Tiba-tiba, ponsel Vania berdering. Di layar, tertera nama Mia. Vania menghela napas panjang, bersiap menghadapi serangan bertubi-tubi dari sahabatnya yang paling heboh.
"Vania! Kamu sudah balas pesannya?! Jangan sampai kesempatan emas ini lepas begitu saja!" seru Mia, suaranya melengking.
"Belum, Mia. Aku bingung. Ini terlalu cepat. Lagipula, kan kita nggak tahu dia beneran baik atau enggak," jawab Vania.
"Itulah gunanya kencan pertama, Vania! Kita harus tahu dia itu orangnya seperti apa. Ini bukan lagi soal dikejar bebek, ini tentang masa depanmu!"
"Tapi, Mia..."
"Tidak ada tapi-tapian! Aku sudah atur semuanya. Kamu kencan buta sama cowok lain besok, buat pemanasan. Kalau berhasil, kita langsung balas pesan Lev. Kalau gagal, kita juga balas, biar ada bahan cerita," putus Mia.
Vania terkejut. "Kencan buta? Sama siapa?"
"Namanya Fikri. Dia teman dari teman sekantor Sarah. Katanya dia baik, sopan, dan punya masa depan cerah," jelas Mia dengan nada penuh keyakinan. "Jadi, besok jam 7 malam, di kafe Senja Martapura. Jangan sampai telat, ya!"
Vania tidak bisa menolak. Ia tahu Mia tidak akan menyerah sampai ia menurut. Akhirnya, ia pasrah. Esok harinya, Vania mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, dengan jilbab yang senada. Ia ingin terlihat anggun dan sopan. Ia juga sudah mempersiapkan beberapa topik pembicaraan agar tidak canggung.
Sesampainya di kafe Senja Martapura, Vania melihat seorang pria duduk di meja paling ujung. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jins. Pria itu menatapnya, lalu tersenyum. Vania menghampirinya.
"Assalamualaikum," sapa Vania.
"Waalaikumsalam," jawab pria itu. "Anda Vania, kan? Saya Fikri."
Mereka pun berbincang-bincang. Fikri terlihat ramah, tapi entah kenapa, Vania merasa ada yang aneh. Fikri terlalu banyak memuji dirinya, bahkan sampai menyebut-nyebut soal harta.
"Kamu cantik sekali. Pasti banyak yang suka ya?"
"Tidak juga," Vania merasa tidak nyaman.
"Pekerjaanmu juga bagus. Guru teladan, kan? Pasti gajinya lumayan," lanjut Fikri.
Vania mulai curiga. Topik pembicaraan mereka tidak lagi seputar minat dan hobi, tapi sudah mengarah ke hal-hal yang berbau materi. Vania merasa ini bukan kencan yang baik.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya datang menghampiri meja mereka. Ia menatap Fikri dengan tajam.
"Fikri! Sedang apa kamu di sini?! Kenapa tidak pulang ke rumah?!" seru wanita itu.
Fikri langsung pucat. "Ibu! Kenapa ibu di sini?"
"Ibu tahu kamu mau kencan buta. Jadi ibu datang. Kamu sudah menikah, Fikri! Jangan coba-coba selingkuh!"
Vania terkejut. "Menikah?!"
"Iya, neng. Dia sudah menikah. Istrinya lagi hamil muda. Ini teman ibu, neng. Katanya mau jodohin kamu sama Fikri. Ibu langsung datang ke sini," jelas wanita itu.
Vania merasa seperti ditampar. Ia tidak menyangka kencan butanya akan berakhir dengan drama seperti ini. Ia langsung meminta maaf kepada istri Fikri dan bergegas pergi dari kafe.
Di luar kafe, Vania langsung menelepon Mia.
"Mia! Aku butuh penjelasan!" seru Vania, suaranya bergetar.
"Kenapa, Van? Kencannya gagal ya? Kamu dicuekin?"
"Gagal total! Dia sudah menikah! Istrinya lagi hamil! Kamu dapat kontak dari mana, sih?!"
Mia terdiam. "Aduh, Van. Maaf. Aku nggak tahu. Teman Sarah bilang dia masih lajang."
"Teman Sarah yang mana?! Nanti aku habisin!"
"Sudahlah, Van. Kita coba lagi. Masih ada Lev!"
Vania menghela napas. Ia merasa lelah dengan semua kekonyolan ini. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah, mematikan ponselnya, dan tidur. Ia sudah tidak mau lagi mendengar rencana-rencana gila dari Mia. Ia ingin sendiri, menenangkan diri. Ia hanya berharap, Lev tidak melihat kejadian tadi. Tapi, ia sadar, Banjarmasin itu tidak seluas itu. Berita pasti akan menyebar dengan cepat. Ia hanya bisa berdoa, semoga Lev tidak menghakimi dirinya. Ia hanya ingin menemukan jodohnya dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang penuh drama seperti ini.
