Jumat pagi di rumah keluarga Rahmat selalu terasa spesial. Ada nuansa tenang sekaligus sibuk yang berbeda. Hari itu, selain mempersiapkan diri untuk salat Jumat, keluarga ini memiliki tradisi rutin: Jumat Berkah, berbagi makanan kepada tetangga dan orang yang membutuhkan. Tradisi ini diajarkan turun-temurun oleh Ibu Salma, menekankan pentingnya sedekah dalam Islam dan mempererat tali silaturahmi.
Menu yang dipilih untuk Jumat Berkah kali ini adalah sesuatu yang sangat khas Banjar dan mungkin sedikit asing bagi lidah orang luar: Mandai.
Mandai adalah kulit cempedak yang diawetkan melalui proses fermentasi dengan air garam. Rasanya unik, sedikit asam, dengan tekstur kenyal. Biasanya dimasak dengan cara ditumis pedas atau dijadikan campuran sayur, menghasilkan aroma khas yang menggugah selera bagi penikmatnya.
Ibu Salma dan Sarah sudah sibuk sejak habis subuh. Puluhan bungkus nasi sudah disiapkan, dengan lauk utama tumis Mandai pedas yang dimasak hingga bumbunya meresap sempurna. Aromanya yang khas memenuhi dapur, membuat Ayah Rahmat dan Zaki yang sedang bersiap ke masjid menjadi lapar lagi.
"Bu, Mandainya kok kayaknya enak banget pagi ini?" goda Ayah Rahmat, mengintip ke panci besar.
"Pastilah, Pak. Dimasak pakai cinta," jawab Ibu Salma sambil tersenyum. "Nanti habis salat Jumat, Bapak sama Zaki bantu bagi-bagi ya. Aisyah juga bantu di sekitar sini."
Setelah salat Jumat usai, misi berbagi pun dimulai. Ayah Rahmat dan Zaki membawa bungkusan nasi ke masjid dan membagikannya kepada jemaah serta beberapa warga kurang mampu yang biasa menunggu di sekitar area masjid.
"Assalamualaikum, Pak. Ini ada sedikit rezeki dari kami, selamat makan," ujar Ayah Rahmat ramah, menyerahkan bungkusan nasi Mandai.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak Rahmat. Baunya saja sudah enak ini," jawab salah satu warga dengan senyum tulus.
Sementara itu, Aisyah dan Sarah membagikan sisanya ke beberapa tetangga dekat rumah mereka. Di sinilah interaksi sosial khas masyarakat Banjar terlihat kental.
Mereka mampir ke rumah Nek Jannah, tetangga senior yang hidup sebatang kara. Nek Jannah menyambut mereka dengan hangat.
"Wah, Mandai! Sudah lama Nek Jannah enggak makan ini. Mahal sudah harganya di pasar," ujar Nek Jannah, matanya berbinar menerima bungkusan nasi.
"Iya, Nek. Ibu yang masak sendiri. Dijamin enak," sahut Aisyah.
Saat membagikan makanan, ada saja cerita yang muncul. Ada yang bercerita tentang cucunya yang sakit, ada yang bercerita tentang harga sembako yang naik, dan keluarga Rahmat mendengarkan dengan sabar, memberikan dukungan moral dan doa. Makanan menjadi medium untuk saling peduli dan merasakan denyut kehidupan bertetangga.
Pulang ke rumah, kotak nasi sudah kosong, tapi hati mereka penuh. Mereka berkumpul lagi di ruang tengah, berbagi cerita tentang respons positif dari tetangga.
"Nek Jannah tadi senang banget, Bu, dapat Mandai," cerita Sarah.
"Syukurlah. Itulah gunanya berbagi, Nak. Bukan cuma soal makanan, tapi soal membuat orang lain tersenyum," kata Ibu Salma bijak.
Ayah Rahmat menambahkan dengan nada komedi khasnya, "Betul itu. Lagian, kalau kita sering berbagi, rezeki kita juga lancar. Siapa tahu besok kita bisa berburu makanan viral yang lebih mahal lagi, Dubai Chocolate misalnya!"
Semua tertawa mendengar celetukan Ayah Rahmat. Hari Jumat Berkah itu ditutup dengan rasa syukur yang mendalam. Mereka telah menjalankan salah satu nilai penting dalam Islam, yaitu kepedulian sosial, yang dikemas secara sederhana melalui sepiring Mandai khas Banjarmasin. Di rumah itu, kebahagiaan sejati ditemukan dalam kebersamaan keluarga dan keikhlasan berbagi kepada sesama.
