Pagi di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti Sungai Barito. Bagi Muhammad Hifni, pagi di tahun 2026 ini dimulai dengan rutinitas yang sangat terukur: merapikan seragam cokelat kebanggaannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), memastikan lencana di kerahnya simetris, dan memeriksa apakah berkas laporan kinerja bulanan sudah masuk ke dalam tas kerja.
Namun, di meja makan, suasana formal birokrasi itu runtuh seketika. Di hadapannya, Khalisah Salsabilla, putrinya yang baru menginjak usia 6 tahun, sedang menatap sebuah toples sosis kosong dengan tatapan paling melankolis yang pernah Hifni lihat.
“Ayah,” buka Khalisah dengan nada serius, menyerupai gaya bicara kepala dinas saat sedang memberikan arahan. “Ikan itu adalah makhluk yang tenang. Dia tidak akan mencakar sofa seperti kucing Pak RT, dan dia tidak akan menggonggong seperti anjing di ujung jalan. Ikan hanya butuh air, cinta, dan sedikit lampu warna-warni.”
Hifni melirik istrinya, Rina Rufida, yang sedang sibuk menyiapkan sarapan sambil menggumamkan beberapa kosakata Bahasa Inggris untuk materi ajarnya di sekolah. Sebagai PNS Pendidikan, Rina adalah sosok yang sistematis.
“Listen to your daughter, Honey,” ujar Rina sambil tersenyum simpul. “Dia sudah melakukan riset selama tiga hari di YouTube. Sepertinya kosa kata ‘Akuarium’ sudah mengalahkan kosa kata ‘Boneka’ di kepalanya.”
Hifni menghela napas, menyeruput kopi hitamnya. “Khalisah, Ayah ini PNS. Kita harus punya perencanaan anggaran yang matang. Pelihara ikan itu bukan cuma soal beli ikannya, tapi ada ekosistemnya. Ada filternya, ada aeratornya, belum lagi tagihan listrik yang mungkin naik tipis-tipis.”
Khalisah tidak menyerah. Ia mengeluarkan sebuah gambar yang ia buat dengan krayon. Di sana ada gambar ikan berwarna oranye dengan mata besar yang sangat menonjol. “Ini Ikan Mas Koki, Ayah. Namanya nanti ‘Bubbles’. Dia akan jadi teman Khalisah kalau Ayah dan Bunda sedang kerja.”
Hifni tertegun. Sebagai seorang abdi negara yang banyak menghabiskan waktu di kantor pemerintahan daerah, ia tahu bahwa kesibukannya terkadang menyita waktu bermain dengan sang putri. Puruk Cahu memang tenang, tapi tumpukan berkas seringkali membuatnya pulang saat matahari sudah hampir tenggelam di balik hutan Kalimantan.
“Baiklah,” ucap Hifni akhirnya, kalah telak oleh diplomasi tingkat tinggi bocah 6 tahun. “Sore ini, setelah Ayah pulang kantor, kita ke pasar. Tapi ingat, ini bukan cuma soal beli ikan, tapi soal tanggung jawab. Dalam Islam, memelihara hewan itu berarti memberikan hak hidup yang layak baginya.”
Mata Khalisah berbinar. “Siap, Pak Ketua!” serunya sambil memberi hormat, meniru gaya staf magang di kantor ayahnya.
Sepanjang hari di kantor, pikiran Hifni sedikit teralih. Di sela-sela menyusun draf kebijakan publik, ia malah diam-diam mencari tahu harga aquascape di toko lokal Puruk Cahu. Ia bahkan sempat berdiskusi dengan rekan sekantornya.
“Lagi tren itu, Pak Hifni. Ikan hias bisa buat stres kerja hilang,” kata salah satu rekannya.
Sore harinya, perjalanan menuju pasar ikan pun dimulai. Namun, saat mereka sedang asyik melihat-lihat akuarium kaca, sebuah suara akrab memanggil nama Hifni dari balik barisan tanaman air.
“Hifni? Muhammad Hifni?”
Seorang wanita berhijab rapi dengan gaya bicara yang sangat tertata—khas seorang guru—berdiri di sana. Hifni mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan dari tahun 2013, tahun di mana ia lulus SMA.
“Nadira? Nadira Asfia?”
Dunia terasa sempit. Di samping Nadira, berdiri seorang anak perempuan sebaya Khalisah yang sedang memegang plastik berisi ikan Cupang berwarna merah menyala. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah babak baru di Puruk Cahu. Bukan hanya soal reuni alumni SMA, tapi soal persaingan dan persahabatan dua bocah kecil yang baru saja terjun ke dunia air.
“Tiara, ayo kenalan. Ini teman lama Ibu,” ujar Nadira lembut.
Khalisah menatap Tiara. Tiara menatap Khalisah. Pandangan mereka kemudian jatuh pada plastik ikan masing-masing. Di sanalah, benih-benih "rivalitas akuarium" dimulai.
Saran Optimasi:
Bagi Anda yang sedang memulai hobi serupa seperti Khalisah, pastikan untuk selalu menjaga kualitas air. Gunakan Filter Akuarium Terbaik agar ikan tetap sehat. Jika Anda juga memelihara kucing di rumah, pastikan akuarium memiliki penutup yang rapat untuk menghindari "insiden memancing" yang tidak diinginkan.
