Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Malam pertama di Banjarmasin tidaklah sesunyi yang dibayangkan Rina Rufida. Jika di Puruk Cahu ia biasa terlelap dengan suara jangkrik dan deru sungai Barito yang tenang, di Kayutangi ia harus terbiasa dengan suara knalpot motor yang sesekali menderu di jalan raya dan suara obrolan mahasiswa dari kos sebelah.
Kamar Nomor 5. Itulah markas mereka. Ruangannya tidak terlalu luas, namun cukup untuk menampung lima lemari plastik bongkar-pasang, lima kasur lantai yang dijajar rapi, dan tumpukan buku yang mulai menggunung.
"Kita bagi tugas ya," celetuk Dina Selvina sambil menyusun sikat gigi dan pasta gigi di rak mungilnya. "Sebagai calon perawat gigi, kebersihan kamar mandi adalah harga mati. Aku bagian kuras kamar mandi setiap minggu."
Eva yang sedang asyik memasang jaringan Wi-Fi ilegal—hasil "ngoprek" modem USB lama—hanya mengacungkan jempol. "Aku bagian maintenance elektronik. Kalau lampu mati, laptop lemot, atau ada kabel putus, lapor aku. Tapi jangan minta bayaran, cukup belikan aku kuota internet."
Fatimah tertawa sambil menyusun buku-buku puisinya. "Kalau aku, bagian estetika. Aku yang akan memastikan dekorasi kamar ini tidak membosankan. Dan mungkin, aku akan menuliskan kutipan motivasi setiap pagi di pintu depan agar kita semangat kuliah."
"Lalu aku?" tanya Rina sambil merapikan kamus Oxford-nya yang tebal.
"Kamu bagian diplomasi, Rin," sahut Abdalia yang sedang sibuk di pojok ruangan dengan kompor gas satu tungku. "Karena suaramu yang paling tegas, kamu yang bicara kalau ada bapak kos datang menagih uang listrik. Tapi sekarang, tugas paling penting adalah: MAKAN!"
Abdalia membentangkan koran bekas di tengah ruangan. Di atasnya, ia menyajikan mahakarya pertamanya di tanah perantauan: Gangan Asam Banjar dengan kepala ikan haruan, sambal acan (terasi) yang Di manya menyeruak ke seluruh penjuru kos, dan tentu saja, mandai goreng yang sudah menjadi legenda di kalangan mereka.
Inilah ritual "Makan Tengah". Sebuah tradisi sederhana di mana piring-piring diletakkan melingkar, dan semua lauk ditaruh di tengah untuk dimakan bersama. Tidak ada sekat kaya atau miskin di sini; yang ada hanyalah perut-perut lapar mahasiswa baru.
"Bismillah..." Rina memimpin doa.
Suasana makan yang awalnya tenang berubah menjadi riuh saat Dina mulai bercerita tentang ospek hari pertamanya.
"Kalian tahu tidak?" Dina bicara sambil mengunyah mandai. "Tadi di kampus, ada kakak tingkat yang menyuruhku menghitung jumlah gigi semua maba di satu barisan. Aku hampir pingsan karena bau mulut mereka macam-macam! Ada yang bau jengkol, ada yang belum sikat gigi!"
Tawa pecah memenuhi Kamar Nomor 5. Eva hampir saja tersedak air tehnya. "Itu belum seberapa, Din. Tadi di Teknik, aku disuruh bikin surat cinta pakai bahasa biner (0 dan 1). Bayangkan, nulis 'I Love You' saja panjangnya sudah seperti satu bab skripsi!"
Fatimah menimpali dengan gaya dramatis, "Setidaknya kalian tidak disuruh baca puisi di depan lapangan bola sambil membawa bendera merah putih seperti aku. Aku merasa seperti pahlawan yang salah alamat."
Rina mendengarkan sambil tersenyum lebar. Rasa rindu pada kampung halaman di Puruk Cahu perlahan terkikis oleh kehangatan persahabatan ini. Di Banjarmasin tahun 2013, di mana media sosial seperti Facebook dan Twitter sedang jaya-jayanya, mereka justru menemukan kebahagiaan sejati dalam interaksi tatap muka yang jujur.
Namun, di tengah tawa itu, Abdalia tiba-tiba terdiam. Ia menatap teman-temannya satu per satu.
"Kenapa, Dal?" tanya Rina heran.
"Aku cuma kepikiran," suara Abdalia melembut. "Kita berlima datang dari tempat yang berbeda. Ada yang dari pegunungan, ada yang dari pesisir, ada yang dari kota kecil. Tapi malam ini, Allah pertemukan kita di sini. Aku berharap, bukan cuma di semester satu kita makan bersama seperti ini. Tapi sampai kita semua pakai toga nanti."
Suasana mendadak haru. Fatimah, si puitis, mulai berkaca-kaca. "Amin. Semoga persahabatan kita ini lillah, karena Allah."
Malam itu ditutup dengan diskusi kecil mengenai jadwal piket shalat Subuh berjamaah. Mereka sepakat, siapa pun yang bangun paling dulu wajib menyiram wajah yang lain dengan sedikit air—sebuah cara "kejam" namun efektif untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan waktu Subuh.
Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi Lambung Mangkurat. Air sungai Martapura mulai pasang, meluap ke beberapa parit di Kayutangi. Tapi di dalam Kamar Nomor 5, api semangat lima mahasiswi ini justru semakin menyala. Semester satu baru saja dimulai, dan tantangan yang sebenarnya sedang menunggu di balik pintu kampus esok pagi.
Catatan Budaya (Penting untuk Pembaca):
Gangan Asam & Mandai: Menu wajib Kalimantan Selatan. Mandai terbuat dari kulit buah cempedak yang diawetkan dengan garam. Pelajari lebih lanjut tentang Kuliner Banjar di sini.
Kawasan Kayutangi: Pada tahun 2013, daerah ini adalah pusat keramaian mahasiswa dengan banyak warung internet (warnet) dan tempat fotokopi yang buka hingga larut malam.
Transportasi 2013: Mahasiswa banyak mengandalkan angkot (taksi kuning) atau motor bebek legendaris seperti Honda Supra atau Yamaha Jupiter.
Lanjut ke Bab 3: Rina dan Kamus Tebal (Perjuangan di Lab Bahasa)...
Ingin tahu kelanjutan kisah mereka? Jangan lupa bookmark halaman ini dan bagikan ke teman-teman seperjuangan kuliahmu!
