Malam mulai merayap saat mobil Faris meninggalkan keramaian Pantai Takisung. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Batakan, yang jaraknya tak terlalu jauh, masih di Kabupaten Tanah Laut. Suasana di dalam mobil terasa hangat, meskipun di luar mulai gelap. Zahra sudah live di media sosialnya, menceritakan insiden topi dan blooper Faris jatuh di pasir.
"Pokoknya, perjalanan ini seru banget! Stay tune buat episode camping kita di Batakan!" serunya penuh energi.
Aisyah mengecek peta digital di ponselnya. "Jalanan menuju Batakan sedikit menantang, Ris. Hati-hati."
Faris hanya mengangguk santai. "Tenang, ini Kalimantan, Sis. Jalanan begini sudah makanan sehari-hari."
Setibanya di Pantai Batakan, suasana langsung terasa berbeda. Pantai ini lebih sepi, lebih alami, dan udaranya terasa lebih segar. Tidak ada keramaian kafe atau pedagang suvenir sebanyak di Takisung. Hanya ada suara debur ombak yang konsisten dan semilir angin malam.
"Wah, feeling gue kuat, ini tempatnya lebih asyik buat deep talk," ujar Lev, mengeluarkan ranselnya dari bagasi.
Mereka berencana untuk camping di sini. Faris dan Lev sibuk menurunkan tenda dan peralatan masak, sementara Aisyah mengeluarkan perbekalan makanan halal yang sudah disiapkan rapi dalam wadah tupperware. Zahra? Dia sibuk mencari angle terbaik untuk merekam proses mendirikan tenda.
"Oke guys, tutorial camping Islami anti-ribet ala Zahra!" teriaknya ke kamera.
Kekacauan komedi pun dimulai. Zahra yang sok tahu soal pasang-pasang tenda, malah salah memasang tiang, membuat tenda mereka miring sebelah dan hampir roboh menimpa Aisyah yang sedang sibuk merapikan matras.
"Zahra! Bisa nggak sih sehari aja nggak bikin bencana?" gerutu Aisyah, beruntung berhasil menghindar tepat waktu.
Faris dan Lev tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi panik Zahra. Faris, dengan santainya, mengambil alih tugas itu. "Sini, sini. Biar ahlinya yang turun tangan."
Dalam waktu singkat, dua tenda berdiri kokoh. Satu tenda untuk Lev dan Faris, satu lagi untuk Aisyah dan Zahra. Mereka kemudian menyalakan api unggun kecil. Kehangatan api di tengah dinginnya malam pantai terasa menenangkan. Aisyah mulai memasak mi instan halal dengan bumbu tambahan yang dibawa dari Banjarmasin, aromanya mengundang selera.
Di bawah langit Batakan yang bertabur bintang, mereka duduk melingkar. Faris, yang ternyata punya pengetahuan luas tentang sejarah lokal, mulai bercerita. "Pantai Batakan ini punya sejarah panjang. Dulu, tempat ini sering jadi lokasi pertemuan para pejuang Banjar. Ada juga jejak-jejak perahu dagang kuno di sini."
Lev mendengarkan dengan saksama. "Wah, keren. Jadi setiap tempat di sini tuh punya ceritanya sendiri, ya."
Obrolan mereka berlanjut ke makna ukhuwah (persaudaraan) dalam Islam. Suasana sepi Batakan memberikan ruang untuk refleksi mendalam. Mereka sadar bahwa perjalanan ini bukan hanya soal destinasi, tapi soal saling menjaga, mendukung, dan mengingatkan dalam kebaikan.
"Perjalanan ini nguji persahabatan kita banget, dari insiden topi sampai tenda miring tadi," kata Zahra, yang sudah kembali ceria sambil menyeruput mi hangatnya. "Tapi di sini kita belajar, saling back up itu penting. Kayak kata Rasulullah, kita itu satu tubuh."
Malam semakin larut. Debur ombak menjadi pengantar tidur. Di Pantai Batakan yang sunyi, persahabatan mereka diuji dan diperkuat. Mereka belajar bahwa ukhuwah yang didasari iman adalah bekal terbaik, bukan hanya untuk perjalanan ini, tetapi untuk kehidupan bermasyarakat yang harmonis saat mereka kembali nanti. Mereka tidur dengan hati yang damai, siap menyambut tantangan hiking menuju pantai tersembunyi esok paginya.
