Banjarbaru tidak pernah benar-benar tidur. Di Lapangan Murjani, jantung kota ini berdenyut dengan irama yang riuh. Cahaya lampu dari deretan mobil hias—odong-odong—berpendar warna-warni, memantul di aspal yang masih basah sisa hujan sore tadi. Aroma jagung bakar dan pentol kuah menyeruak di udara, bercampur dengan tawa pasangan muda-mudi yang berjalan beriringan.
Di tengah keramaian itu, Lev Ryley duduk menyendiri di sebuah bangku kayu panjang yang catnya mulai mengelupas. Bagi orang lain, itu hanyalah fasilitas umum. Bagi Lev, bangku itu adalah altar kenangan yang paling suci sekaligus paling menyakitkan.
Setahun yang lalu, di kursi ini, Vania Larasati masih ada.
Lev memejamkan mata, mencoba memanggil kembali memori itu. Ia seolah bisa merasakan berat kepala Vania yang bersandar di bahunya. Saat itu, Vania mengenakan kupluk rajut untuk menutupi kepalanya yang mulai gundul akibat kemoterapi stadium lanjut. Lev masih ingat betapa dingin tangan Vania saat ia menggenggamnya, sebuah kontras yang tajam dengan hangatnya semangat hidup yang terpancar dari mata gadis itu.
"Lev," suara Vania terngiang di telinganya, lembut seperti bisikan angin di antara pohon pinus. "Lihat lampu-lampu itu. Mereka terang karena mereka tahu tugasnya adalah mengusir gelap. Nanti, kalau aku sudah tidak ada, kamu harus jadi lampu itu ya? Jangan jadi gelapnya."
Lev membuka matanya. Kenyataannya pahit: ia merasa dirinya adalah kegelapan itu sendiri. Setahun berlalu sejak Vania wafat di usia 20 tahun, dan Lev masih terjebak di usia yang sama secara emosional. Baginya, waktu berhenti di saat nisan kayu itu tertancap di Guntung Lua.
Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mulai menulis. Pena hitamnya menari di atas kertas, mencoba menerjemahkan sesak yang menghuni dadanya selama 365 hari terakhir. Inilah awal dari rangkaian puisi yang kelak ia beri judul "Listen Before I Go".
Puisi: Listen Before I Go (Bagian II – Di Balik Keramaian Murjani)
Dengarkanlah, sebelum aku melangkah pergi dari bangku ini,
Sebelum hiruk-pikuk kota ini menelan suaraku yang parau.
Vania, malam ini Murjani masih merayakan kehidupan,
Tapi di sini, di sebelah kananku, hanya ada ruang kosong yang membeku.
Dengarlah, wahai jiwa-jiwa yang sedang jatuh cinta,
Jangan kau sombongkan waktu yang kau punya,
Sebab aku pernah melihat kecantikan gugur sebelum waktunya,
Seperti mawar yang layu oleh kanker di puncak musim seminya.
Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan jejak ini,
Ketahuilah bahwa mencintai karena Allah adalah satu-satunya obat,
Sebab ketika raga terpisah oleh liang lahat,
Hanya doa-doa yang sanggup menembus sekat.
Lev berhenti menulis. Ia menatap ke arah kantor Wali Kota Banjarbaru yang berdiri megah di seberang lapangan. Ia menyadari bahwa duka ini tidak boleh ia simpan sendiri. Ia ingin dunia tahu betapa hebatnya Vania berjuang. Ia ingin semua orang di Banjarbaru—dan di seluruh dunia yang mengakses tulisannya—mendengar pesan ini sebelum terlambat.
Target artikel ini adalah semua orang yang merasa dunianya berakhir saat kehilangan seseorang. Lev ingin memberitahu bahwa kehilangan bukan tentang berhenti hidup, tapi tentang belajar hidup dengan cara yang baru.
Ia mengambil ponselnya, memotret bangku kosong di sampingnya, lalu mengunggahnya ke blog pribadinya dengan judul: "Pesan dari Kursi Kosong: Apa yang Harus Kau Lakukan Sebelum Dia Pergi?".
Dalam sekejap, tulisan itu menarik perhatian pembaca di media sosial. Tagar #ListenBeforeIGo dan #LevVaniaStory mulai merayap naik. Lev tidak mencari ketenaran; ia hanya sedang memenuhi janji pada gadis yang kini sudah berada di sisi Sang Pencipta.
Angin malam Banjarbaru berhembus kencang, menggoyangkan dahan pohon pinus. Lev menarik napas panjang, bangkit dari duduknya, dan melangkah pergi. Ia tahu, bab-bab selanjutnya dari hidupnya akan lebih berat, namun ia tidak akan berhenti menulis hingga seluruh dunia mendengar apa yang ingin ia sampaikan.
