Pulangnya Ogon dari dimensi lain disambut dengan perayaan kecil di kafe Ksenia. Meskipun sebagian besar tamu tidak menyadari petualangan ajaib yang baru saja terjadi, Ksenia dan Vera tidak bisa menahan diri untuk bercerita tentang pengalaman mereka. Vera menceritakan dengan detail bagaimana goblin-goblin nakal itu terperdaya oleh ilusi ikan sarden Andriy. Sementara itu, Ksenia merekam Ogon yang kembali bersemangat mencuri kaleng sarden, memberi judul pada video vlognya, "Kisah Nyata: Kucing yang Kembali dari Dimensi Lain untuk Ikan Sarden!"
Andriy, yang kini duduk di meja favoritnya, meminum teh chamomile dengan senyum tipis. Ia mengamati betapa bahagianya Ksenia dan Vera. Bagi mereka, petualangan itu adalah pengalaman yang seru dan menegangkan. Bagi Andriy, itu adalah pengingat bahwa di balik rutinitasnya yang membosankan, ada dunia lain yang masih hidup. Dunia sihir, dunia yang ia tinggalkan demi keselamatan.
"Kau terlihat bahagia, Andriy," kata Vera, duduk di seberang Andriy. "Kau sudah lama tidak tersenyum seperti itu."
"Aku hanya... senang melihat Ogon kembali," jawab Andriy.
"Aku tahu itu bukan hanya itu," kata Vera, sambil tersenyum. "Kau senang karena kami bisa melakukannya bersama. Kau tidak sendiri lagi, Andriy."
Andriy menatap Vera, dan ia merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Vera benar. Keabadiannya membuatnya terbiasa dengan kesepian. Ia terbiasa dengan ide bahwa ia akan selalu menjadi orang luar, seorang pengamat yang tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tetapi Vera dan Ksenia telah mengubahnya. Mereka telah membuatnya merasa seperti bagian dari sebuah keluarga.
"Bagaimana dengan Kakek Nikolai?" tanya Vera, suaranya sedikit cemas.
"Aku akan menjenguknya sebentar lagi," jawab Andriy. "Aku punya sesuatu untuknya."
Setelah selesai minum teh, Andriy mengambil sebungkus pirozhki yang dibuatnya bersama Ksenia dan Vera. Ia berjalan ke rumah Kolya. Malam sudah larut, dan Chelyabinsk diselimuti salju yang lebat. Udara terasa dingin, namun Andriy tidak merasakannya. Hatinya terasa hangat.
Saat ia sampai di rumah Kolya, ia melihat cahaya dari jendela. Kolya sedang duduk di kursi, memandangi salju yang turun. Ia terlihat lebih lemah, tetapi senyumnya masih ada.
"Andriy," Kolya berbisik, "aku tahu kau akan datang."
"Aku datang," jawab Andriy, duduk di seberangnya. Ia meletakkan pirozhki di meja. "Ini untukmu. Pirozhki kuno yang kubuat dengan Vera dan Ksenia."
Kolya mengambil sepotong pirozhki, mencicipinya, dan air mata mengalir di pipinya. "Rasanya... rasanya sama seperti yang dibuat oleh ibumu," bisik Kolya. "Seperti yang dulu diceritakan kakekku."
Andriy terdiam. Ia tahu, Kolya tidak hanya merasakan rasa pirozhki itu. Ia merasakan kenangan yang ada di dalamnya.
"Aku juga membuat pirozhki ini dengan Vera dan Ksenia," kata Andriy. "Mereka adalah... teman-temanku."
Kolya tersenyum. "Aku tahu, Andriy. Mereka adalah keluargamu. Kau beruntung, Andriy. Kau menemukan keluarga lagi."
Andriy menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bersalah karena ia akan menyaksikan Kolya pergi, seperti ia menyaksikan Pyotr pergi.
"Andriy," Kolya memanggil, "kau tidak perlu merasa bersalah. Hidup ini singkat, dan persahabatan itu... itu adalah hadiah. Kau harus menghargainya."
Andriy menatap Kolya, dan ia melihat kejujuran di matanya. Ia menyadari, Kolya tidak takut pada kematian. Ia hanya takut pada perpisahan.
"Aku tidak akan melupakanmu, Kolya," kata Andriy, dengan suara yang serak.
"Aku tahu, Andriy," jawab Kolya. "Aku juga tidak akan melupakanmu. Aku akan menjadi bintang yang paling bersinar di langit."
Andriy tersenyum. Ia menatap ke luar jendela, melihat salju yang terus turun. Ia tahu, suatu hari nanti, ia akan melihat bintang paling bersinar di langit, dan ia akan tahu, itu adalah Kolya.
Malam itu, Andriy pulang ke toko buku dengan perasaan campur aduk. Ada kesedihan, tapi juga ada harapan. Ia menyadari, keabadiannya bukanlah kutukan. Ia adalah kesempatan untuk menyaksikan keindahan hidup, meskipun ia tahu bahwa perpisahan akan datang.
Ia duduk di kursi kesayangannya, memandangi salju yang terus turun. Ia mengambil foto usang dari kotaknya, dan ia melihat wajah Pyotr. Ia tersenyum. Pyotr sudah tiada, tapi kenangan akan dirinya tetap hidup. Seperti Kolya, yang suatu hari nanti akan menjadi kenangan yang indah.
Babak baru dalam hidup Andriy, yang penuh dengan persahabatan, pirozhki, dan kenangan, telah dimulai. Ia akan menjalani setiap momennya, dengan penuh semangat, dan ia akan menghargai setiap momen yang ia miliki bersama keluarganya yang baru.
