) terasa sedikit haru. Keluarga mereka datang untuk melepas kepergian empat sekawan itu.
Ibu Lev memeluk anaknya erat-erat. "Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan lupa sholat, jangan lupa makan, dan jangan lupa hubungi Ibu setiap hari."
"Iya, Bu, siap," jawab Lev sambil tersenyum.
Di sisi lain, orang tua Aisyah memberikan wejangan panjang lebar tentang keselamatan dan adab bepergian dalam Islam. Aisyah mendengarkan dengan khidmat.
"Jaga teman-temanmu ya, Nak. Terutama Zahra, dia itu suka ceroboh," pesan Ayah Aisyah. Zahra, yang mendengarnya dari jauh, langsung memajukan bibirnya.
"Dadah, Mami, Papi! Doakan aku viral!" teriak Zahra sambil melambaikan tangan ke orang tuanya.
Faris hanya tersenyum melihat semua drama itu. Ia anak tunggal dan orang tuanya sudah terbiasa dengan kepergiannya untuk urusan pekerjaan, tapi kali ini terasa berbeda.
"Tiket sudah di tangan," kata Faris, menunjukkan empat lembar tiket pesawat. "Kita siap terbang."
Setelah salam-salaman dan pelukan perpisahan, empat sahabat itu melangkah masuk ke ruang tunggu. Beban di punggung mereka berat, tetapi beban di hati mereka terasa ringan. Perasaan campur aduk antara takut, antusias, dan penasaran memenuhi udara.
"Aceh, kami datang!" bisik Lev, menatap jendela pesawat yang mulai bergerak menuju landasan pacu.
Di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut, mereka meninggalkan Pulau Kalimantan, rumah tercinta mereka. Lev Ryley, Aisyah, Zahra, dan Faris siap memulai babak baru kehidupan mereka, sebuah perjalanan panjang yang akan mengubah cara pandang mereka tentang Indonesia, tentang persahabatan, dan tentang makna menjadi seorang muslim di negeri yang kaya raya ini. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
