Beberapa hari berlalu dengan tenang. Rutinitas Andriy kembali seperti semula: teh chamomile di pagi hari, mengamati kerumunan dari balik jendela toko, dan sesekali berdebat dengan Ksenia tentang pentingnya media sosial. Namun, di balik semua rutinitas itu, ada sebuah perasaan baru yang tumbuh di hati Andriy—rasa takut yang perlahan berubah menjadi rasa sayang yang dalam. Rasa sayang itu adalah bagian yang paling ia benci dari kehidupannya yang abadi.
Suatu malam, saat Andriy menutup tokonya, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Di seberang jalan, ada sebuah bangku taman yang biasanya kosong, kini ditempati oleh sepasang lansia. Pria itu, dengan topi usangnya, mengayunkan sebuah lampu senter ke arah langit yang bertabur bintang. Di sebelahnya, sang istri duduk dengan mantel tebal, tertawa pelan.
Andriy mendekat, penasaran. Di tengah dinginnya malam Chelyabinsk, pemandangan itu terasa aneh, namun juga indah.
"Nikolai, kau akan membuat kita membeku!" kata sang istri, disela tawanya.
Pria itu, yang ternyata bernama Nikolai, mengabaikan protes istrinya. Ia kembali mengayunkan lampu senternya. "Lihat, Anya. Aku bisa membuat bintang-bintang bergerak!"
Andriy tersenyum. Ia telah menyaksikan manusia melakukan hal-hal yang jauh lebih aneh dari itu. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari pasangan ini. Mereka begitu bahagia, seolah mereka adalah satu-satunya manusia yang ada di dunia ini.
"Maaf mengganggu," sapa Andriy, mendekati mereka. "Apa yang kalian lakukan di sini, di tengah dinginnya malam?"
Pasangan itu menoleh, tersenyum ramah. "Oh, kami hanya bermain-main, Nak," jawab sang istri, Anya. "Nikolai punya ide gila untuk meniru bintang jatuh dengan lampu senter. Dia bilang, jika kita membuat bintang jatuh, kita bisa membuat permintaan."
Andriy mengangkat alis. "Permintaan? Apa permintaan kalian?"
Nikolai tersenyum. "Rahasia. Tapi permintaan itu selalu sama. Semoga kita bisa melihat satu bintang jatuh lagi bersama-sama."
Andriy terdiam. Permintaan yang sederhana, namun begitu berarti. Bagi manusia, setiap hari adalah sebuah anugerah, setiap momen adalah sebuah kesempatan. Bagi mereka, kebersamaan adalah segalanya. Bagi Andriy, kebersamaan hanyalah sebuah ilusi yang suatu hari akan hancur.
"Mengapa kalian tidak membuat permintaan untuk hal-hal yang lebih besar?" tanya Andriy, ingin tahu. "Seperti, kekayaan, atau kehidupan yang lebih panjang?"
Anya menggelengkan kepalanya. "Nak, kekayaan tidak akan membuat kita bahagia. Kehidupan yang lebih panjang... Kami tidak membutuhkannya. Kami sudah hidup cukup lama. Yang kami butuhkan hanyalah waktu yang tersisa, dihabiskan bersama-sama."
Nikolai mengangguk. "Kehidupan yang panjang bukan berarti kehidupan yang bahagia. Yang penting bukan berapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita menjalaninya. Kami sudah menjalani hidup kami dengan penuh cinta. Kami tidak butuh lebih dari itu."
Kata-kata pasangan itu menusuk Andriy. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang baru saja menerima pelajaran penting. Ia telah hidup ribuan tahun, namun ia tidak pernah benar-benar memahami makna hidup. Ia selalu melihat kehidupan sebagai sebuah narasi yang panjang dan menyakitkan, bukan sebagai kumpulan momen-momen kecil yang indah.
"Kalian sangat beruntung," kata Andriy, dengan suara yang serak.
Anya tersenyum. "Kami bukan beruntung, Nak. Kami memilih untuk bahagia. Kami memilih untuk melihat keindahan dalam hal-hal kecil. Kau juga bisa melakukan itu, Nak. Kau hanya harus membuka mata dan hatimu."
Andriy menatap langit yang gelap, di mana Nikolai terus mengayunkan lampu senternya, membuat bintang-bintang palsu. Andriy tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, sebuah senyum yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Terima kasih," bisik Andriy, dan ia meninggalkan pasangan itu, berjalan kembali ke tokonya.
Di dalam tokonya yang gelap, Andriy mengambil cangkir teh chamomile. Ia menyesapnya, dan teh itu terasa lebih hangat dari biasanya. Ia melihat salju yang terus turun, dan ia merasa damai. Ia menyadari, keabadiannya tidak harus menjadi kutukan. Ia bisa menjadi sebuah anugerah, sebuah kesempatan untuk menyaksikan keindahan hidup manusia, meskipun ia tahu bahwa perpisahan akan datang.
Malam itu, Andriy melihat sebuah bintang jatuh yang nyata. Ia tidak membuat permintaan. Ia tidak butuh. Ia hanya tersenyum, dan ia merasa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, bahwa hidupnya memiliki makna. Dan makna itu bukanlah keabadian, melainkan persahabatan, teh chamomile, dan bintang jatuh buatan sepasang lansia yang bahagia.
Ia akan menikmati setiap momen yang tersisa bersama Kolya dan Ksenia. Ia akan menikmati setiap momen, dan ia akan mengubur kesedihannya di dalam hatinya, dan menyimpannya sebagai sebuah kenangan indah. Babak baru dalam kehidupan Andriy, yang penuh dengan pelajaran dari sepasang lansia, telah dimulai. Ia akan belajar untuk hidup, tidak hanya untuk ada.
