Udara subuh di Jalan Ahmad Yani terasa sejuk dan lengang. Lev memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, melintasi perbatasan Banjarmasin menuju Kabupaten Banjar. Di sebelah kanan dan kiri jalan, pepohonan rimbun dan beberapa area rawa masih diselimuti kabut tipis. Anindya sibuk menenangkan Aisyah yang terbangun dan langsung meminta susu serta biskuit.
"Kita mampir rest area sebentar ya, Nak. Umi bikin susu dulu di termos," bujuk Anindya.
"Nggak usah, Nindya. Kita lanjut terus, rest area-nya di dekat bundaran simpang empat Banjarbaru aja," kata Lev, fokus menyetir. "Kita harus cepat sampai Martapura, biar dapat parkir dekat Ar-Raudhah dan bisa ziarah dengan tenang sebelum peziarah dari rombongan besar datang."
Target utama pagi ini adalah Kubah Guru Sekumpul, makam dari KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama karismatik yang dicintai jutaan umat di Kalimantan bahkan Nusantara. Bagi masyarakat Banjar, ziarah ke Sekumpul adalah sebuah ritual wajib yang menenteramkan hati.
Sekitar pukul 06.30 WITA, mereka memasuki kota Martapura, kota santri yang tenang. Suasana kota ini terasa berbeda; aura religiusnya lebih kental. Lev mulai sedikit gugup, bukan karena takut tersesat, tapi karena rasa rindu yang mendalam pada sosok Guru Sekumpul yang wafat pada tahun 2005 silam.
Jalan menuju Kompleks Ar-Raudhah mulai padat. Lev harus memarkir mobilnya sedikit lebih jauh dari area makam. Mereka berjalan kaki sekitar lima belas menit, menyusuri jalan kecil yang dipenuhi penjual kembang ziarah, minyak misik, dan pernak-pernik Islami.
"Aisyah kuat jalan kaki ya, Nak?" tanya Anindya sambil menggandeng tangan putrinya.
Aisyah mengangguk antusias. "Kuat Umi! Kita mau ketemu kakek ulama ya?"
Setibanya di area makam, hati Lev bergetar. Kubah megah dengan arsitektur khas Banjar yang didominasi warna hijau dan kuning emas berdiri kokoh. Di dalamnya, suasana begitu hening dan khusyuk, meskipun ratusan peziarah sudah memadati ruangan.
Mereka mengambil posisi di barisan belakang perempuan. Lev memisahkan diri ke area laki-laki. Aroma wangi dupa dan minyak misik khas Arab menguar lembut, menambah kekhusyukan suasana.
Lev duduk bersila, matanya menatap makam Guru Sekumpul dan orang tuanya yang ada di satu kompleks. Air matanya tak tertahankan lagi. Teringat semua perjuangannya, nazarnya, dan betapa besar nikmat kelulusan PNS yang Allah berikan. Di tempat ini, di hadapan makam seorang kekasih Allah, semua beban terasa ringan. Ia panjatkan doa terbaik, bersyukur tiada henti, dan memohon agar keluarganya selalu dalam lindungan-Nya.
Anindya di sisi lain, sibuk menjaga Aisyah. Aisyah kecil yang biasanya cerewet, kali ini terdiam seribu bahasa. Matanya yang bulat polos mengamati sekeliling. Dia terpesona dengan kembang barenteng (rangkaian bunga melati dan mawar) yang bertaburan di area makam dan warna-warni kain penutup makam.
"Umi, cantik bunganya," bisik Aisyah.
"Iya, Nak. Yang di dalam itu orang baik, orang alim. Kita doakan ya," jawab Anindya, sambil membimbing Aisyah mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Setelah sekitar satu jam berziarah dan membaca surah Yasin serta tahlil, mereka keluar dari kubah. Wajah Lev tampak lebih tenang dan damai. Beban di dadanya serasa terangkat.
"Gimana, Mas? Hati langsung adem, kan?" tanya Anindya sambil tersenyum.
Lev mengangguk, mengusap bekas air mata di pipinya. "Alhamdulillah, rindu ini terbayar, Nindya. Rasanya energi positifnya kuat sekali di sini."
Sebelum meninggalkan Martapura, mereka menyempatkan diri mampir ke Masjid Agung Al-Karomah yang ikonik dengan kubah besarnya di pusat kota. Aisyah berlari-lari kecil di halaman masjid yang luas, tawa riangnya memecah keheningan pagi.
Perjalanan pertama ini memberikan suntikan semangat spiritual yang luar biasa bagi Lev dan Anindya. Nazar mereka dimulai dengan langkah yang penuh berkah. Dari Martapura, tujuan selanjutnya adalah kembali ke Banjarmasin, ke makam Guru Zuhdi, sang permata Kalimantan yang kini bersemayam di Antasan Kecil Timur. Petualangan baru saja dimulai, dan hati mereka sudah siap menyambut setiap hikmah di perjalanan selanjutnya.
Note : saya sengaja mendahulukan Guru Sekumpul karena beberapa alasan yang tidak bisa saya sebutkan.
