Matahari sudah meninggi saat keluarga kecil Lev meninggalkan kota Martapura. Perjalanan kembali ke Banjarmasin terasa berbeda. Kepadatan lalu lintas di sepanjang jalan A Yani kini didominasi oleh truk pengangkut sawit dan mobil pribadi yang lalu lalang. Suasana di dalam mobil pun lebih santai setelah mendapatkan ketenangan batin di Ar-Raudhah.
"Mas, kita makan siang dulu di Gambut ya? Kangen sate tulang," usul Anindya, yang naluri kulinernya langsung aktif kembali setelah sesi spiritual pagi tadi.
"Boleh, sekalian istirahat sebentar," setuju Lev.
Setelah mengisi perut dengan sate tulang yang pedas dan segar, serta es kelapa muda, mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat Kota Banjarmasin. Tujuan mereka selanjutnya adalah Antasan Kecil Timur (AKT), lokasi peristirahatan terakhir KH. Ahmad Zuhdiannoor, atau yang akrab disapa Guru Zuhdi.
Guru Zuhdi adalah ulama kharismatik lainnya yang sangat dicintai masyarakat Banjar. Pengajian malam minggunya di Masjid Jami' Banjarmasin selalu dipenuhi ribuan jemaah. Kepergian beliau pada tahun 2020 lalu menyisakan duka mendalam bagi Kalimantan Selatan.
Lokasi makam Guru Zuhdi berada di tengah permukiman padat di pinggir Sungai Martapura. Aksesnya lebih menantang dibanding Ar-Raudhah. Lev harus memarkir mobil di area yang agak jauh dan berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit khas pemukiman di tepian sungai.
Anindya mulai mengeluh. "Ya ampun, Mas. Sempit sekali jalannya. Aisyah bisa lari-lari nih."
Benar saja, Aisyah yang energinya sudah pulih setelah makan siang, langsung berlari ke sana kemari, membuat Lev dan Anindya harus ekstra waspada menjaganya agar tidak menyenggol dagangan warga atau tercebur ke sungai kecil di samping jalan setapak.
"Aisyah, jangan lari terus, Nak! Pelan-pelan!" Lev panik.
"Mau lihat perahu, Abi!" balas Aisyah riang, menunjuk klotok (perahu mesin tradisional) yang melintas di sungai.
Akhirnya mereka sampai di kompleks makam. Berbeda dengan kubah megah di Sekumpul, makam Guru Zuhdi lebih sederhana, dinaungi atap minimalis, namun tidak mengurangi aura khidmatnya. Puluhan peziarah duduk bersila, melantunkan tahlil dan doa.
Suasananya sangat 'Banjarmasin'. Di sekeliling makam, kehidupan sehari-hari warga tetap berjalan. Terdengar suara anak-anak bermain, aroma masakan dari dapur tetangga, dan lalu lalang warga yang melintas. Hal ini membuat suasana ziarah terasa begitu membumi, seolah-olah Guru Zuhdi masih hidup berdampingan dengan masyarakatnya.
Lev kembali merasakan getaran spiritual yang kuat. Di sini, ia merasa lebih dekat dengan kehidupan nyata, dengan slice of life ala Banjarmasin.
"Umi, kok banyak yang nangis?" bisik Aisyah polos, melihat beberapa ibu-ibu yang terisak saat berdoa.
"Mereka rindu sama Guru Zuhdi, Nak. Beliau orang baik sekali," jawab Anindya, matanya juga mulai basah.
Mereka berdoa di sana selama hampir satu jam. Lev merenungkan ceramah-ceramah Guru Zuhdi yang sering menyejukkan hati, menekankan pentingnya adab dan akhlak di atas segalanya. Nazar ini juga tentang adab, tentang menghormati orang alim yang telah wafat.
Saat keluar dari kompleks makam, Lev dan Anindya berpapasan dengan seorang kakek tua yang wajahnya teduh. Kakek itu tersenyum pada Aisyah.
"Mau ke mana, Nak?" tanya kakek itu dengan logat Banjar yang kental.
"Mau pulang, Kek," jawab Lev ramah.
"Sudah ziarah ke Guru Zuhdi ya? Alhamdulillah. Semoga berkah perjalanannya. Beliau ini dulu alkemis ruhani kami di Banjarmasin, meramu hati yang keras jadi lembut dengan nasihatnya," ujar kakek itu tulus.
Lev mengangguk, terkesan dengan istilah "alkemis ruhani" itu. "Amin, terima kasih banyak, Kek doanya."
Setelah berpamitan, mereka kembali menyusuri gang sempit. Hati Lev dan Anindya terasa penuh. Mereka tidak hanya mengunjungi makam, tetapi juga merasakan denyut kehidupan dan cinta masyarakat terhadap ulama mereka.
Matahari mulai condong ke barat. Tujuan selanjutnya menanti: Datu Kelampayan di Banjarbaru. Perjalanan ini baru babak awal di Kalimantan Selatan, namun hikmahnya sudah sebesar lautan.
Note : saya sengaja mendahulukan Guru Sekumpul karena beberapa alasan yang tidak bisa saya sebutkan.
