Tahun 2013 – Kampus Merah FISIP ULM
Matahari Banjarmasin di bulan September terasa lebih menyengat dibandingkan sejuknya udara pegunungan Meratus di Barabai. Muhammad Hifni berdiri di depan gerbang utama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Jalan Brigjen H. Hasan Basri. Mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam—seragam khas mahasiswa baru—ia merasa seperti seorang prajurit yang siap turun ke medan tempur.
"Ingat Hifni, kamu ke sini bukan cuma buat cari gelar sarjana, tapi buat belajar bagaimana mengurus rakyat," bisik suara Abahnya di telinga, sebuah pesan perpisahan sesaat sebelum ia menaiki bus antarkota Barabai-Banjarmasin beberapa hari lalu.
Hifni melangkah mantap menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), atau yang akrab disebut "Kampus Merah". Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, ambisinya sangat spesifik: ia ingin memahami bagaimana birokrasi bekerja agar suatu saat nanti ia bisa membenahi sistem di daerah asalnya, Hulu Sungai Tengah.
Di koridor gedung yang masih terasa kental suasana tahun 2013—dengan papan pengumuman manual penuh tempelan kertas dan aroma buku tua—Hifni bertemu dengan realitas pertamanya. Mata kuliah "Pengantar Ilmu Pemerintahan" menjadi pembuka harinya.
"Ilmu pemerintahan bukan sekadar administrasi, tapi soal seni mengelola kekuasaan demi kemaslahatan," ujar Dosen di depan kelas dengan suara bariton yang menggema. Hifni mencatat setiap kata dengan saksama di buku tulis hardcover-nya. Baginya, setiap teori adalah amunisi.
Namun, kehidupan kampus tahun 2013 bukan hanya soal teori. Di sela jam kuliah, Hifni sering menghabiskan waktu di kantin kejujuran atau duduk di bawah pohon rindang area FISIP. Di sanalah ia sering berdiskusi dengan empat sahabat kosnya.
Suatu siang, Nazib datang dengan wajah ditekuk. "Hif, laptopku error pas mau instal Pascal. Anak Ilmu Komputer kok nasibnya begini," keluhnya.
Hifni tertawa kecil. "Sabar, Zib. Itu ujian kesabaran teknisi. Aku juga pusing baca teori kedaulatan, tapi ya itu seninya kuliah."
Perjuangan Hifni di babak awal ini adalah tentang adaptasi. Ia harus belajar membagi waktu antara jadwal kuliah yang padat, tugas rangkuman yang diketik rapi di kertas A4, hingga kewajibannya sebagai anak kos yang harus mencuci baju sendiri. Meski jauh dari keluarga di Barabai, ambisinya tidak luntur. Setiap kali ia melewati jalanan Kayu Tangi yang macet oleh kendaraan bermotor mahasiswa, ia selalu diingatkan bahwa ribuan anak muda di sini punya mimpi yang sama, namun ia punya janji pada tanah kelahirannya yang harus ditepati.
Di akhir semester satu nanti, Hifni sadar bahwa Ilmu Pemerintahan adalah jalan panjang yang sunyi. Namun, dengan dukungan sahabat-sahabatnya dari berbagai latar belakang jurusan—PAI, Komputer, PGSD, dan Pertanian—ia merasa tidak akan pernah berjalan sendirian di Kota Seribu Sungai ini.
Lanjut ke Bab 3: Suara Adzan di Langit Amuntai – Irvan Zidni dan Pengabdian PAI
