Ikuti keseruan keluarga Lev Ryley dan Anindya Putri menyambut Ramadhan 2026 di Banjarmasin. Mulai dari drama paket belanja online, tips puasa untuk anak, hingga aksi lucu kucing-kucing kesayangan mereka saat tarawih. Kisah inspiratif yang hangat, lucu, dan penuh makna!
Suasana subuh di hari pertama Ramadhan 2026 di Banjarmasin terasa begitu magis. Kabut tipis menyelimuti permukaan Sungai Martapura, sementara suara tahrim bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid-masjid di sepanjang Jalan Pierre Tendean. Namun, di dalam rumah keluarga Lev ℛyley, kedamaian itu sedikit terusik oleh bunyi alarm yang beradu dengan suara "meongan" menuntut ilmu—maksudnya menuntut makanan—dari Muezza.
"Abah, bangun... Muezza sudah mencakar pintu kamar dari tadi. Dia sepertinya tahu kalau ini jadwal sahur pertama," bisik Anindya sambil mengguncang bahu Lev.
Lev terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Sebagai orang IT, jam tidurnya biasanya baru dimulai saat orang lain bangun sahur. "Iya, Bu... Suruh Muezza sabar, dia kan tidak ikut puasa, kenapa dia yang paling heboh?"
Di dapur, Aisyah Humaira sudah lebih dulu beraksi. Sebagai mahasiswi PGSD yang terbiasa dengan manajemen organisasi, Aisyah telah menempelkan selembar kertas besar di pintu kulkas: "PROTOKOL RAMADHAN KELUARGA RYLEY 2026". Di sana tertera jadwal piket cuci piring, daftar menu agar tidak ada mubazir, hingga jatah maksimal "unboxing" paket per hari agar rumah tidak sesak.
"Ma, Abah, sahur sudah siap! Sayur asem Banjar dan Ikan Haruan goreng sudah di meja. Jangan sampai imsak duluan!" teriak Aisyah dengan nada otoriter namun lembut.
Satu per satu anggota keluarga berkumpul. Maryam turun dengan wajah mengantuk namun tetap membawa buku sketsanya, Ghina sibuk mencari sudut pencahayaan yang pas untuk memotret menu sahur (demi konten "Sahur Estetik"), dan Rayyan yang masih memakai sarung hingga menutupi dada, tampak bersemangat meskipun matanya masih setengah terpejam.
"Rayyan, baca doa sebelum makan, Nak," perintah Lev.
Setelah doa dipanjatkan, suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar denting sendok dan piring. Namun, keheningan itu pecah saat Ghina tiba-tiba berceletuk, "Ma, tadi malam Ghina lihat ada paket besar lagi di depan pintu samping. Isinya apa? Jangan-jangan stok sirup buat sebulan?"
Anindya tersenyum misterius. "Itu rahasia Mama dan Maryam. Pokoknya itu investasi untuk kenyamanan kita selama Ramadhan."
Aisyah menghela napas. "Ma, Aisyah sudah hitung pengeluaran minggu ini. Kalau kita terus-terusan beli paket 'investasi', nanti tabungan buat bagi-bagi THR ke paman kurir bisa berkurang, lho."
"Tenang, Kak Aisyah," sela Maryam pelan. "Itu isinya lampu hias warm white dan beberapa bantal duduk untuk kita tadarus di ruang tengah. Supaya kita betah lama-lama baca Al-Qur'an."
Mendengar alasan religius itu, Lev tidak bisa mendebat. "Kalau buat ibadah, Abah dukung. Tapi ingat, Muezza jangan dikasih bantal baru lagi, bantal dia sudah lebih banyak dari bantal Rayyan."
Muezza, yang seolah mengerti namanya disebut, melompat ke kursi kosong di samping Rayyan, membuat Rayyan tertawa kegirangan. "Abah, Muezza mau ikut sahur juga!"
