Mengapa Zahra ingin tertidur dan tak bangun lagi? Ikuti kisah Zahra Al-Maliha dalam novel Islami paling menyentuh tahun 2026. Berlatar di Perth, Australia, sebuah perjalanan slice of life tentang depresi, kehilangan, dan menemukan kembali cahaya Allah di ujung Swan River. Baca 15 bab lengkap di sini.
Perth di bulan September seharusnya menjadi sebuah janji tentang awal yang baru. Musim semi mulai menyapa, membawa aroma bunga wildflower yang khas dan semilir angin dari Samudera Hindia yang menyapu jalanan kota. Namun, bagi Zahra Al-Maliha, semua keindahan itu hanyalah gangguan.
Zahra berdiri mematung di balkon apartemennya di East Perth. Di hadapannya, Swan River mengalir tenang, memantulkan warna langit sore yang mulai menguning. Dari kejauhan, gedung-gedung tinggi di St. Georges Terrace tampak kokoh, melambangkan kemakmuran dan masa depan. Namun, di dalam dada Zahra, ada sesuatu yang telah runtuh dan tak menyisakan apa pun selain puing-puing.
Ia merapatkan jaket rajutnya. Angin musim semi di Australia Barat seringkali membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, atau mungkin, itu hanya perasaannya karena hatinya memang sudah membeku sejak meninggalkan Jakarta.
"Zahra, makanlah sedikit. Kamu sudah melewatkan dua waktu makan," suara lembut dari dalam ruangan tidak membuatnya menoleh. Itu adalah suara rekaman pesan dari sahabatnya di Indonesia yang sengaja ia putar berulang kali, hanya agar ia tidak merasa benar-benar gila dalam kesunyian.
Zahra menarik napas panjang, namun dadanya terasa sesak. Oksigen di Perth terasa terlalu berat untuk paru-parunya. Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit kembali muncul. Bayangan tentang rumah yang kini kosong, tentang tawa yang berubah menjadi isak tangis, dan tentang sebuah kesalahan besar yang membuatnya merasa tak layak lagi untuk mencicipi kebahagiaan.
"Kenapa aku harus berada di sini, ya Allah?" bisiknya lirih. Suaranya hilang ditelan deru angin.
Ia datang ke Perth dengan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi pascasarjana di University of Western Australia (UWA). Banyak orang memimpikan posisi ini—belajar di salah satu universitas terbaik dunia, tinggal di kota yang dinobatkan sebagai salah satu yang paling layak huni. Namun bagi Zahra, ini hanyalah pelarian yang gagal. Ia membawa luka itu dalam kopernya, menyelipkannya di antara buku-buku referensi, dan kini luka itu telah menyebar seperti kanker, menggerogoti keinginan hidupnya.
Zahra menatap ke bawah, ke arah trotoar yang mulai sepi. Orang-orang Australia pulang ke rumah dengan langkah ringan, membawa kantong belanjaan atau menggandeng pasangan mereka. Mereka punya tujuan. Mereka punya alasan untuk bangun keesokan harinya.
Sedangkan dia?
Zahra merasa seperti selembar daun kering yang jatuh di tengah taman yang hijau. Tak ada yang menyadari kehadirannya, dan tak ada yang akan peduli jika ia tertiup angin dan hilang. Ia merasa lelah—sangat lelah. Bukan tipe lelah yang bisa disembuhkan dengan delapan jam tidur. Ini adalah kelelahan eksistensial, sebuah titik di mana jiwa memohon untuk berhenti berjuang.
Pandangannya tertuju pada botol obat tidur yang tergeletak di atas meja kecil di samping pintu balkon. Ia sudah lama tidak bisa membedakan antara siang dan malam. Baginya, kegelapan adalah teman, karena dalam gelap ia tak perlu melihat dunia yang menuntutnya untuk baik-baik saja.
"Jika aku tertidur malam ini," pikirnya dengan detak jantung yang melambat, "dan jika Engkau memang Maha Penyayang, biarkanlah aku tetap dalam tidur itu. Jangan bangunkan aku untuk menghadapi matahari besok pagi. Aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura bernapas."
Zahra melangkah masuk ke dalam, menutup pintu kaca balkon dengan perlahan. Suara denting kunci terdengar seperti penutup sebuah bab kehidupan. Ia mematikan lampu, membiarkan apartemennya tenggelam dalam remang. Di tengah kesunyian Perth yang mencekam, ia merebahkan diri di atas kasur yang terasa sedingin es.
Di sepertiga malam yang mulai merayap, di bawah langit Australia yang luas, Zahra Al-Maliha memejamkan mata dengan satu harapan terakhir yang sangat egois namun jujur: Ia ingin pulang, bukan ke tempat asalnya, tapi ke tempat di mana rasa sakit tidak lagi bisa menyentuhnya.
