Malam di Casablanca selalu memiliki pesonanya sendiri, terutama jika Anda melihatnya dari balkon vila keluarga Al-Fassi di Anfa. Lampu-lampu kota mulai menyala, dan Amira Al-Fassi berdiri di sana, terbungkus jubah mandi sutra La Perla, melamun.
Malam ini, ada acara makan malam amal yang diselenggarakan oleh salah satu bank terbesar di Maroko. Acara sosialita kelas atas di mana "dilihat" sama pentingnya dengan "memberi". Dan dilema Amira bukanlah tentang siapa yang akan dia temui, tetapi apa yang akan dia kenakan.
Di kamarnya yang luas, yang didominasi warna krem dan emas, dua gaun malam tergeletak di tempat tidur king-size dengan sprei Frette linen Mesir. Keduanya gaun rancangan desainer Timur Tengah favoritnya yang paling dicari di dunia fashion haute couture.
Gaun pertama adalah Elie Saab. Ball gown dengan rok tulle bervolume, dihiasi ribuan kristal Swarovski yang dijahit tangan, berwarna champagne yang lembut. Gaun ini memancarkan aura putri dongeng modern.
Gaun kedua adalah Zuhair Murad. Sheath dress yang lebih ramping, berbahan sutra satin berwarna merah burgundy tua, dengan potongan punggung rendah yang dramatis dan detail bordir emas di sepanjang garis leher. Gaun ini lebih seksi, lebih dewasa, dan lebih berani.
Amira, seorang mahasiswi mode yang cerdas di tahun terakhirnya, menatap kedua mahakarya itu. "Ya Allah," desahnya lucu, "ujian fashion macam apa ini?"
Laila masuk ke kamar putrinya, sudah mengenakan gaun koktail Oscar de la Renta berwarna biru safir dan kalung berlian Tiffany & Co. yang mempesona. Dia langsung memahami dilema Amira.
"Yang Saab itu cantik sekali, Amira. Sangat feminin," komentar Laila, membelai bahan tulle yang lembut.
"Iya, Umi. Tapi yang Murad... lihat potongannya. Sangat arsitektural. Lebih berani," Amira membela diri, matanya beralih ke gaun merah.
"Sayang, kita ke acara amal bank, bukan red carpet Cannes," Laila mengingatkan. "Kita harus terlihat elegan dan bersahaja, meskipun mahal. Elie Saab lebih cocok untuk image kita malam ini."
Amira merengut. "Tapi Umi, aku sudah pakai Saab dua kali bulan lalu. Semua orang di feeds Instagramku sudah melihatnya."
Di dunia Al-Fassi, mengulang pakaian di acara sosial besar adalah dosa kecil yang memalukan.
Laila menghela napas. "Baiklah, pakai Murad. Tapi pakai kerudung sutra yang menutupi punggungmu dengan elegan, ya. Jangan terlalu terbuka."
Sebagai keluarga Muslim yang taat, mereka selalu memastikan Amira mengenakan hijab di acara formal. Fashion tinggi dan modesty (kesopanan) adalah dua hal yang Amira kuasai dengan sempurna. Dia mampu memadukan gaun couture paling seksi sekalipun menjadi tampilan yang anggun dan tertutup.
Akhirnya, Amira memutuskan memakai Zuhair Murad. Dia memanggil penata rambut dan make-up pribadinya yang sudah menunggu di ruang rias.
Satu jam kemudian, Amira keluar dari kamarnya. Zayn dan Tariq sudah menunggu di ruang tamu. Zayn mengenakan tuksedo Tom Ford yang pas badan, dan Tariq dengan setelan jas Dior Men yang sleek dan sepatu pantofel kulit mengkilap.
Ketiganya menoleh, dan napas mereka tertahan sesaat. Amira tampak luar biasa. Gaun Zuhair Murad merah burgundy itu memeluk tubuhnya dengan sempurna. Dia mengenakan hijab sutra satin sewarna yang diatur sedemikian rupa sehingga tetap menonjolkan keindahan gaun tanpa melanggar batasan kesopanan Islami. Di tangannya, sebuah clutch kristal Judith Leiber Couture berbentuk bunga mawar.
"Masya Allah, putri Abi cantik sekali," puji Zayn, matanya berkaca-kaca.
"Gokil, Kak. Kamu kelihatan kayak model Vogue," tambah Tariq, terkesan.
Amira tersipu malu. "Makasih, Abi, Tariq. Umi, bagaimana?"
Laila tersenyum bangga. "Sempurna, sayang. Kamu berhasil membuat gaun itu jadi milikmu."
Mereka beranjak menuju garasi. Malam ini, Zayn memutuskan untuk membawa Rolls-Royce Cullinan. Kendaraan über-luxury itu sangat cocok untuk acara formal di Casablanca.
Saat mereka melaju meninggalkan vila mewah mereka, Amira memandang pantulan dirinya di jendela mobil. Dia merasa percaya diri, elegan, dan siap. Dilema fashion sudah terlewati, digantikan oleh kegembiraan malam yang akan datang. Dalam dunia Al-Fassi, memilih pakaian adalah bentuk ekspresi diri, dan malam ini, Amira siap membuat pernyataan yang berani namun berkelas.