Setelah sahur selesai dan adzan Subuh berkumandang dari Masjid Sabilal Muhtadin, keluarga ini berangkat bersama untuk shalat berjamaah. Berjalan kaki di pagi buta menyusuri trotoar Pierre Tendean memberikan ketenangan tersendiri. Rayyan menggandeng tangan ayahnya, sementara para perempuan berjalan di belakang sambil sesekali menyapa tetangga.
"Eh, Bu Anindya! Tadi paket mukenanya sudah dicoba? Bagus sekali warnanya di postingan Instagram kemarin!" sapa seorang ibu tetangga.
Anindya tersenyum bangga. "Alhamdulillah, Bu. Nanti sore mampir ke rumah ya, ada giveaway kecil-kecilan buat ibu-ibu majelis taklim."
Aisyah berbisik ke telinga Ghina, "Tuh kan, Mama sudah mulai lagi mode influencer-nya. Kita harus pastikan stok takjil sore ini cukup, karena pasti banyak tamu dadakan."
Siang harinya, tantangan sebenarnya dimulai. Banjarmasin sedang panas-panasnya. Rayyan yang baru kelas 2 SD mulai mondar-mandir di depan dispenser.
"Abah... apakah air di dalam dispenser itu dingin?" tanya Rayyan dengan wajah memelas.
Lev yang sedang sibuk mengetik barisan kode di laptopnya menoleh. "Dingin, Ray. Tapi lebih dingin lagi kalau Rayyan sabar sampai jam enam sore nanti. Bagaimana kalau kita baca buku cerita tentang Nabi Sulaiman dan semut? Atau bantu Maryam mewarnai kaligrafi?"
Untuk mengalihkan perhatian Rayyan, Aisyah mengajak adiknya itu menyiapkan "Takjil Berbagi". Di Banjarmasin, tradisi berbagi makanan saat Ramadhan sangat kental. Mereka menyiapkan wadah-wadah berisi Wadai Bingka dan Pundut Nasi untuk diantarkan ke masjid terdekat.
"Ini namanya manajemen pahala, Rayyan," jelas Aisyah sambil memasukkan kue ke dalam kotak. "Daripada kita cuma menunggu waktu buka sambil lemas, lebih baik kita buat orang lain senang saat berbuka."
Sore harinya, Jalan Pierre Tendean berubah menjadi pasar kaget. Aroma ikan bakar, harumnya kayu manis dari kuah santan, dan suara riuh rendah warga yang berburu takjil menciptakan atmosfer yang luar biasa. Ghina sibuk merekam suasana itu. "Hai followers! Lihat nih, kemacetan paling menyenangkan di Banjarmasin cuma ada di bulan Ramadhan!"
Saat waktu berbuka hampir tiba, keluarga itu sudah duduk melingkar di ruang tengah yang kini sudah dihias lampu cantik kiriman paket kemarin. Maryam benar, suasana menjadi sangat nyaman. Muezza pun meringkuk tenang di pojok ruangan, seolah menghormati kesakralan momen tersebut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara sirine dan adzan menggema. Rayyan langsung menyambar gelas es buahnya dengan mata berbinar. Lev tersenyum melihat keluarganya. Meskipun rumah mereka seringkali kacau oleh urusan duniawi dan paket-paket online, di saat seperti ini, semuanya melebur dalam rasa syukur yang sama.
"Alhamdulillah," ucap Lev setelah membatalkan puasanya dengan sebutir kurma. "Hari pertama sukses. Tapi ingat, tantangan sebenarnya adalah konsistensi. Terutama konsistensi untuk tidak belanja barang yang tidak perlu di minggu kedua nanti, ya kan, Ma?"
Anindya hanya menyengir sambil mencicipi Bingka Barandam-nya. "Tergantung diskon flash sale malam ini, Bah!"
Aisyah dan Maryam hanya bisa saling pandang dan tertawa, sementara Muezza mengeong keras, seolah menagih jatah "buka puasa" berupa camilan kucing premium yang baru saja datang sore tadi. Ramadhan di Kota Seribu Sungai baru saja dimulai, dan petualangan keluarga Ryley dipastikan akan semakin seru di hari-hari mendatang.
