Kepanikan melanda kediaman keluarga Ryley di Banjarmasin. Peci haji tergeletak di lantai, TV menyala dengan menu New Game yang sunyi, dan Muhammad Lev Ryley lenyap bak ditelan bumi. Di luar, suasana malam Lailatul Qadar yang sakral berubah menjadi riuh rendah kepanikan.
Hajjah Halimah menjerit histeris saat mendapati kamar anaknya kosong melompong. "Lev! Anakku! Kemana kamu Nak?"
Suara tangisan dan kehebohan segera menarik perhatian tetangga sekitar. Pak RT, yang baru saja selesai salat malam, bergegas datang bersama beberapa warga lainnya. Mereka melihat kamar Lev yang berantakan dan TV yang masih menyala dengan gambar aneh.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kenapa ini Bu Halimah?" tanya Pak RT dengan nada khawatir.
"Lev hilang, Pak RT! Tadi masih di kamar mau salat malam, terus tiba-tiba sunyi, pas saya cek, orangnya sudah nggak ada! Cuma ada peci sama TV nyala!" jawab Hajjah Halimah sambil terisak.
Warga mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka tertuju pada TV tabung yang menampilkan menu game yang tidak mereka mengerti.
"Jangan-jangan... kesurupan jin game?" bisik seorang ibu tetangga, membuat suasana makin mencekam. "Anak itu kan memang kerjanya main game mulu. Mungkin jinnya marah karena kasetnya dicabut."
Teori ini disambut oleh anggukan warga lain. Di Banjarmasin, cerita mistis dan takhayul masih mengakar kuat di beberapa lapisan masyarakat, terutama jika berhadapan dengan hal yang tidak masuk akal seperti portal piksel.
Pak RT, meski seorang yang logis, tidak bisa menjelaskan fenomena ini. Dia memandang TV dengan curiga. "Ini game apa namanya? Kayaknya bukan Winning Eleven yang biasa Lev mainin."
Salah satu pemuda yang ikut nimbrung, bernama Haris, yang juga seorang gamer, mendekati TV dengan hati-hati. "Ini menu Final Fantasy VIII versi aneh, Pak RT. CD-nya juga CD hitam polos. Kayaknya mod atau bootleg." Haris melihat CD hitam yang tergeletak di samping konsol.
"Bootleg? Apa itu?
"Bajakan, Pak."
"Astaghfirullah! Mungkin ini azab main game bajakan!" seru ibu tetangga tadi lagi.
Keluarga Ryley akhirnya memanggil seorang ustaz lokal yang disegani di kampung itu. Ustaz Syamsul, dengan janggut putihnya yang rapi dan tatapan mata teduh, datang menenangkan suasana. Dia melihat kondisi kamar, TV, dan CD hitam.
"Tenang, Bu Halimah. Kita tidak boleh langsung menuduh jin atau azab. Segala sesuatu terjadi atas izin Allah SWT," ujar Ustaz Syamsul lembut. Beliau kemudian mengambil CD hitam itu. Permukaannya terasa dingin di tangannya, membuat beliau sedikit mengernyitkan dahi. "Ini benda yang tidak biasa."
Ustaz Syamsul kemudian meminta warga untuk tidak berspekulasi dan mulai mendoakan keselamatan Lev. Mereka menggelar pengajian kecil di ruang tamu, membaca surah Yasin dan doa-doa keselamatan. Harapannya, jika Lev benar-benar diculik oleh entitas gaib, doa-doa tersebut bisa melemahkannya.
Di tengah doa bersama, Haris, si pemuda gamer, diam-diam kembali ke kamar Lev. Dia memandang TV yang masih menyala dan konsol PS1. Dia merasa ada yang janggal. Tidak ada tanda-tanda perusakan fisik di kamar itu, hanya kekacauan kecil akibat barang-barang yang beterbangan. Kejadian itu terasa lebih seperti fiksi ilmiah daripada mistis.
Haris menyalakan ponselnya dan mencoba mencari informasi tentang "CD hitam Final Fantasy VIII misterius" di internet, tapi nihil. Tidak ada informasi yang relevan. Dia kembali ke ruang tamu, pikirannya berkecamuk.
Di dunia nyata Banjarmasin, pencarian Lev Ryley dimulai. Polisi setempat dilibatkan, pencarian di sepanjang Sungai Martapura dilakukan, namun tanpa hasil. Cerita hilangnya Lev menjadi viral di tingkat lokal, memunculkan berbagai teori liar, dari diculik alien game, hingga sengaja kabur karena dikejar target nikah oleh ibunya.
Selama beberapa hari ke depan, kehidupan di komplek itu menjadi sedikit suram. Keluarga Ryley terus berdoa dan berharap Lev kembali.
Sementara itu, di dimensi lain, di dunia yang terbuat dari poligon dan tekstur, Lev Ryley terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Dia mencoba memijat pelipisnya, tapi yang ia rasakan adalah sentuhan kulit kasar di kepalanya. Dia membuka mata dan melihat tangannya. Tangannya terlihat aneh, sedikit kotak-kotak dan kaku.
Dia melihat sekeliling. Dia tidak berada di kamarnya di Banjarmasin lagi. Dia berada di sebuah ruangan medis yang futuristik, dengan mesin-mesin aneh berbunyi bip-bip. Di sampingnya, ada dua orang asing berdiri. Satunya perempuan cantik berambut coklat pendek memegang papan klip, satunya lagi laki-laki berambut jabrik dengan tatapan dingin.
"Hei, kau sudah sadar?" tanya si perempuan dengan suara jernih.
Lev menatap mereka dengan bingung. Wajah-wajah itu... dia sangat mengenalnya. Wajah-wajah karakter di FF8 yang dia mainkan setiap hari.
"Quistis...? Squall...? Gue... gue di mana?" Lev mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa kaku.
Squall, dengan pedang gunblade tersampir di punggungnya, hanya melirik Lev sekilas dengan ekspresi datar yang khas. "Kau ada di infirmary Balamb Garden. Kau pingsan di depan gerbang. Siapa namamu, cadet?"
Lev Ryley menatap Squall, lalu melihat seragam militer aneh yang ia kenakan di tubuhnya sendiri. Seketika, kenyataan pahit menghantamnya. Dia benar-benar tersedot ke dalam game.
"Ya Allah! Ibuuu!" teriak Lev, suaranya terdengar sedikit terdistorsi di dunia game itu. Misi baru Lev Ryley di dunia fantasi FF8 baru saja dimulai, jauh dari lontong sayur Banjarmasin dan khotbah Jumat Pak RT.
