Setelah kejadian di kampus, Anindya menghabiskan sebagian besar waktunya di apartemen, mengisolasi diri dari teman-teman lamanya. Ia tahu ia tidak bisa terus-menerus menghindari mereka, tetapi ia juga butuh waktu untuk menenangkan diri dan menguatkan hati. Dalam kesendirian itu, ia menyadari satu hal: ia tidak bisa selamanya merahasiakan perjalanannya dari keluarganya di Indonesia.
Terutama ibunya. Ibu adalah sosok yang paling dekat dengannya, yang selalu mendukungnya dalam segala hal. Membayangkan bagaimana ibunya akan bereaksi terhadap keputusannya membuat Anindya dilanda kecemasan luar biasa. Namun, ia tahu, kejujuran adalah jalan terbaik, meskipun itu akan menyakitkan.
Malam itu, dengan hati berdebar, Anindya mengeluarkan laptopnya. Layar yang menyala terang terasa kontras dengan kegelapan hatinya. Ia mulai mengetik, setiap ketikan adalah perjuangan. Ia ingin menceritakan semuanya, dari awal ia tiba di Manchester, perasaan kosong yang ia alami, pertemuannya dengan Adam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersyahadat.
Kepada Ibu yang paling Anin sayangi,
Bagaimana kabar Ibu? Anin harap Ibu baik-baik saja. Anin di sini juga baik, Bu. Kuliah berjalan lancar, Manchester juga seru.
Ada hal yang ingin Anin ceritakan kepada Ibu. Hal yang sangat penting, yang mungkin akan membuat Ibu terkejut. Ibu, Anin menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidup Anin. Bukan kesuksesan, bukan uang, tapi ketenangan hati.
Anindya berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Kata-kata selanjutnya terasa berat untuk diketik.
Anin menemukan ketenangan itu dalam Islam. Anin sudah bersyahadat, Bu. Karina sekarang bernama Anindya Putri.
Anindya memejamkan mata, membiarkan air mata membasahi pipinya. Ia tahu, pengakuan ini akan mengguncang dunia ibunya. Ia tahu, mungkin ibunya akan marah, kecewa, atau bahkan merasa dikhianati. Tapi ia harus melakukannya. Ia tidak bisa hidup dalam kebohongan.
Anin tahu ini mengejutkan, Bu. Anin janji akan ceritakan semuanya secara detail nanti. Anin mohon, Bu, jangan marah. Ini bukan karena Anin dipaksa, bukan karena Anin dicuci otak. Ini adalah keputusan Anin, atas kesadaran Anin sendiri. Anin merasa... ini jalan Anin. Jalan pulang Anin.
Anin sayang sama Ibu. Selalu. Doakan Anin, ya, Bu. Doakan Anin bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah selesai, Anindya membaca kembali surat itu. Ia tidak mengubah sepatah kata pun. Ia ingin ibunya merasakan ketulusannya, kejujuran hatinya. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol kirim.
Setelah email terkirim, apartemen Anindya terasa sunyi. Keheningan yang mencekam. Ia duduk di kursi, menatap layar laptop yang kini gelap. Ia merasa seolah ia telah melompat dari tebing yang tinggi, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah memilih kejujuran. Dan ia percaya, kejujuran akan membawa kebaikan, meskipun jalan yang harus dilaluinya akan terjal. Malam itu, untuk pertama kalinya, Anindya tidak bisa tidur. Ia menunggu balasan dari ibunya, balasan yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.
