Setelah kembali ke Banjarmasin, Lev Ryley disambut seperti raja yang kembali ke kerajaannya. Namun, ia bukanlah tipe orang yang berpuas diri dengan kejayaan masa lalu. Pensiun sebagai pemain profesional membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia tahu, pengalamannya yang tak ternilai, dari lapangan becek di kampung halamannya hingga panggung termegah di Eropa, harus diwariskan.
Impiannya untuk mengangkat sepak bola Indonesia tidak berhenti di level pemain. Bersama beberapa mantan rekan setimnya di Timnas dan dengan dukungan penuh dari PSSI, Lev Ryley mendirikan akademi sepak bola di Banjarmasin. Namanya, "Akademi Sepak Bola Lev Ryley," seketika menjadi pusat perhatian. Anak-anak dari berbagai pelosok negeri, dengan impian yang sama seperti Lev di masa lalu, datang untuk belajar.
Di akademi ini, Lev berperan sebagai kepala pelatih. Ia menerapkan disiplin dan metode latihan modern yang ia pelajari dari Rúben Amorim di Manchester United. Ia tidak hanya mengajari mereka teknik dasar, tetapi juga mentalitas seorang juara. Ia mengajarkan tentang pentingnya kerja keras, dedikasi, dan tidak pernah menyerah, bahkan saat menghadapi kegagalan.
Suatu sore, saat ia sedang mengawasi latihan, ia melihat seorang anak laki-laki dengan kaus lusuh, mirip dengan dirinya dulu. Anak itu memiliki semangat yang sama, mata yang berapi-api, dan kaki yang lincah. Lev mendekatinya, mengajaknya berbicara, dan memberikan beberapa tips tentang cara mengolah bola. Anak itu tersenyum, matanya memancarkan kekaguman. Lev merasa seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu, dan ia merasa bangga.
Berkat dedikasi Lev, akademi yang ia dirikan melahirkan banyak talenta muda. Mereka tidak hanya mahir dalam mengolah bola, tetapi juga memiliki mental yang kuat, siap untuk bersaing di level tertinggi. Beberapa dari mereka bahkan berhasil masuk ke tim nasional di berbagai level usia.
Lev Ryley tidak lagi menjadi pemain, tetapi ia tetap menjadi pahlawan. Ia telah membuktikan bahwa mimpi bisa diraih, tidak peduli dari mana asalnya. Kisahnya, dari Banjarmasin ke Old Trafford, akan terus menjadi inspirasi bagi generasi-generasi pemain muda. Ia telah mengukir namanya dalam sejarah sepak bola, bukan hanya sebagai pemain terbaik, tetapi juga sebagai guru, mentor, dan legenda, yang kisahnya akan terus diceritakan dari generasi ke generasi, dari Banjarmasin hingga seluruh dunia.
