Langit Manchester sore itu berwarna kelabu, seolah mencerminkan pergulatan batin yang dirasakan Karina. Di dalam sebuah ruangan kecil di pusat studi Islam, suasana terasa hangat, jauh berbeda dengan cuaca di luar. Karina duduk di antara beberapa mahasiswi Muslim lainnya, ditemani oleh Adam yang duduk tidak terlalu jauh, memberikan dukungan lewat tatapan matanya yang penuh ketenangan.
Hari ini adalah hari bersejarah. Setelah berbulan-bulan membaca, merenung, dan memantapkan hati, Karina akhirnya mengambil keputusan besar. Dia akan mengucapkan syahadat. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena perpaduan emosi antara haru, lega, dan sedikit rasa gugup yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah, seluruh hidupnya selama 23 tahun terakhir telah mengarah pada momen ini.
Seorang ustazah bernama Fatimah tersenyum lembut padanya. "Karina," panggil Fatimah dengan suara yang menenangkan. "Apakah kamu yakin dengan keputusanmu? Tidak ada paksaan di sini."
Karina mengangguk mantap, menatap Fatimah dengan mata yang berkaca-kaca. "Yakin, Ustazah. Ini keputusan saya, atas kesadaran saya sendiri."
Fatimah mengangguk, lalu mulai membimbingnya. "Ikuti saya, ya?"
Karina menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, dan menghembuskannya perlahan. Segala ingatan tentang masa lalunya seperti berputar di kepalanya. Pesta-pesta yang ia datangi, tawa riang bersama teman-temannya yang seringkali terasa hampa, hingga percakapan-percakapan malamnya dengan Adam tentang makna hidup. Semua itu kini terasa seperti potongan-potongan teka-teki yang akhirnya menemukan tempatnya.
"Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah..." suara Fatimah terdengar syahdu.
"Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah..." Karina mengulangi, suaranya sedikit bergetar.
"...dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
"...dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Pada kalimat terakhir itu, air mata Karina tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan yang meluap-luap. Rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatinya, seolah beban berat yang selama ini ia pikul telah terangkat. Dia merasa bersih, suci, dan dilahirkan kembali.
Setelah syahadat selesai, Fatimah memeluknya hangat. "Selamat datang, ukhti," bisiknya. "Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga kami."
Teman-teman mahasiswi lainnya ikut memeluk dan memberikan selamat. Di antara mereka, Karina melihat wajah Adam yang tersenyum tulus, senyuman yang jauh berbeda dari sekadar senyum ramah yang biasa ia lihat. Senyum itu penuh dengan kelegaan dan kebahagiaan.
Saat itulah Fatimah bertanya, "Sudahkah kamu memikirkan nama Muslimah untukmu?"
Karina tersentak. Ia sudah memikirkannya sejak lama. Nama yang ia pilih bukan sekadar nama, melainkan harapan. Harapan akan identitas baru, yang membawa ketenangan dan keindahan.
"Sudah, Ustazah," jawab Karina. "Anindya Putri."
"Anindya... Putri," Fatimah mengulangi nama itu dengan senyum. "Bagus sekali. Anindya artinya sempurna, tidak tercela. Semoga nama ini menjadi doa."
"Amin," bisik Karina, kini Anindya.
Malam harinya, di apartemen yang dulu terasa hampa, kini Anindya merasa penuh. Dia duduk di sudut ruangan, memegang mushaf kecil yang diberikan Fatimah. Suara azan magrib terdengar dari kejauhan, dan kali ini, Anindya tidak hanya mendengarkan. Ia menunaikan salat magrib pertamanya sebagai seorang Muslimah.
Dalam sujudnya, Anindya menangis lagi. Ia meminta ampun atas segala kelalaiannya di masa lalu, dan bersyukur atas hidayah yang telah diberikan padanya. Hatinya begitu damai, seolah setiap jengkal ruangnya telah diisi dengan cahaya.
Namun, di tengah kedamaian itu, muncul secuil kekhawatiran. Ia teringat akan keluarganya di Indonesia. Bagaimana reaksi mereka? Bagaimana ia akan menjelaskan semua ini? Perjalanan spiritualnya telah dimulai, tetapi ia tahu bahwa ujian terberat masih menunggu di depan. Di malam pertama sebagai Anindya Putri, ia tahu bahwa ia telah memilih jalan yang benar, jalan yang akan menuntunnya pada ketenangan abadi, meski harus berhadapan dengan badai.
