Martapura & Muara Banjar, April 1795 Masehi
Hari keberangkatan yang sesungguhnya tiba. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur ketika Muhammad Hifni, Rina Rufida, dan si kecil Khalisa berdiri di dermaga muara, tempat kapal dagang besar bernama “Bintang Samudera” bersandar. Kapal itu adalah sebuah Galleon kayu raksasa yang aromanya merupakan campuran antara kayu jati, rempah-rempah, dan amis air garam.
Hifni memegang erat tali tasnya, sementara tangan satunya menggandeng Khalisa. "Ingat, Rina, begitu naik ke atas, jangan lepaskan tangan Khalisa. Kapal ini bukan rumah panggung kita yang diam," pesan Hifni dengan wajah yang sedikit pucat melihat ombak muara yang mulai bergejolak.
Rina, yang mengenakan kerudung lebar dan memeluk ulekan batunya seperti memeluk bayi, mengangguk mantap. "Don't worry, Abah. I am ready. Khalisa, siap naik 'naga' besar?"
Khalisa menatap kapal itu dengan mata membelalak. "Abah, naganya punya banyak sayap!" serunya menunjuk layar-layar putih yang sedang dikembangkan. "Tapi kenapa naganya tidak punya api?"
"Karena naganya sudah minum air sungai banyak-banyak, Sayang," jawab Hifni asal, yang penting anaknya tidak takut.
Begitu menginjakkan kaki di dek kapal, kekacauan pertama dimulai. Kapten kapal, seorang pria keturunan Bugis-Arab bernama Kapten Daeng Malaka, sedang mengawasi pemindahan logistik. Secara tidak sengaja, Khalisa yang penasaran mendekati sebuah kurungan kayu di pojok dek.
"Oh, chicken!" seru Khalisa, mempraktikkan kosakata yang baru diajarkan ibunya.
Dengan jemari kecilnya yang lincah, ia membuka selot kurungan itu. Seketika, dua ekor ayam jantan milik Kapten—yang rencananya akan jadi santapan spesial saat mencapai Malaka—terbang keluar sambil berkokok keras, hinggap di kepala seorang pelaut, lalu lari ke arah kemudi.
"Astaga! Ayamku!" teriak Kapten Daeng. "Siapa yang melepas penatua makan malamku?!"
Hifni membeku. Rina langsung beraksi. Dengan kecepatan kilat, ia mendekati Kapten dan berkata dengan suara tenang namun tegas, "I am so sorry, Captain. My daughter... dia hanya ingin berteman dengan your chicken."
Kapten Daeng menoleh, bingung mendengar kata-kata asing yang terselip. "Apa? Siken? Madam, ini ayam petarung, bukan teman bermain!"
Hifni segera menengahi sambil membungkuk berkali-kali. "Maafkan putri kami, Kapten. Sebagai gantinya, istri saya akan membantu juru masak Anda meracik bumbu agar ayam itu nanti rasanya seperti masakan surga."
Rina menyikut Hifni. "Abah! Kau menjanjikan tenagaku?"
"Ini demi diplomasi, Rina! Daripada kita diturunkan di tengah laut?" bisik Hifni panik.
Akhirnya, suasana mereda setelah ayam ditangkap kembali. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai saat mereka masuk ke ruang bawah (dek penumpang). Ruangannya sempit, pengap, dan dipenuhi oleh jemaah lain dari berbagai pelosok Nusantara. Ada yang sibuk berzikir, ada yang mabuk laut padahal kapal belum berangkat, dan ada pula yang mendengkur sekeras suara meriam.
Rina menatap sudut sempit yang akan menjadi "rumah" mereka selama berbulan-bulan. "Abah, this is small," bisiknya.
Hifni tersenyum, mencoba menghibur. "Di hadapan Allah, kita semua kecil, Rina. Setidaknya di sini tidak ada debu loteng."
Malam pertamanya di laut, kapal mulai bergoyang hebat. Khalisa tidur dengan pulas, namun Hifni dan Rina terjaga. Rina memeluk ulekan batunya erat-erat, bukan karena takut kehilangan, tapi karena ulekan itu adalah satu-satunya benda yang terasa diam di tengah dunia yang berguncang.
April 2026
Zain tertawa kecil saat membaca bagian "Drama Ayam" di catatan kakek buyutnya. Ia sedang berada di sebuah kafe di pusat kota Banjarmasin, mengetik kelanjutan artikelnya di laptop.
"Ternyata, sifat troublemaker aku ini turunan dari Nenek Khalisa," gumam Zain.
Ia memandangi foto ulekan batu kuno yang sekarang dipajang di ruang tamu rumah ibunya. Siapa sangka benda itu punya sejarah diplomatik dengan seorang kapten kapal Bugis di tahun 1795.
Zain menulis di akun media sosialnya:
“Update Bab 4: Hari pertama di kapal, kakek buyutku hampir dibuang ke laut gara-gara ayam kapten. Pelajaran: Jangan biarkan anak kecil berumur 5 tahun sendirian di dekat kandang logistik kapal layar. #Haji1795 #KisahZain #MartapuraMemories”
Seorang pengikutnya berkomentar: "Zain, tanyakan pada ibumu, apa resep rahasia sambal Nenek Rina yang dijanjikan pada kapten itu? Aku ingin mencobanya di tahun 2026!"
Zain tersenyum. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan ia merasa seolah ikut terombang-ambing di atas Bintang Samudera.
Intip Bab 5 (Mei 2026):
Ba-papadah di Tengah Laut: Upacara adat singkat yang dilakukan jemaah Banjar saat kapal benar-benar kehilangan kontak dengan daratan.
Mabuk Laut Rina: Saat bahasa Inggris tidak lagi berguna untuk menahan rasa mual.
Hifni sang Guru: Hifni mulai mengajar mengaji anak-anak di dek kapal untuk mengalihkan rasa takut.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Apa barang paling aneh yang pernah kalian bawa saat bepergian jauh? Apakah seaneh ulekan batu Nenek Rina?"
Sampai jumpa di Bab 5 pada bulan Mei 2026!
