Setelah kepergian Lyra dan Brokk, kesunyian yang mencekam merayap masuk, menguasai ruang gua yang tadinya dipenuhi ketegangan. Kael duduk bersimpuh di samping Elara yang masih terlelap, mengamati wajah mungil adiknya. Kartu Elara yang ia genggam kini memancarkan gema yang lebih tenang, seperti detak jantung yang teratur. Ini adalah gema kebebasan, bukan lagi gema ketakutan yang terperangkap. Ia berhasil membebaskan jiwa Elara dari jeratan Malakor, tetapi ia gagal menyelamatkan aliansinya.
"Kakak?" Elara membuka matanya perlahan, suaranya parau. Ia menatap Kael, lalu melihat sekeliling. "Di mana Lyra dan Brokk?"
Kael menarik napas panjang, menelan pil pahit kekecewaan. "Mereka harus kembali ke kaum mereka. Hutan Fae dan pegunungan Neander membutuhkan mereka."
Elara mengangguk, namun tatapannya masih penuh pertanyaan. "Malakor... dia tidak lagi ada di sini?"
"Dia melarikan diri," jawab Kael. "Tapi ada kekuatan lain yang mengendalikannya. Kekuatan yang lebih tua, yang telah memanipulasi kita semua selama ini."
Kael menceritakan semua yang ia lihat melalui Heart of the Sanctuary, tentang kekuatan kuno yang menyebarkan kebencian. Elara mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Itu... mengerikan," bisik Elara. "Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Aku harus menemukan bijak misterius itu," kata Kael. "Hanya dia yang bisa memberikan jawaban."
"Kau tidak harus melakukannya sendirian, Kakak," kata Elara, menggenggam tangan Kael. "Aku sudah kembali. Aku bisa membantumu."
Kael tersenyum, namun senyumnya penuh kepahitan. "Kau baru saja pulih, Elara. Kau harus beristirahat."
Aku tidak bisa, Kakak," kata Elara, bangkit berdiri. "Selama aku terperangkap, aku melihat banyak hal. Aku melihat kekuatan yang ada di dalam dirimu. Itu bukan kekuatan biasa, Kakak. Itu adalah kekuatan harapan. Kau tidak bisa melawannya sendirian. Kau membutuhkan bantuan."
Kael menyentuh dahi Elara, dan ia bisa merasakan gema yang sangat kuat darinya. Elara tidak lagi hanya seorang anak kecil, tetapi seseorang yang telah melewati neraka dan kembali. Jiwanya telah terkontaminasi oleh kegelapan, namun ia juga membawa kekuatan harapan.
Mereka keluar dari gua, berjalan di bawah langit yang dipenuhi bintang. Malam itu terasa dingin dan sunyi, tetapi Kael tidak lagi merasa sendirian. Elara ada di sisinya, dan ia merasakan gema jiwanya yang baru, kekuatan harapan yang ia temukan.
"Kita akan berjalan ke utara," kata Kael. "Gema jiwaku menuntunku ke sana."
Mereka berjalan selama beberapa hari, melewati hutan dan padang rumput, meninggalkan wilayah Mortii di belakang mereka. Kael tidak tahu apa yang menantinya di utara, tetapi ia tahu ia tidak akan menyerah. Ia tahu ia akan menemukan bijak misterius itu, dan ia akan mengakhiri perang ini untuk selamanya. Ia akan mengembalikan kedamaian ke Terravia, dan ia akan melakukannya dengan Elara di sisinya, dipandu oleh gema harapan.
Namun, ia tidak tahu bahwa perjalanan ini akan membawanya ke sebuah kota yang telah lama hilang, kota yang penuh dengan rahasia, kota yang menyimpan jawaban atas semua pertanyaan yang ia miliki. Dan di kota itu, ia akan menghadapi ujian terberatnya, ujian yang akan menentukan apakah ia pantas menjadi pahlawan yang bisa menyatukan Terravia, atau hanya menjadi korban dari perang yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
