Pagi itu di kafe, suasana terasa sedikit berbeda. Bangku di seberang Andriy kosong. Nikolai Petrovich, si pria tua yang setia menemaninya setiap pagi, tidak datang. Andriy menyesap teh chamomile-nya, merasakan sedikit kegelisahan. Ia meyakinkan diri bahwa Kolya mungkin hanya ketiduran atau sedang kurang sehat. Ia tidak ingin memikirkan hal terburuk, meskipun itu adalah bagian yang tak terhindarkan dari hidupnya.
Ksenia, dengan wajah yang sedikit murung, mendekati meja Andriy. "Kakek tidak enak badan, Andriy," katanya, menaruh sepiring pirozhki buatan Ksenia yang sedikit gosong. "Dia bilang, kau tahu 'kan kalau dia tidak bisa hidup tanpa teh chamomile-nya."
Andriy tersenyum tipis. "Aku akan menjenguknya nanti."
Setelah menyelesaikan tehnya, Andriy kembali ke toko buku. Di dalam, ia mengambil sebuah kotak tua yang tersembunyi di balik tumpukan buku langka. Di dalamnya, ada sebuah foto usang. Foto itu diambil di depan toko ini, ratusan tahun yang lalu. Di foto itu, Andriy terlihat berdiri di samping seorang pria tua, yang wajahnya sangat mirip dengan Kolya. Pria itu adalah sahabat Andriy di masa lalu, Pyotr.
Pyotr adalah penjual buku yang dulunya membeli toko ini dari Andriy, saat Andriy memutuskan untuk pergi dan melihat dunia. Andriy sempat berpisah dengannya selama beberapa abad, lalu kembali ke Chelyabinsk dan menemukan toko buku ini diwariskan kepada anak cucu Pyotr. Andriy lalu kembali membeli toko ini, dan mengenang Pyotr melalui buku-buku yang dijualnya.
Kolya adalah cicit dari Pyotr. Ketika Andriy bertemu Kolya, ia terkejut melihat betapa miripnya Kolya dengan Pyotr. Ia menjalin persahabatan dengan Kolya, dan secara tidak langsung, ia merasa seperti memiliki Pyotr kembali. Itu adalah salah satu kelemahan Andriy: ia selalu mencoba untuk mencari kenangan masa lalunya.
Andriy memandangi foto itu, tersenyum getir. Pyotr sudah tiada, dan kini Kolya juga akan pergi. Andriy merasa lelah. Keabadian adalah penjara, dan kenangan adalah rantai yang mengikatnya.
"Sial," gerutu Andriy, menaruh foto itu kembali ke dalam kotak. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal seperti itu. Ia harus tetap sibuk.
Tiba-tiba, pintu toko terbuka, dan seorang wanita muda masuk. Rambutnya pirang cerah, mirip dengan Andriy, tetapi lebih pendek. Matanya biru, dan ia mengenakan mantel bulu tebal. Ia memandangi Andriy, lalu tersenyum.
"Andriy?" tanyanya, dengan aksen Rusia yang sempurna.
Andriy terkejut. "Ya?"
"Aku Vera. Vera Kozlov. Aku... aku adalah keturunan dari seorang temanmu di masa lalu," katanya.
Andriy menatap wanita itu. Matanya memancarkan rasa ingin tahu, tapi juga ketakutan. "Teman siapa?"
"Namanya Aleksei. Aleksei Kozlov," jawab Vera.
Nama itu memicu kenangan yang menyakitkan di benak Andriy. Aleksei adalah salah satu teman terdekat Andriy di masa lalu. Ia adalah seorang pejuang yang berani, yang melindungi Andriy dari bahaya. Aleksei juga adalah satu-satunya manusia yang tahu tentang keberadaan Andriy sebagai seorang elf.
Aleksei meninggal dalam perang, dan Andriy tidak pernah melihatnya lagi. Perpisahannya dengan Aleksei adalah salah satu yang paling sulit bagi Andriy.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Vera, mengeluarkan sebuah kotak tua dari tasnya. "Ayahku bilang, ini adalah milikmu. Aleksei menitipkannya pada keturunannya, untuk diberikan kepada 'elf terakhir', jika ia masih ada."
Andriy menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk daun. Kalung itu adalah hadiah dari Andriy untuk Aleksei, sebagai simbol persahabatan mereka.
Andriy menatap kalung itu, dan kenangan masa lalu menyerbu masuk. Tawa Aleksei, wajahnya yang penuh luka, dan keberaniannya yang tak pernah pudar. Air mata mengalir di pipi Andriy.
Vera menatap Andriy dengan penuh simpati. "Kau... elf itu?"
Andriy mengangguk. "Ya."
"Aku tahu," kata Vera, tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir. Rahasiamu aman bersamaku."
Andriy menyentuh liontin itu. "Kenapa kau datang ke sini? Bagaimana kau tahu aku di sini?"
"Ayahku bilang, jika aku menemui seorang pria dengan mata sedih di tengah kota Chelyabinsk, itu pasti kau," jawab Vera. "Dan aku melihatmu. Di kafe. Aku tahu itu pasti kau."
Andriy menatap Vera. Ia tidak tahu harus merasa apa. Ia merasa sedih, tapi juga bahagia. Vera, keturunan dari Aleksei, telah menemukannya.
"Kau... tidak takut?" tanya Andriy.
Vera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ayahku selalu bercerita tentang elf. Dia bilang, elf adalah makhluk yang baik, dan mereka pantas mendapatkan kebahagiaan."
Kata-kata Vera membuat Andriy merasa hangat. Ia merasa seperti ada cahaya yang masuk ke dalam hatinya yang gelap.
"Terima kasih," kata Andriy, dengan suara yang serak. "Terima kasih banyak."
Vera tersenyum. "Sama-sama. Sekarang, berhentilah menangis. Aleksei tidak akan suka melihatmu menangis."
Andriy tertawa, dan ia merasa seperti beban yang ia pikul selama berabad-abad telah berkurang. Pertemuan dengan Vera adalah sebuah keajaiban yang tidak ia duga. Sebuah pengingat bahwa meskipun perpisahan itu menyakitkan, kenangan dan persahabatan yang ia jalin akan tetap hidup, meskipun orang-orangnya telah tiada.
Ia memandangi Vera, dan ia tahu, babak baru dalam hidupnya telah dimulai. Babak yang penuh dengan kenangan, teh chamomile, pirozhki kuno, dan seorang wanita muda yang mengingatkannya pada masa lalu yang penuh dengan cinta.
