Suara azan Subuh baru saja lamat-lamat menghilang dari corong Masjid Al-Abrar, namun suasana di salah satu rumah dinas di Kecamatan Murung Pudak, Tabalong, sudah mulai terasa hidup. Muhammad Hifni sedang merapikan kancing seragam cokelatnya di depan cermin. Sebagai seorang PNS di kantor pemerintahan Kabupaten Tabalong, presisi adalah segalanya baginya. Garis setrikaan celananya harus tajam, setajam laporan kinerjanya setiap akhir bulan.
"Bah, apakah kucing juga harus absen pagi seperti Abah?"
Hifni menoleh ke bawah. Di sana, Khalisah Salsabilla, bocah perempuan berusia lima tahun yang rambutnya masih mencuat ke sana kemari khas orang bangun tidur, sedang menatapnya serius. Tangan kecilnya memegang sebuah piring plastik kosong bermotif bunga.
"Kucing tidak punya kantor, Sayang. Absen mereka itu cuma satu: bunyi gesekan piring di lantai," jawab Hifni sambil terkekeh, lalu mengusap kepala putrinya.
Dari arah dapur, Rina Rufida muncul dengan aroma nasi goreng yang menggoda. Sebagai seorang guru Bahasa Inggris, Rina punya kebiasaan menyelipkan kosa kata asing bahkan di meja makan.
"Khalisah, wash your face first, Nak. Dan jangan bilang Abah kalau kamu mau bawa 'tamu' lagi ke teras pagi-pagi begini," tegur Rina lembut namun tegas.
"Tapi Bunda, si Jagau sudah menunggu di depan. He is hungry!" balas Khalisah, mencoba mempraktikkan pelajaran bahasa Inggris ibunya dengan aksen bocah yang lucu.
"Si Jagau" adalah nama yang diberikan Khalisah untuk seekor kucing kampung berwarna oranye dengan ekor pendek dan telinga yang sedikit koyak—mungkin bekas pertempuran hebat memperebutkan sisa ikan haruan di pasar Mabu’un. Bagi Hifni, kucing itu tampak seperti preman pasar, tapi bagi Khalisah, Jagau adalah kawan karibnya.
Hifni melangkah ke teras rumah, diikuti Khalisah yang membawa sepotong kecil ikan asin sisa semalam yang sudah dicuci air hangat (agar tidak terlalu asin, katanya). Benar saja, di atas keset bertuliskan Welcome, si Jagau sudah duduk dengan tenang, menatap pintu dengan mata kuningnya yang tajam.
"Tuh, lihat Bah! Jagau sopan sekali. Dia tidak teriak-teriak seperti kucing tetangga sebelah," bisik Khalisah bangga.
Hifni berjongkok di samping putrinya. "Khalisah, dalam Islam, menyayangi kucing itu berpahala besar. Dulu, Sahabat Nabi yang namanya Abu Hurairah sangat sayang pada kucing sampai-sampai beliau dijuluki 'Bapak para Kucing'. Tapi ingat, kebersihan tetap nomor satu. Habis pegang Jagau, harus cuci tangan pakai sabun, ya?"
Khalisah mengangguk mantap. Ia meletakkan ikan asin itu di depan si Jagau. Dengan sekali lahap, ikan itu hilang. Kucing oranye itu kemudian menggosokkan kepalanya ke kaki mungil Khalisah, memberikan tanda terima kasih dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh sesama pecinta anabul.
"Bah, nanti kalau kita ke kota Tanjung, boleh tidak belikan Jagau kalung? Biar orang tahu kalau Jagau itu temannya Khalisah Salsabilla," pinta Khalisah.
Hifni tersenyum tipis. "Nanti kita tanya Bunda dulu. Soalnya, anggaran rumah tangga kita bulan ini sedang dialokasikan untuk renovasi pagar."
Namun, pikiran Hifni mendadak melayang. Nama "Salsabilla" yang ia berikan kepada putrinya bukan tanpa alasan. Ia teringat percakapan di kantor kemarin. Rekan kerjanya bercerita bahwa ada dokter gigi baru yang pindah ke Tanjung, bekerja di sebuah klinik bergengsi. Namanya drg. Dina Yulianti. Dan yang membuat jantung Hifni sempat berhenti berdetak sesaat adalah kabar bahwa Dina memiliki anak perempuan seumuran Khalisah yang juga bernama belakang Salsabilla.
Kebetulan macam apa ini? pikir Hifni. Di Murung Pudak yang tenang ini, mungkinkah masa lalu yang sudah ia simpan rapat-rapat dalam laci kenangan akan terbuka kembali hanya karena seekor kucing dan sebuah nama?
"Abah! Jagau mau masuk ke dalam!" teriak Khalisah membuyarkan lamunan Hifni.
"Eh, jangan! Jagau di luar saja! Nanti bulunya kena raport Abah!" seru Hifni panik sambil mengejar si Jagau yang sudah berhasil menyelinap masuk lewat celah pintu.
Hari itu, di bawah langit Tabalong yang mulai membiru, sebuah petualangan besar bagi Khalisah dan teka-teki bagi Hifni baru saja dimulai. Dari diplomasi ikan asin di teras rumah, hingga pertemuan tak terduga yang akan melibatkan kucing "Sultan" milik keluarga dokter gigi di ujung kota.
Info Penting Untuk Pembaca:
Menyayangi kucing kampung seperti yang dilakukan Khalisah adalah tindakan mulia. Pastikan kucing peliharaan Anda selalu mendapatkan nutrisi yang cukup. Anda bisa menemukan berbagai referensi produk perawatan kucing melalui Lazada Indonesia atau membaca tips kesehatan hewan di Halodoc.
Jika Anda berada di Tabalong, pastikan untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang kotoran hewan sembarangan, sesuai dengan semangat Bumi Saraba Kawa.
