Anindya merasa dunianya runtuh. Panggilan video yang berakhir dengan nada dingin itu terasa seperti memutus tali hubungannya dengan keluarga. Rasa sakit di hatinya begitu dalam, namun ia tahu, ia tidak boleh menyerah. Kekuatan satu-satunya yang ia miliki saat ini adalah keyakinan, dan ia harus berpegang teguh pada itu.
Malam itu, setelah salat isya, ia menangis di sajadahnya. Ia meminta kekuatan kepada Allah, memohon agar hatinya tetap teguh. Ia juga berdoa untuk orang tuanya, berharap suatu saat nanti mereka bisa mengerti dan menerima keputusannya. Di tengah tangisnya, ia merasakan sentuhan lembut di bahunya.
Itu Fatimah. Fatimah, yang mengetahui keadaan Anindya dari Adam, datang mengunjunginya. Ia membawa teh hangat dan kue kering, berusaha menghibur sahabat barunya itu.
"Anin," panggil Fatimah dengan suara lembut. "Aku tahu ini berat. Tapi kamu enggak sendirian."
Anindya menoleh, menatap Fatimah dengan mata sembab. "Fatimah... orang tuaku enggak mau dengar. Mereka malu. Mereka pikir aku dicuci otak."
"Mereka hanya belum mengerti," kata Fatimah. "Mereka melihat dari sudut pandang mereka, dari ketakutan mereka. Beri mereka waktu, Anin. Suatu saat nanti, mereka akan melihat ketenangan yang ada di dirimu."
Fatimah memeluk Anindya erat. "Kita di sini, Anin. Komunitas kita adalah keluargamu sekarang. Kita akan selalu ada untukmu."
Kata-kata Fatimah terasa seperti balsam di luka Anindya. Ia merasa tidak sendirian lagi. Ada komunitas yang menerimanya, mendukungnya, dan menguatkannya. Ia menyadari, Allah tidak pernah meninggalkannya. Saat satu pintu tertutup, Allah membuka pintu yang lain.
Beberapa hari kemudian, Anindya dan Adam bertemu di sebuah kafe. Adam datang dengan wajah penuh simpati. "Anin, aku turut prihatin. Tapi kamu harus kuat. Ini adalah ujian yang akan menguatkan imanmu."
"Aku takut, Adam," bisik Anindya. "Aku takut keluargaku akan selamanya membenciku."
"Tidak," kata Adam tegas. "Cinta orang tua itu abadi. Mereka hanya butuh waktu. Kamu tunjukkan saja kepada mereka bahwa kamu bahagia, bahwa kamu menemukan ketenangan. Suatu saat nanti, mereka pasti akan luluh."
Adam lalu bercerita tentang pengalamannya. Ada banyak mualaf di komunitas mereka yang juga mengalami penolakan dari keluarga. Namun, dengan kesabaran dan keikhlasan, banyak dari mereka akhirnya bisa kembali dekat dengan keluarga. Kisah-kisah itu menginspirasi Anindya. Ia merasa memiliki harapan.
Adam juga mengajak Anindya untuk lebih aktif di komunitas. Mereka mulai mengadakan kajian-kajian kecil, bakti sosial, dan acara-acara lainnya. Anindya merasa menemukan keluarga baru di tengah komunitas ini. Ia belajar banyak hal, tidak hanya tentang agama, tetapi juga tentang arti persahabatan, keikhlasan, dan kekuatan doa.
Dukungan dari Fatimah, Adam, dan komunitas Muslim lainnya memberikan Anindya kekuatan yang ia butuhkan. Di kota Manchester yang jauh dari rumah, ia menemukan keluarga baru yang memberinya kehangatan dan dukungan. Ia tahu, perjalanannya masih panjang, tetapi ia tidak lagi merasa takut. Ia yakin, dengan keyakinan dan dukungan dari komunitasnya, ia bisa melewati semua badai yang datang. Dan yang terpenting, ia tahu bahwa ia tidak pernah sendirian. Ada Allah yang selalu bersamanya.
