Martapura, Maret 1795 Masehi
Persiapan keberangkatan mencapai puncaknya. Kabar bahwa seorang juru tulis Kesultanan akan membawa anak istri berlayar ke Mekah telah menjadi buah bibir di Pasar Martapura. Bagi masyarakat tahun 1795, pergi haji adalah perjalanan antara hidup dan mati. Banyak yang berangkat, namun tak sedikit yang namanya hanya kembali lewat nisan kayu.
Namun, di kediaman Muhammad Hifni, suasana justru lebih mirip persiapan pesta daripada keberangkatan yang mencekam.
"Rina, kenapa kau membawa lima kamus kecil buatan tanganmu sendiri?" tanya Hifni sambil menatap tumpukan kertas yang dijahit rapi dengan benang rotan.
Rina Rufida sedang sibuk menguncir rambut Khalisa. Ia menoleh dengan binar mata yang ambisius. "Abah, kita akan melewati Malaka dan singgah di Aceh. Di sana banyak kapal-kapal dari Inggris dan Belanda. Kalau kita butuh bantuan atau ingin menukar rempah dengan kain, bahasa adalah kuncinya! Knowledge is power, Abah."
Hifni menghela napas. "Tapi kita ke Mekah untuk ibadah, bukan untuk menjadi penerjemah Sultan."
"Sambil menyelam minum air, Abah. Lagipula, aku sedang melatih Khalisa," sahut Rina. Ia kemudian berbalik ke arah putrinya yang sedang asyik memakan pisang goreng. "Khalisa, what do you say if you want to ask for water?"
Khalisa menelan pisangnya pelan-pelan, matanya berkedip lucu. "Ummi... water please? Tapi kalau di kapal naganya tidak mengerti Inggris, Khalisa kasih pisang saja ya?"
Hifni tertawa terpingkal-pingkal hingga pecinya hampir jatuh. "Tuh, kan! Bahkan anakmu lebih praktis pemikirannya."
Sore itu, mereka berjalan ke tepi Sungai Martapura untuk memantau perahu jukung yang akan membawa mereka menuju pelabuhan besar di muara. Di dermaga kayu yang lapuk, mereka bertemu dengan Tuan Smithson, seorang mualaf berkebangsaan Inggris yang bekerja sebagai pemandu navigasi untuk kapal-kapal dagang Kesultanan.
Rina langsung memasang wajah "profesional"-nya. Ia mendekati Tuan Smithson sementara Hifni berjaga di belakang dengan ekspresi was-was.
"Excuse me, Mr. Smithson," sapa Rina dengan logat Banjar yang kental. "Is the weather... good for... sailing tomorrow?"
Tuan Smithson tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar. "Madam, your English is quite surprising! Yes, the wind is blowing south. It’s a good start for your journey."
Rina berbalik ke arah Hifni dengan wajah penuh kemenangan. "Dengar itu, Abah? Dia bilang anginnya bagus! Kalau aku tidak bertanya dalam bahasa Inggris, mungkin dia hanya akan mengangguk-angguk saja."
Hifni hanya bisa menggelengkan kepala. "Iya, iya. Tapi gara-gara kau sibuk pamer bahasa Inggris, kau lupa kalau ulekan batumu tadi tertinggal di gerobak pasar!"
"Hah?! Ulekanku!" Rina langsung panik dan berlari kembali ke arah pasar, mengangkat rok kainnya sedikit agar bisa lari lebih cepat, meninggalkan Hifni yang tertawa dan Khalisa yang bersorak, "Ummi lari! Ummi running!"
Maret 2026
Zain menutup buku catatan itu sambil mengusap air mata karena tertawa. Di loteng yang berdebu itu, ia merasa seolah mengenal sosok nenek buyutnya secara pribadi. Rina Rufida bukan hanya seorang istri, dia adalah bumbu dalam perjalanan berat itu.
Zain kemudian membuka laptopnya. Sebagai seorang konten kreator, ia mulai mengetik draf untuk blog pribadinya yang ia beri judul: "PNS Martapura 1795: Membawa Istri 'English-Speaker' ke Tanah Suci".
Ia menambahkan catatan di bawah drafnya:
Di tahun 1795, saat mayoritas orang masih takut dengan laut, Nenek Rina sudah berani mempraktikkan 'English' di dermaga Martapura demi sebuah ulekan sambal. Pelajaran hari ini: Jangan pernah meremehkan tekad wanita Banjar yang ingin makan pedas di luar negeri.
Postingan Zain di media sosial kembali meledak. Seorang profesor sejarah bahkan mengomentari unggahannya: "Ini adalah bukti literasi perempuan Banjar di abad ke-18 yang luar biasa. Lanjutkan ceritanya, Zain!"
Zain tersenyum. Ia tidak sabar membaca bab selanjutnya tentang bagaimana mereka pertama kali menginjakkan kaki di kapal besar.
Intip Bab 4 (April 2026):
Kejadian Tak Terduga: Khalisa secara tidak sengaja melepaskan ayam peliharaan milik kapten kapal di hari pertama berlayar.
Drama Kamar: Hifni harus berbagi ruang sempit dengan jemaah dari berbagai daerah yang punya kebiasaan tidur mendengkur.
Mabuk Laut: Rina Rufida menemukan bahwa bahasa Inggris tidak bisa menyembuhkan rasa mual akibat ombak besar.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Pernahkah kalian merasa sok tahu saat menggunakan bahasa asing di tempat baru? Ceritakan pengalaman kocak kalian!"
Sampai jumpa di Bab 4 pada bulan April 2026!
