Lantai bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru masih terasa dingin saat keluarga Muhammad Hifni dan drg. Dina Yulianti tiba hampir bersamaan. Di luar, fajar baru saja menyingsing, namun semangat di dalam hati mereka sudah meluap-luap. Ini bukan sekadar perjalanan biasa; ini adalah perjalanan menjemput keberkahan Ramadhan di tanah para Nabi.
Muhammad Hifni, seorang PNS yang terbiasa dengan ritme kerja kantor pemerintahan yang teratur, tampak sibuk memeriksa kembali paspor dan manifes keberangkatan. Di sampingnya, Rina Rufida—istrinya yang merupakan guru Bahasa Inggris—sedang memberikan instruksi dalam bahasa Inggris sederhana kepada putri kecil mereka, Khalisah Salsabilla.
"Khalisah, remember, nanti di pesawat jangan lari-lari ya. Stay with Umma and Abah," ujar Rina dengan lembut.
Khalisah, yang baru berusia 5 tahun, mengangguk lucu. Namun, pikirannya tidak di pesawat. "Bah, nanti di Mekah ada kucing nggak? Khalisah mau bawa makanan kucing dari Tanjung," tanyanya polos. Di tas kecilnya, rupanya ia sudah menyelipkan sebungkus kecil snack kucing, seolah-olah kucing-kucing di Tanjung, Murung Pudak akan ikut terbang bersamanya.
Tak jauh dari mereka, drg. Dina Yulianti sedang sibuk merapikan koper pink milik putrinya, Naura Salsabilla. Nama belakang yang sama antara dua bocah ini memang sering menjadi bahan candaan di lingkungan tempat tinggal mereka di Tabalong. Hifni sempat melirik ke arah Dina, ada sedikit kecanggungan yang tersisa dari masa lalu—mungkin hanya perasaan Hifni saja yang merasa nama itu adalah sebuah 'tanda'—namun profesionalitas sebagai sesama warga Tabalong tetap terjaga.
"Eh, Pak Hifni! Barengan ya kita satu kloter?" sapa Dina ramah, memecah kecanggungan.
"Iya Dok, alhamdulillah. Rezeki anak-anak bisa puasa di sana," jawab Hifni sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, suasana di sudut lain bandara jauh lebih 'meriah'. Keluarga Lev ℛyley baru saja turun dari mobil dengan tumpukan koper yang membuat petugas porter melongo. Lev, sang ayah yang bekerja di bidang IT, tampak sedang memegang ponselnya dengan ekspresi pasrah.
"Ma, ini koper keenam isinya apa lagi? Kita mau umroh atau mau buka toko di Jeddah?" tanya Lev pada istrinya, Anindya Putri.
Anindya, sang influencer belanja online dengan ribuan pengikut, hanya tersenyum manis sambil memperbaiki posisi ring-light portable-nya. "Ih Papa, itu isinya jilbab-jilbab terbaru buat konten Daily Hijab in Madinah. Ini investasi akhirat sekaligus konten, Pa!"
Aisyah Humaira, putri sulung mereka yang merupakan mahasiswi PGSD ULM, langsung mengambil alih komando. Sebagai organisatoris ulung di kampusnya, ia adalah satu-satunya orang yang memegang daftar inventaris keluarga agar tidak ada barang yang tertinggal. "Ma, koper jilbab masuk bagasi. Papa, jangan lupa powerbank jangan masuk bagasi. Maryam, Ghina, Rayyan... kumpul!"
Maryam Safiya yang pendiam tampak sedang asyik mensketsa suasana bandara di buku kecilnya, sementara Ghina Qalbi sudah mulai vlogging: "Hai guys! Kita lagi di bandara mau otw ke Mekah nih, tonton terus ya!"
Si bungsu Rayyan Zuhayr tampak tenang memegang buku cerita Islami tentang sejarah Kabah. Baginya, ini adalah petualangan besar untuk melihat langsung apa yang selama ini ia baca di buku.
Saat pengumuman keberangkatan bergema, ketiga keluarga ini pun beranjak menuju pintu keberangkatan. Hifni menggandeng Khalisah, Dina menggandeng Naura, dan keluarga Lev ℛyley bergerak seperti rombongan sirkus yang terorganisir. Di atas awan, menuju Jeddah, doa-doa mulai dipanjatkan. Mereka belum tahu bahwa di tanah suci nanti, takdir akan mempertemukan mereka dalam kejadian-kejadian tak terduga—mulai dari drama kucing yang dicari Khalisah hingga hilangnya Pak Hifni di pintu masjid yang megah.
Ramadhan tahun ini, bagi mereka, baru saja dimulai dengan satu niat: Labbbaikallahumma Labbaik.
Bagaimana reaksi Khalisah saat melihat kucing-kucing di Madinah nanti? Dan apakah Anindya Putri akan benar-benar menjadikan pelataran masjid sebagai panggung catwalk-nya?
Lanjutkan ke Bab 2: Koper IT vs Koper Influencer untuk melihat aksi kocak mereka saat mendarat di Jeddah!
